facebook

Hal-hal yang Harus Diperhatikan Sebelum dan Sesudah MotoGP Mandalika 2022

Galih Andriansyah
Hal-hal yang Harus Diperhatikan Sebelum dan Sesudah MotoGP Mandalika 2022
Layout Mandalika International Street Circuit (Instagram/@motogp)

Gelaran akbar balapan roda dua sudah memulai musim baru. MotoGP 2022 digelar menjadi 21 seri dari 18 negara berbeda, salah satunya Indonesia. Setelah lebih dari dua dasawarsa, gelaran ini kembali ke tanah air. Ajang ini juga menjadi optimisme untuk masyarakat Indonesia menyambut kembali event olahraga internasional dan industri pariwisata yang sempat vakum karena pandemi. Hal ini dikarenakan banyak wisatawan yang akan  berkunjung  ke Mandalika, Lombok tempat diadakannya MotoGP. Panitia menyediakan 100.000 tiket yang bisa didapatkan untuk 18-20 Maret 2022. 

Antusiasme terbukti dengan sudah tidak tersedianya tiket untuk melihat secara langsung. Pada akhirnya panitia menambah jumlah tiket yang disediakan untuk memfasilitasi wisatawan khususnya penggemar Marc Marquez dan Maverick Vinales. Tidak hanya masyarakat saja yang memiliki euphoria berlebih, pemerintah Indonesia juga tidak mau ketinggalan.

Pada Rabu 16 Maret 2022 pemerintah Indonesia mengadakan seremonial untuk menyambut event yang sudah lama tidak ada di tanah air. Seremonial yang diadakan yaitu dengan konvoi di Jalanan Ibu Kota bersama dengan para pembalap MotoGP. Konvoi ini dilepas oleh Presiden Joko Widodo dari Istana Negara dan berakhir di Hotel Kempinski.

Kemeriahan menyambut kembalinya MotoGP di Indonesia juga harus dibarengi dengan perbaikan hal-hal substansial lainnya demi olahraga balap tanah air yang lebih baik.

1. Kualitas Sirkuit

Mandalika International Street Circuit merupakan sirkuit yang khusus dibangun untuk menyelanggarakan balapan MotoGP di Indonesia setelah beberapa kali wacana merenovasi Sirkuit Sentul gagal. Sirkuit ini dibangun dengan luas tanah kurang lebih 1035 hektar. Dengan kemegahan yang ada, panitia harus mengedepankan sirkuit yang memiliki kualitas terbaik. Namun, sebelum balapan dimulai, beberapa aspek menjadi sorotan ketika diadakan uji coba pada 11-13 Februari lalu seperti aspal. Walaupun sudah dilakukan pengaspalan ulang, masih ada beberapa yang harus dibenahi. 

Jorge Martin, pembalap Pramac Ducati sempat mengeluhkan ketajaman gravel yang ada. Gravel adalah batu kerikil yang digunakan sebagai pengaman untuk mengurangi laju pembalap ketika terjatuh di tikungan. Tidak hanya Jorge Martin yang mengeluhkan, tetapi ada beberapa pembalap lain seperti Aleix Espargaro, dan Francesco Bagnaia. Maka dari itu panitia sudah seharusnya mendengarkan dan mengevaluasi temuan dari pembalap terlebih dahulu untuk meminimalisir hal-hal yang tidak diingikan.

Selain itu saluran air harus menjadi fokus dalam gelaran MotoGP di Indonesia ini. Mengingat negara kita beriklim tropis dengan dua musim, kalau tidak panas ya hujan. Tidak lancarnya drainase akan menghasilkan genangan air yang dapat membahayakan pembalap. Ban sulit mendapatkan grip dan pembalap akan semakin mudah untuk tergelincir. Lagi-lagi aspek keamanan ini perlu diperhatikan mengingat kejadian ini sudah terjadi pada World Superbike tahun lalu yang terdapat banyak genangan. 

2. Pengetahuan Perangkat Balapan

Perangkat balapan harus diedukasi dengan baik, salah satunya adalah marshal. Marshal merupakan salah satu perangkat balapan yang memiliki tugas untuk memberi tanda kepada pembalap dengan bendera yang bermacam-macam dan memiliki arti tersendiri. Jangan sampai marshal tidak tahu atau lupa ketika harus mengibarkannya. Karena hal ini dapat menjadi fatal misalkan ketika ada pembalap yang terjatuh di lintasan, maka marshal harus mengibarkan bendera kuning yang berarti pembalap di belakangnnya harus berhati-hati ketika melintas.

Selain itu marshal juga memiliki tugas untuk membantu pembalap ketika terjatuh. Maka dari itu marshal harus dilengkapi dengan pakaian yang memiliki standar keamanan. Bukan tidak mungkin marshal dapat terkena pecahan atau part motor yang terlepas. Sempat viral marshal tanpa alas kaki bermain bottle flip challange ketika World Superbike tahun lalu dan itu seharusnya tidak terjadi lagi pada tahun ini karena penggunaan sepatu menjadi aspek penting yang harus diutamakan. Bagaimana marshal akan membantu mengangkat motor dengan cepat ketika pembalap terjatuh kalau tanpa sepatu, yang ada kaki tertusuk-tusuk gravel yang tajam itu. Padahal kecepatan adalah hal utama dalam balapan.

3. Event Balap

Setelah MotoGP selesai, sirkuit Mandalika tidak boleh dibiarkan menganggur. Harus ada event balap lain untuk menjaga kualitas aspal. Hal ini dikarenakan aspal yang terkena panas dan hujan secara terus-menerus dan tidak digunakan akan lebih cepat rapuh sehingga ketika akan digunakan kembali pada tahun depan sudah tidak layak dan memakan biaya kembali untuk pengaspalan ulang.

Maka diperlukan event balap lain untuk menjaga itu, jangan seperti stadion-stadion megah yang dibuat istimewa untuk PON dan setelah itu mangkrak dan menjadi sarang hantu. Selain itu, dengan adanya event balap lain juga dapat menjaga cengkraman aspal dengan ban yang membuat pembalap lebih cepat melibas lintasan.

4. Pembinaan

Aspek klasik pada olahraga di Indonesia adalah pembinaan, terutama pada usia muda. Pemerintah harusnya sadar untuk melakukan pembinaan pada usia muda mengingat minat balap yang di Indonesia cukup tinggi. Dilihat dari aspek balap liar, kota mana yang tidak ada balap liarnya. Dilihat dari antusiasme penggemar MotoGP juga luar biasa. Terdapat lebih dari ribuan masyarakat Indonesia pergi ke Malaysia setiap tahunnya hanya untuk melihat MotoGP sebelum ada di Mandalika.

Maka dari itu sudah seharusnya pemerintah  memperhatikan pembalap-pembalap sehingga Indonesia tidak hanya sebagai pasar penonton, tapi juga dapat berprestasi melalui pembalapnya. Mengingat tanpa adanya pembinaan yang cukup layak saja sudah banyak pembalap Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia seperti Mario Aji, Galang Hendra, dan Andi Farid Izdihar.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak