Demi Tuhan, mengganti judul tesis itu mengerikan. Ini adalah kali ke-
Ah, aku bahkan sudah tidak lagi mengingat sudah berapa kali Pak Heri, dosen pembimbingku, memanggilku guna diskusi dalam perubahan materi penelitian. Aku menghela napas lelah sambil berjalan gontai, sama sekali merasa tidak nyaman. Walaupun ruang dosen organik ini ber-AC—melegakan tubuhku yang mudah sekali berkeringat—tetapi jika keadaannya sudah begini, aku tetap merasa gerah.
Semangatku terjun bebas tanpa penolong. Mau tidak mau, aku harus kembali berhadapan dengan sederet botol kimia di laboratorium. Namun, masalah terbesar dari semua ini bukan botol kimia itu, melainkan waktuku yang hanya tersisa dua bulan. Sempitnya waktu yang kumiliki tidak sebanding dengan banyaknya pekerjaan yang harus kuselesaikan. Itu pun belum termasuk penyusunan naskah dan jadwal konsultasi dengan kedua dosen pembimbing.
Aku melirik sekilas ruangan berpintu cokelat di sebelah kananku. Terdapat tulisan "Laboratorium Kimia Organik dan Biokimia" di atas pintu. Haruskah aku menginap di laboratorium untuk menyelesaikan penelitian yang tenggat waktunya semakin dekat? Merasa tidak memiliki pilihan lain, kakiku pun mulai menuruni tangga, melangkah menuju ruang kemahasiswaan untuk mengurus surat lembur penelitian.
Aku harus bergerak cepat dan segera kembali ke lantai dua guna meminta tanda tangan Pak Heri sebelum pria berusia lima puluh tahun itu pergi. Meskipun sekarang masih pukul 14.30, dosen pembimbingku itu kerap meninggalkan fakultas untuk menyelesaikan urusannya di gedung penelitian terpadu atau mengajar hingga hampir magrib. Aku tidak mau menunggu selama itu.
Sekembalinya aku ke lantai dua, tepatnya di ruang dosen, aku tidak melihat Pak Heri di mana pun. Sial, dugaanku benar. Dosenku itu sangat mahir untuk menghilang jika sedang dibutuhkan seperti ini.
"Vi, kamu lihat Pak Heri?" tanyaku pada Yuvina, salah seorang temanku yang dari tadi duduk di depan ruang dosen organik.
"Pak Heri sedang mengajar. Kelas terakhir hari ini." Yuvina menunjuk ruang sidang yang terletak di dekat ruang dosen dengan dagunya.
Aku pun menghela napas kecewa. Meskipun sudah buru-buru, nyatanya aku masih kalah cepat. Pak Heri telah kembali mengajar. Aku pun mengambil tempat di sisi gadis itu. Setidaknya Pak Heri belum pulang, aku mencoba menghibur diri.
"Mau minta tanda tangan, Fresh?" tanya Yuvina saat melihat kertas yang kubawa.
Aku pun mengangguk. "Aku ganti judul lagi dan..."
"What?! Freshy Agatha ganti judul lagi?"
Aku tidak menanggapi keterkejutan gadis itu dan memilih menekuri keramik di bawah sepatu ketsku.
"Kita sudah tidak punya waktu buat ngelab. Dua bulan hanya untuk menulis naskah saja sepertinya kurang."
Aku membenarkan ucapannya. Setelahnya, aku mengambil ponsel pintar dan menyambungkannya dengan saluran Wi-Fi. Baru hendak berselancar di jejaring sosial, Yuvina kembali mengajakku bicara.
"Kenapa ganti judul lagi, Fresh? Bukannya yang kemarin sudah hampir rampung?"
Dari gelagatnya yang santai, aku bisa menebak sepertinya gadis itu punya banyak waktu untuk mendengar ceritaku. Melupakan ponsel yang terhubung dengan jaringan Wi-Fi, tanpa diperintah, aku pun mencurahkan isi hatiku pada gadis kurus itu. Yuvina mendengarkan dengan patuh.
Sesekali, manik kelamnya menatap iba. Namun terkadang, ia juga merasa kesal dengan dosen pembimbingku yang seolah menganaktirikanku. Berbanding terbalik dengan teman-teman satu bimbingan yang lain. Pasalnya, teman-temanku yang lain mendapat perhatian lebih dengan dibantu dalam pengerjaan jurnal terindeks Scopus, salah satu syarat kelulusan selain tesis. Sementara aku, jangankan jurnal, nasib tugas akhirku saja masih abu-abu. Aku mendesah frustrasi, merenggangkan otot, dan mulai berdiri.
Aku bosan jika harus berdiam diri lebih lama lagi. Sekarang giliran gadis itu yang mulai bicara, menanggapi novel kehidupanku. Telingaku setia mencerna setiap kosakata gadis itu, tetapi tidak dengan kakiku yang tidak bisa diam dengan mondar-mandir di depan Yuvina.
Satu jam telah berlalu begitu saja. Yuvina benar-benar sukarela menemaniku menunggu Pak Heri hingga selesai mengajar. Jika dihitung-hitung, pria tambun itu akan selesai mengajar dalam tiga puluh menit lagi. Aku mencoba bersabar, sedikit lagi.
"Aku mau ke situ sebentar," pamitku pada Yuvina sambil menunjuk ruang sidang.
Ketika aku menjauh dari bangku panjang di depan ruang dosen, Yuvina mengekoriku. Dari jarak kurang dari satu meter di depan ruang sidang, kami bisa mendengar suara Pak Heri dan para mahasiswanya. Kami pun bertukar tatap seolah mengatakan, "Berisik banget, ya."
Setelahnya, Yuvina bersuara. "Fresh, aku ke toilet dulu, ya," pamit gadis itu sambil menunjuk ujung koridor, tempat toilet mahasiswa wanita berada.
Kami pun berjalan berlawanan arah. Aku kembali duduk di bangku kosong di depan ruang dosen, sementara Yuvina menyelesaikan hajatnya. Ingin rasanya membunuh waktu dengan hal berguna. Mencari dan membaca jurnal yang setopik dengan judul tesisku yang baru, misalnya. Namun, aku benar-benar sedang kehilangan fokus sekarang.
Sambil menunggu Yuvina kembali, aku pun meraih gawai dan mulai membuka laman Instagram. Di pojok kiri atas, di samping foto profilku, aku melihat profil Yuvina. Spontan, ibu jariku mengeklik status gadis itu. Mataku menangkap unggahannya sekitar tiga jam yang lalu. Yuvina sedang berada di Mie Kober, Semolowaru, Surabaya, bersama dengan Pipit, Krisna, Maria, dan Arjun.
Jika Yuvina sedang tidak di kampus, lalu siapa yang dari tadi duduk menemaniku di sini?
Sontak, bulu kudukku meremang. Tanganku bergetar. Dulu, Pipit dan Maria pernah menceritakan tentang hal-hal mistis di fakultas ini. Seperti misalnya, ada mahasiswa berbaju merah yang sedang menimbang bahan kimia. Namun, ketika dilihat lagi, mahasiswa itu mendadak hilang dari pandangan. Hal itu tidak terjadi satu atau dua kali, melainkan beberapa kali. Anehnya, gadis misterius itu selalu mengenakan kemeja merah dan selalu berada di samping timbangan bahan. Aku tidak pernah melihatnya secara langsung, tetapi hanya dari mendengar ceritanya saja sudah membuatku tidak nyaman.
Aku menepis pikiran negatif dan kembali melihat laman Instagram. Yuvina mengunggah beberapa snapgram. Di status kedua gadis itu, ia telah pulang dari Mie Kober dan tengah berada di kamar kosnya. Unggahan itu sekitar satu jam yang lalu. Dan yang terakhir, foto minuman boba yang ia pesan melalui ojek daring, sekitar tiga puluh menit yang lalu.
Dengan jari sedikit bergetar, aku pun mengetik komentar pada status gadis itu.
Freshy Agatha: Pulang kampus jam berapa, Vi?
Yuvina Amelia: Aku hari ini sama sekali tidak ke kampus, Fres. Ambil jatah bolos, hehe.
Deg!
Bulu romaku semakin menegang setelah membaca pesan gadis itu. Aku pun cepat-cepat berdiri hingga tidak menyadari keberadaan Mas Rahmat, laboran, yang entah sejak kapan berdiri di sampingku.
"Astaghfirullah, Mas! Mengagetkan saja!" Degup tak beraturan jantungku menjalar di tangan kanan yang kuletakkan di dada. Aku benar-benar kaget.
"Yah, kamu. Dari tadi saya panggil tetapi tidak dengar. Saya mau pulang. Kamu masih mau di laboratorium atau sudah mau pulang? Alat-alat kamu belum dibereskan tuh," celetuk pria tiga puluh tahun dalam kemeja batik itu.
Jas laboratoriumnya telah ia tanggalkan, penanda ia akan pulang sebentar lagi. Kulirik jam digital di layar ponsel genggam, sudah hampir jam empat. Memang sudah jadwalnya pulang, ternyata.
"Saya mau lembur, Mas. Tetapi mau minta tanda tangan Pak Heri dulu untuk surat izinnya," jawabku.
"Pak Heri? Kamu dari tadi menunggu Pak Heri?" tanya Mas Rahmat kaget.
Ia lalu melanjutkan ucapannya yang kembali membuat jantungku seakan terlempar dari ketinggian seratus meter. "Pak Heri mah sudah pulang dari tadi, Mbak Freshy. Tadi Beliau pamit pada saya."
"T-tapi saya dengar dari Yuvina kalau Pak Heri sedang mengajar di ruang sidang." Aku menelan saliva susah payah, mengingat fakta bahwa Yuvina hari ini tidak ke kampus.
"Dan ruang sidang juga kosong sejak siang," imbuh Mas Rahmat. "Tumben hari ini tidak ada dosen atau mahasiswa yang memakai ruangan itu. Mbak Freshy ada-ada saja deh. Lebih baik, kan, menyicil menulis tesis daripada melamun sendirian di depan ruang dosen."
"T-tapi saya dari tadi tidak sendirian, Mas. Saya sama Yuvina," ucapku mengoreksi.
"Saya dari tadi mondar-mandir di sini dan melihat Mbak Freshy sendirian sambil melamun. Mungkin lebih dari satu jam Mbak melamun. Awas kesambet lho, Mbak!"