Beberapa pekan terakhir, dunia kembali diingatkan akan ancaman penyakit mematikan setelah kasus infeksi virus Nipah (NiV) dilaporkan muncul di Benggala Barat, India. Meski tergolong jarang, virus ini mendapat perhatian serius dari para pakar kesehatan karena tingkat kematiannya yang sangat tinggi dan potensi penularannya jika tidak ditangani dengan tepat.
Virus Nipah bukan merupakan penyakit baru, namun setiap kemunculannya selalu memicu kewaspadaan global. Indonesia pun ikut meningkatkan kesiapsiagaan, mengingat pengalaman pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa penyakit menular lintas negara dapat berkembang dengan sangat cepat.
Apa Itu Virus Nipah?
Virus Nipah adalah virus zoonotik, yaitu virus yang ditularkan dari hewan ke manusia. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1998 di Malaysia. Kelelawar buah diketahui sebagai reservoir alami virus Nipah, tetapi penularan juga dapat terjadi melalui hewan perantara, produk hewani yang terkontaminasi, serta dalam kondisi tertentu, dapat menular antarmanusia.
Menurut kajian ilmiah yang dimuat dalam jurnal Farmaka, virus Nipah tergolong patogen berisiko tinggi karena dapat menyebabkan penyakit berat seperti gangguan pernapasan dan radang otak (ensefalitis), dengan angka kematian yang bisa mencapai lebih dari 50 persen pada beberapa wabah.
Fakta Penting Kasus Nipah di India
Laporan dari India menunjukkan bahwa kasus Nipah kembali muncul dengan gejala awal berupa demam mendadak, sakit kepala hebat, hingga gangguan pernapasan dan neurologis. Beberapa fakta penting yang perlu diketahui masyarakat:
- Virus Nipah tidak menular secepat COVID-19, tetapi jauh lebih mematikan.
- Tingkat kematian pada wabah-wabah sebelumnya tercatat sangat tinggi.
- Penanganan yang terlambat dapat berakibat fatal.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa meskipun kasusnya terbatas, dampak virus Nipah tidak bisa dianggap remeh.
Bagaimana Virus Nipah Menular?
Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui beberapa jalur utama:
- kontak langsung dengan hewan terinfeksi, terutama kelelawar buah atau ternak yang terpapar virus;
- makanan yang terkontaminasi, seperti buah yang telah dijilat atau tercemar air liur dan urin kelelawar; serta
- penularan antarmanusia, terutama melalui cairan tubuh penderita seperti air liur atau sekresi pernapasan, khususnya jika perawatan dilakukan tanpa alat pelindung diri (APD) yang memadai.
Oleh karena itu, kebersihan makanan dan proteksi diri menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Infeksi virus Nipah biasanya ditandai dengan:
- demam mendadak;
- sakit kepala hebat;
- nyeri otot;
- muntah;
- gangguan pernapasan; serta
- gangguan saraf hingga ensefalitis.
Gejala dapat muncul dalam rentang 4–14 hari setelah terpapar, meskipun pada beberapa kasus bisa lebih cepat atau lebih lambat.
Kesiapan Indonesia dan Deteksi Dini
Pemerintah Indonesia menyatakan siap siaga menghadapi potensi masuknya virus Nipah. Salah satu kunci pengendalian penyakit ini adalah deteksi dini melalui sistem surveilans nasional.
Di fasilitas kesehatan tingkat pertama, seperti puskesmas, penemuan kasus dilakukan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR). Sistem ini memantau peningkatan kasus dengan gejala mirip flu berat (influenza-like illness), pneumonia, dan ensefalitis. Jika terjadi lonjakan kasus yang tidak biasa, akan muncul sinyal kewaspadaan dini yang segera ditindaklanjuti.
Selain itu, rumah sakit rujukan juga menjalankan surveilans sentinel Penyakit Infeksi Emerging, terutama pada pasien dengan sindrom pernapasan akut berat, untuk memastikan tidak ada kasus Nipah yang terlewat.
Pemeriksaan Laboratorium: Aman dan Ketat
Virus Nipah termasuk patogen berisiko tinggi sehingga pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan standar keamanan yang sangat ketat. Tenaga kesehatan wajib menggunakan alat pelindung diri lengkap dan fasilitas laboratorium khusus.
Spesimen yang diperiksa meliputi swab saluran pernapasan, darah atau serum, cairan serebrospinal, dan urin. Semua sampel harus disimpan dalam kondisi dingin dan dikirim ke laboratorium rujukan nasional maksimal dalam waktu 24 jam. Metode utama yang digunakan adalah RT-PCR atau qPCR untuk mendeteksi materi genetik virus. Pemeriksaan serologi juga dilakukan untuk mendukung konfirmasi dan surveilans.
Belum Ada Vaksin, Pencegahan Jadi Andalan
Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk virus Nipah. Oleh karena itu, deteksi dini, isolasi cepat, dan pencegahan penularan menjadi strategi utama dalam pengendalian penyakit ini. Masyarakat dapat berperan aktif dengan:
- menghindari kontak langsung dengan kelelawar dan hewan liar;
- memastikan makanan dan buah-buahan dalam kondisi bersih dan aman;
- menerapkan kebersihan diri, seperti mencuci tangan dan menggunakan masker saat merawat orang sakit; serta
- segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami gejala mencurigakan.
Waspada Tanpa Panik
Virus Nipah memang berbahaya, tetapi kewaspadaan yang disertai informasi yang benar adalah kunci utama. Dengan sistem surveilans yang berjalan, kesiapan tenaga kesehatan, dan peran aktif masyarakat, risiko wabah dapat ditekan. Pengalaman pandemi sebelumnya mengajarkan satu hal penting: lebih baik bersiap sebelum terlambat.