Aurelie Moeremans Soroti Perubahan Cara Pandang Publik soal Child Grooming

Hayuning Ratri Hapsari | Rana Fayola R.
Aurelie Moeremans Soroti Perubahan Cara Pandang Publik soal Child Grooming
Aurelie Moeremans. (Instagram/aurelie)

Dalam buku bertajuk Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth tersebut, Aurelie Moeremans menceritakan secara mendalam bagaimana dirinya menjadi korban child grooming. Sang aktris kini menyoroti adanya pergeseran cara pandang masyarakat Indonesia yang kini dinilainya jauh lebih terbuka dan edukatif dalam menanggapi isu sensitif tersebut.

Melalui unggahan di media sosialnya pada Senin (12/1/2026), bintang film Baby Blues ini mengungkapkan perasaan leganya. Ia merasa bersyukur karena diskursus mengenai child grooming tidak lagi dianggap tabu seperti satu dekade lalu.

“Aku bersyukur dan senang banget lihat bagaimana Indonesia sudah berkembang,” ujar Aurelie melalui unggahan Story-nya, dikutip dari suara.com. 

Lebih lanjut, ia kemudian mengenang kembali masa-masa sulit saat pertama kali mencoba menyuarakan apa yang ia alami. Menurutnya, respons yang ia terima saat masih sangat muda jauh dari kata mendukung.

“Waktu aku masih sangat muda dan pertama kali coba speak up, respons masyarakat jauh berbeda dengan sekarang,” ungkapnya.

Namun sekarang perempuan blesteran itu merasakan adanya perbedaan yang kontras antara iklim sosial masa lalu dengan masa kini.

Pada masa tersebut, Aurelie merasa suara korban sering kali tidak mendapatkan ruang yang layak di mata publik. Ia kerap merasa bahwa perspektif korban justru dikesampingkan atau tidak dianggap penting.

“Dulu, suara korban sering tenggelam, disalahkan, atau dipelintir. Banyak hal penting justru luput dari perhatian,” lanjutnya. 

Lalu seiring berjalannya waktu, ia melihat adanya perubahan signifikan. Masyarakat Indonesia dianggapnya sudah mulai meninggalkan kebiasaan menyalahkan korban (victim blaming) dalam kasus-kasus kekerasan seksual dan manipulasi.

“Hari ini, aku melihat perubahan itu. Lebih banyak kesadaran tentang grooming,” tutur perempuan yang kini tengah menanti kelahiran anak pertamanya tersebut.

Dinamika di Balik Kehadiran Memoar Broken Strings

Meskipun dalam bukunya Aurelie tidak menyebutkan nama pelaku secara eksplisit dan hanya menggunakan inisial "Bobby", publik ramai mengaitkannya dengan sosok Roby Tremonti. Hal ini didasarkan pada deskripsi mengenai manipulasi emosional dan hubungan toksik yang terjadi saat Aurelie masih berusia 15 tahun.

Menanggapi ramainya spekulasi netizen, Roby Tremonti muncul dengan pembelaan diri melalui media sosial. Ia mengunggah kutipan hukum terkait pencemaran nama baik dan mengklaim bahwa buku tersebut adalah bentuk cancel culture untuk menjatuhkan reputasinya.

Roby bahkan melampirkan dokumen yang diklaim sebagai bukti pernikahan sah untuk menyanggah narasi dalam buku tersebut. Namun, Aurelie dengan tegas menyatakan bahwa tujuan utama penulisan memoar ini adalah untuk edukasi mengenai bahaya grooming, bukan untuk menyerang pribadi tertentu.

Dukungan terhadap Aurelie juga datang dari rekan sesama artis, salah satunya Hesti Purwadinata. Hesti secara terbuka menunjukkan solidaritas dengan membagikan ulang postingan Aurelie, meskipun tindakan tersebut kabarnya berujung pada ancaman dari pihak yang tidak dikenal.

Bagi Aurelie, pergeseran cara pandang ini adalah sebuah kemajuan besar bagi kesehatan mental masyarakat. Ia menilai orang-orang kini lebih mampu melihat akar masalah dari sisi relasi kuasa yang timpang.

“Lebih paham soal relasi kuasa. Lebih banyak empati, lebih sedikit penghakiman,” sambungnya.

Ia menegaskan bahwa perubahan ini bukanlah sesuatu yang remeh. Pengakuan publik terhadap trauma korban merupakan langkah awal dari pemulihan kolektif yang sangat berarti bagi para penyintas.

“Perubahan ini penting. Dan nyata,” tegas Aurelie.

Ia menyadari bahwa meski prosesnya lambat, arah perkembangan kesadaran publik di Indonesia sudah berada di jalur yang benar.

Aurelie menutup pernyataannya dengan memberikan semangat bagi siapa saja yang masih merasa ragu untuk berbicara. Ia berharap keberaniannya melalui Broken Strings dapat menjadi pemantik bagi keamanan ruang bicara bagi korban lainnya.

“Walaupun jalannya panjang, dan datangnya tidak cepat, aku tetap bersyukur bisa hidup di masa di mana cerita seperti ini akhirnya didengar dengan lebih utuh. Kalau hari ini kamu merasa sedikit lebih aman untuk bersuara, berarti kita sedang berjalan ke arah yang benar,” pungkasnya.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak