Mengungkap Misteri Sulit Bangun Pagi dan Suka Begadang

M. Reza Sulaiman | Nurul Huda
Mengungkap Misteri Sulit Bangun Pagi dan Suka Begadang
ilustrasi bangun pagi. (pexels_cottonbro studio)

Banyak orang mengalami hal yang sama: merasa sangat sulit bangun pagi, tetapi justru begitu mudah terjaga hingga larut malam.

Bahkan, ketika sudah berniat untuk tidur lebih cepat, kenyataannya sering berakhir dengan menunda tidur demi menonton satu episode lagi, melakukan scroll di media sosial, atau sekadar menikmati suasana malam yang tenang. Fenomena ini bukan sekadar soal malas, tetapi berkaitan dengan cara tubuh, otak, dan lingkungan bekerja.

Ritme Sirkadian dan Jam Biologis Tubuh

Tubuh manusia memiliki sistem alami yang disebut ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur kapan kita merasa mengantuk dan kapan kita merasa segar. Ritme ini dipengaruhi oleh cahaya, kebiasaan tidur, dan aktivitas harian. Secara ideal, ritme sirkadian akan membuat tubuh mengantuk saat malam dan bangun secara alami saat pagi.

Namun, gaya hidup modern sering kali mengganggu sistem ini. Paparan cahaya buatan dari lampu dan layar gawai di malam hari mengirimkan sinyal ke otak bahwa “hari masih siang.” Akibatnya, produksi melatonin, hormon yang membuat kita mengantuk, menjadi terhambat. Tubuh pun merasa belum waktunya untuk tidur meskipun jam sudah menunjukkan larut malam.

Sebaliknya, ketika pagi datang, terutama jika kurang tidur, tubuh masih berada dalam mode istirahat. Jam biologis belum sepenuhnya menyesuaikan diri sehingga bangun terasa berat dan penuh rasa kantuk.

Malam Hari Terasa Lebih Bebas dan Minim Tuntutan

Secara psikologis, malam hari sering diasosiasikan dengan kebebasan. Di malam hari, tidak ada tuntutan pekerjaan, sekolah, atau kewajiban sosial yang harus segera dilakukan. Waktu malam terasa seperti “waktu milik sendiri.” Inilah yang membuat banyak orang menunda tidur sebagai bentuk untuk mengambil kembali kendali atas waktu mereka setelah seharian sibuk.

Fenomena ini dikenal sebagai revenge bedtime procrastination, yaitu kebiasaan menunda tidur untuk menikmati waktu pribadi. Meskipun tubuh sebenarnya lelah, otak merasa belum puas beristirahat secara mental sehingga memilih untuk begadang.

Bangun Pagi Identik dengan Kewajiban

Sebaliknya, pagi hari sering diasosiasikan dengan rutinitas, tanggung jawab, dan tekanan. Alarm bukan sekadar suara, tetapi juga simbol bahwa hari baru dengan berbagai tugas sudah dimulai. Hal ini memicu resistensi psikologis yang membuat seseorang enggan untuk bangun, bahkan ketika secara fisik sudah cukup tidur.

Selain itu, jika kualitas tidur buruk—sering terbangun, tidur terlalu larut, atau tidur tidak nyenyak—tubuh belum menyelesaikan siklus pemulihannya. Akibatnya, bangun pagi terasa seperti dipaksa, bukan sebuah proses yang alami.

Peran Kebiasaan dan Lingkungan

Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang akan membentuk pola. Jika seseorang terbiasa aktif di malam hari, otak akan menganggap malam sebagai waktu yang produktif. Sebaliknya, jika pagi sering dilewati dengan tergesa-gesa dan stres, otak akan mengaitkan pagi dengan ketidaknyamanan.

Lingkungan juga berperan besar. Pencahayaan kamar, suara, suhu ruangan, dan paparan layar sangat memengaruhi kualitas tidur. Bahkan, kopi atau minuman berkafein di sore hari bisa membuat tubuh lebih sulit untuk beristirahat di malam hari.

Kesulitan bangun pagi dan mudah begadang bukan semata-mata karena malas, melainkan akibat dari kombinasi faktor biologis, psikologis, dan kebiasaan. Jika ingin mengubah pola ini, langkah kecil seperti mengurangi paparan layar sebelum tidur, tidur dan bangun pada jam yang konsisten, serta membuat pagi hari terasa lebih menyenangkan bisa membantu.

Dengan begitu, tubuh dan pikiran perlahan akan belajar bahwa pagi bukanlah ancaman, melainkan awal yang lebih ramah untuk menjalani hari.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak