Marc Marquez sukses membuktikan kemampuan dan hasil kerja kerasnya di MotoGP musim ini. Setelah bertahun-tahun diragukan karena cedera fisik yang dia alami, bahkan dianggap sudah melewati masa emasnya, juara dunia delapan kali itu akhirnya kembali menunjukkan dominasinya di kelas utama.
Catatan luar biasa ia bukukan sepanjang musim, dengan meraih 13 kemenangan sprint race serta 10 kemenangan di balapan utama. Angka tersebut mengesankan jika dibandingkan dengan pembalap lainnya yang maksimal hanya mampu mencatat dua kemenangan.
Satu hal yang perlu diingat, kesuksesan tersebut tidak datang secara instan. Keputusan besar Marquez meninggalkan Honda setelah lebih dari satu dekade membela tim itu sempat menimbulkan tanda tanya besar.
Banyak pihak ragu apakah langkahnya menuju Ducati bersama Gresini Racing bisa membawanya kembali ke jalur kemenangan. Namun, dengan kerja keras, kesabaran, dan keyakinan, langkah itu terbukti menjadi jawaban yang tepat.
Penampilan impresif Marquez ini juga mendapat sorotan dari sesama pembalap Spanyol, Pedro Acosta. Saat ditanya mengenai siapa pembalap terbaik sepanjang sejarah MotoGP, Acosta dengan mantap menyebut Valentino Rossi sebagai sosok paling legendaris.
Meski begitu, ia menambahkan bahwa jika Marquez berhasil merebut gelar dunia kesembilannya musim ini, maka statusnya akan sejajar dengan Rossi dan juga dengan tiga atlet besar Spanyol lain yang juga sama hebatnya.
"Jika Marquez memenangi kejuaraan ini, dia akan duduk satu meja dengan Rafa Nadal, Fernando Alonso, dan Pau Gasol. Bersama (Michael) Jordan dan tiga atlet Spanyol hebat yang saya sebutkan, Marquez akan berada di sana, di mana Valentino berada, yang menjalani dua tahun buruk di Ducati, tetapi pembalap ini harus bangkit dari keterpurukan untuk menang lagi. Bagi saya, dia dan Valentino setara," ujar Pedro Acosta, dilansir dari laman MotoGP News.
Ucapan Acosta ini seakan menggambarkan betapa tingginya penghormatan yang diberikan pada Marquez, meskipun ia sendiri masih menjadikan Rossi sebagai panutan utamanya.
Perbandingan antara Marquez dan Rossi memang menarik untuk dibicarakan. Kedua legenda ini sama-sama pernah mengalami masa-masa sulit dalam kariernya. Rossi, misalnya, sempat mengalami periode kelam saat memperkuat Ducati pada 2011 dan 2012.
Pada musim 2011, ia gagal meraih satu pun kemenangan dan hanya mampu finis di peringkat ketujuh klasemen, hasil terburuk sepanjang kariernya. Tahun berikutnya pun tak jauh berbeda, karena ia lagi-lagi tidak mampu memenangi balapan dan menutup musim di posisi keenam.
Penyebabnya adalah karakter motor Desmosedici saat itu tidak sesuai dengan gaya balap Rossi. Barulah ketika kembali ke Yamaha pada 2013, dia mampu bangkit dan kembali tampil kompetitif.
Kisah serupa juga dialami Marquez, meski dengan latar belakang berbeda. Sejak mengalami cedera serius pada 2020, performanya menurun drastis. Ia harus melewati masa pemulihan panjang, sementara motor Honda yang ia tunggangi juga semakin tertinggal dari para pesaing.
Hasil-hasil buruk menghantui musim demi musim, hingga banyak yang menduga kariernya tak akan pernah sama lagi. Namun, situasi itu berubah total ketika pada 2024 ia memutuskan meninggalkan Honda dan bergabung dengan tim satelit Ducati, Gresini Racing. Keputusan ini membuka jalan baginya untuk kembali menemukan performa terbaik, hingga akhirnya musim 2025 menjadi waktu comeback-nya.
Kini, dengan performa konsisten dan gelar juara dunia yang sudah di depan mata, Marquez bukan hanya membuktikan dirinya masih layak bersaing, tetapi juga menegaskan posisinya sebagai salah satu pembalap terbaik dalam sejarah.
Perjalanannya dari masa kelam hingga sekarang adalah cerminan kerja keras, bakat, dan keberanian mengambil risiko besar. Sama seperti Rossi yang pernah bangkit dari masa-masa sulit, Marquez kini menulis babak baru yang akan selalu dikenang dalam sejarah MotoGP.
CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS