Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19

bunga putri d
Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19
Ilustrasi kesehatan mental. (Unsplash/Nik Shuliahin)

Traumatisasi bahkan stiga-stigma masyarak akan menimbulkan depresi ringan namun dapat membahayakan.

Suara.com -  Adanya pandemi Covid-19 ini tentunya menjadi kesan berbeda tersendiri bagi kaum milenial ataupun manusia  abad ini . Namun, pandemi Covid-19 bukanlah wabah pertama di muka bumi yang mengguncang dunia. Sejarah telah mencatat adanya wabah-wabah terdahulu yang juga mematikan, hanya saja kita terlalu abai bahkan sangat mudah percaya dengan berita yang beredar serta menstigma terhadap diri sendiri untuk takut dengan pandemi ini.

Padahal, ketakutan, kekhawatiran hanyalah akan menjadi masalah manusia berikutnya, seperti imunitas kemungkinan besar akan menurun, otak penuh dengan stigma negatif yang mengakibatkan kepala pusing, penuh beban, yang tentunya berakibat pada kesehatan tubuh, tak hanya itu, kesehatan mental pun ikut terpengaruh. Hal ini tentunya memiliki pengaruh bagi semua lapisan masyarakat yang turut serta merasakan adanya pandemi ini.

Baik dia seorang buruh, petani, pedagang, guru hingga para pemimpin sekalipun, bahkan di semua kalangan usia menjadi incaran akan virus Covid-19 ini. Tidak salahnya kita untuk waspada menghadapi pandemi ini, namun tetap dengan kewaspadaan yang bijak dan bedakan dengan ketakutan atau kekhawatiran yang berlebih. Oleh karena itu sangat dibutuhkan kepahaman masyarakat terkait kondisi yang sekarang sedang dialami dan langkah bijak dan aktivitas efektif guna penangan dan pencegahan pandemi virus Covid-19.

Di masa transisi sebagai mahasiswa saya pun cukup shock dalam berbagai keadaan. aktivitas-aktivitas sebagai mahasiswa yang baru saya jalani sekitar 6 bulan harus menuntut saya beradaptasi kembali di masa pandemi ini dengan aktivitas perkuliahan seperti biasanya namun terbatas pada media virtual atau daring.

Di awal perkuliahan daring tentunya menjadi pengalaman dan penuh kesan tersendiri. Namun, berlanjut ke perkuliahan-perkuliahan selanjutnya menimbulkan beban tersendiri, tugas semakin banyak, daring tetap berlanjut, disisi lain kita harus menjaga kesehatan imunitas tubuh.

Selain itu, akhir-akhir ini banyak sekali keluhan mengenai kesehatan mental dari teman-teman. Bahkan berdasarkan survei yang dilakukan oleh kaiser family foundation, sebuah organsasi yang berfokus pada masalah kesehatan nasional, serta peran AS dalam kebijakan kesehatan global, menunjukkan bahwa hampir setengah dari orang-orang di AS merasakan krisis Covid-19 yang mana merusak kesehatan mental mereka. 

Terkait dengan keluhan dan berbagai persoalan kesehatan, tentunya kita sudah familiar dengan berbagai upaya pencegahan penyebaran dan penanggulangan Covid-19, baik dari siaran media televisi, media sosial atau platfoam lainnya. Bahkan video-video beredar terkait cuci tangan yang baik, cara memakai atau membuat masker bahakan pembuatan hand sanitizer alami.

Namun, terlepas semua itu kita kurang memperhatikan sisi mental kita, dengan anjuran isolasi, self-quarantine, atau pun #dirumahaja tentunya membatasi aktivitas kita seperti biasanya. Pola aktivitas keseharian seolah terpaksa diubah oleh keadaan, yang mana perubahan ini membutuhkan adaptasi.

Meskipun anjuran tersebut sangat ditujukan bagi odp (orang dalam pemantauan), namun hal ini menjadi kekhawatiran bagi warga lain. Butuh pemahaman dan penyuluhan yang lebih lanjut lagi terkait hal ini. Tidak hanya itu saja, pemenuhan kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi juga menjadi problematika tersendiri bagi kepala keluaraga atau pun individu pencari nafkah.

Maka dari itu saya memiliki berbagai alternatif optional memperhatikan segala aspek dalam masyarakat akan kegiatan yang sebaiknya kita lakukan, apalagi terkhusus guna menanggulangi masalah kesehatan mental kita. Di antaranya, mengikuti kegiatan daring lain selain kegiatan perkuliahan.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS