Bukan Asal Bikin Prompt: Cara Menghasilkan Tulisan AI yang Berjiwa dan Berkualitas

M. Reza Sulaiman | Hafsah H.
Bukan Asal Bikin Prompt: Cara Menghasilkan Tulisan AI yang Berjiwa dan Berkualitas
Ilustrasi Penulis Wattpad (Pexels/Christina Morillo)

Fenomena penulis AI sering kali dipandang sebelah mata. Banyak yang mengira bahwa dengan adanya teknologi seperti AI, proses kreatif menjadi instan. Hanya bermodalkan klik, lalu selesai.

Namun, realitasnya tidak sesederhana itu. Menulis dengan bantuan AI tetaplah sebuah keterampilan yang membutuhkan "jam terbang", rasa, dan logika yang kuat. Jadi, kita tidak bisa menganggap remeh penulis yang mengandalkan bantuan AI. Pada akhirnya, AI hanyalah alat bantu karena kualitas tulisan tetap bergantung pada siapa yang memegang kendali.

Berikut adalah opini mendalam mengapa menjadi penulis AI yang berkualitas itu sulit dan memerlukan ilmu yang tidak sembarangan:

1. Kendala Prompt dan Hilangnya Jiwa dalam Tulisan

Banyak orang mencoba menggunakan AI, tetapi berakhir kecewa karena hasilnya terasa kaku, robotik, dan tidak nge-feel. Masalah utamanya ada pada kemampuan menyusun prompt.

Menulis prompt bukan sekadar memberi perintah pendek, melainkan memberi konteks, gaya bahasa, hingga emosi yang diinginkan. Penulis AI yang tidak berpengalaman cenderung menerima mentah-mentah apa yang dihasilkan mesin. Akibatnya, tulisan tersebut kehilangan sentuhan manusiawi atau human touch.

Sebaliknya, penulis AI yang ahli tahu cara memancing kecerdasan buatan ini agar bisa menghasilkan diksi yang lebih mengalir dan natural. Mereka paham bahwa AI butuh diarahkan agar tidak terjebak dalam pola kalimat yang repetitif. Tanpa pemahaman prompt yang dalam, tulisan AI hanyalah tumpukan kata tanpa nyawa.

2. Risiko Misinformasi dan Pentingnya Verifikasi

AI bekerja berdasarkan pola data, bukan kebenaran mutlak. Inilah alasan mengapa tidak semua hal bisa ditulis menggunakan AI. Ada risiko besar berupa halusinasi informasi, di mana AI bisa memberikan data yang terlihat meyakinkan padahal salah total. Oleh karena itu, kita perlu mengecek ulang agar tidak menjadi penulis "halusinatif".

Seorang penulis AI yang bertanggung jawab tidak akan langsung memublikasikan hasil draf pertama. Mereka harus melakukan fact-checking yang ketat. Mengandalkan AI tanpa pengecekan ulang adalah awal dari kehancuran, baik bagi reputasi penulis maupun risiko penyebaran hoaks. Penulis tetap memegang peran sebagai "kurator kebenaran".

Jadi, ilmu untuk membedakan mana informasi yang valid dan mana yang sekadar karangan mesin adalah keahlian krusial yang tidak dimiliki semua orang.

3. Strategi Konten: AI Tidak Menjamin "Laku"

Memiliki tulisan yang rapi berkat bantuan AI bukan jaminan konten tersebut akan meledak di pasaran atau disukai pembaca. Ada banyak faktor eksternal yang harus dipahami oleh penulis.

Pertama, syarat dan ketentuan platform. Setiap platform (seperti Google, Medium, atau media sosial) memiliki algoritma dan aturan main sendiri terhadap konten yang mereka terbitkan. Salah langkah sedikit, tulisan bisa terkena shadowban, dianggap spam, atau tidak memenuhi kaidah yang diinginkan platform.

Kedua adalah tren dan relevansi. AI sering kali memiliki keterbatasan data waktu real-time. Jika penulis tidak peka terhadap tren yang sedang hangat atau isu yang sudah basi, tulisan tersebut hanya akan menjadi sampah digital.

Terakhir, struktur dan psikologi pembaca. Menyusun alur cerita atau artikel agar pembaca betah sampai akhir adalah ilmu tersendiri. Salah menyusun struktur tulisan, meskipun bahasanya bagus, tetap akan membuat pembaca berpaling.

Menjadi penulis di era AI justru memberikan tantangan baru. Kita dituntut untuk menjadi manajer konten, editor, sekaligus ahli strategi pada saat yang bersamaan. Menggunakan AI bukan berarti malas karena itu adalah bentuk adaptasi zaman. Namun, hasil yang berkualitas tetap membutuhkan intuisi manusia yang tidak bisa digantikan oleh kecanggihan mesin mana pun.

Jadi, berhentilah meremehkan mereka yang menggunakan AI. Sebab, di balik tulisan AI yang bagus, ada penulis cerdas yang tahu cara meramu teknologi, logika, dan rasa menjadi satu kesatuan yang utuh.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak