Kekalahan telak yang dialami Timnas Indonesia U-17 saat menghadapi China memberikan sinyal kuat bahwa performa tim masih butuh banyak polesan, termasuk munculnya wacana penambahan pemain diaspora baru. Dalam laga uji coba pertama yang digelar di Indomilk Arena, Minggu (8/2), anak asuh Nova Arianto harus mengakui keunggulan lawan dengan skor mencolok 0-7.
Hasil ini tentu mengejutkan, mengingat tim tersebut sebenarnya memiliki modal catatan apik di level domestik. Meski begitu, panggung internasional terbukti memberikan tekanan yang jauh berbeda bagi para pemain muda kelahiran 2009 itu.
Nova Arianto menjelaskan bahwa mayoritas dari 28 pemain yang dipanggil merupakan nama-nama baru yang sedang menjalani debut internasional. Tercatat hanya Nicholas Indra Mjoesund, pemain asal klub Norwegia Rosenborg BK, yang menjadi satu-satunya pemain diaspora dalam skuad sekarang.
Kekalahan tujuh gol tanpa balas tersebut memicu evaluasi besar-besaran di jajaran pelatih. Nova menyatakan bahwa pintu bagi pemain diaspora lainnya masih terbuka lebar demi memperkuat tim sebelum terjun ke kompetisi resmi.
"Kita observasi dengan dua pertandingan ini, dan kita lihat apakah perlu penambahan pemain baru lagi atau perlu mencari pemain diaspora lagi atau perlu uji coba internasional," ujar Nova dalam sesi jumpa pers pascapertandingan, sebagaimana mengutip Antara News.
Tujuan utama dari perbaikan skuad ini adalah persiapan menuju Piala Asia U-17 2026 yang akan digelar akhir April mendatang. Indonesia mematok target tinggi untuk bisa lolos dari babak grup atau setidaknya mencapai perempat final.
Target tersebut bukan tanpa alasan, sebab melaju ke fase perempat final adalah syarat mutlak untuk mengamankan tiket ke Piala Dunia U-17 2026 yang rencananya berlangsung di Qatar. Federasi ingin menjaga tradisi agar Indonesia tetap bisa bersaing di level dunia.
Menariknya, Nova menampik jika buruknya performa tim disebabkan oleh masalah chemistry. Pasalnya, kerangka tim ini sudah bersama-sama selama lima bulan memperkuat Garuda United U-18 di kompetisi Elite Pro Academy (EPA).
Di ajang EPA, tim ini tampil sangat dominan dengan memuncaki klasemen. Mereka mengoleksi 55 poin dari 22 laga, mencetak 62 gol, dan hanya kebobolan 15 kali. Namun, dominasi di liga lokal ternyata belum cukup kuat saat bertemu lawan internasional seperti China.
Tantangan Intensitas dan Masa Transisi Kepelatihan
Nova Arianto menekankan bahwa level kompetisi EPA dan pertandingan internasional sangat berbeda, terutama dalam hal tekanan fisik dan mental. Hal inilah yang menjadi catatan penting bagi tim pelatih untuk segera dibenahi.
"Mereka sudah bekerja bersama selama lima bulan. Dan mereka tampil di EPA, tapi memang itu yang saya sampaikan di awal kemarin adalah bagaimana secara intensitas pertandingan, secara tekanan, pasti berbeda," jelasnya.
Lebih lanjut, Nova juga menyoroti kemampuan pemain dalam menghadapi pressing ketat.
Ia menambahkan, "Itu yang harus pemain belajar dari pertandingan ini bagaimana di saat mereka mendapatkan pressing dari lawan, bagaimana pemain bisa keluar, itu yang menjadi evaluasi kami."
Proses evaluasi ini juga menjadi bagian dari masa transisi kepelatihan. Mengenai pemilihan pemain diaspora ke depannya, Nova akan menyerahkan keputusan tersebut kepada pelatih baru, Kurniawan Dwi Yulianto.
Laga kedua melawan China yang dijadwalkan pada Rabu (11/2) pukul 18.30 WIB akan menjadi ajang pembuktian sekaligus tes adaptasi terakhir. Nova berencana melakukan rotasi besar-besaran untuk memberikan jam terbang kepada seluruh pemain yang dipanggil.
"Saya berpikir kita akan mencoba semua pemain yang ada. Harapannya ya, kita bisa menilai," tutup Nova mengenai rencana strateginya di laga revans mendatang.
Dengan tantangan besar di depan mata, termasuk Kejuaraan ASEAN U-17 yang akan dimainkan di rumah sendiri, Timnas U-17 harus segera berbenah. Harapannya, hasil dari dua laga uji coba melawan China ini bisa memberikan gambaran jelas bagi Coach Nova dan Coach Kurniawan dalam meramu komposisi pemain yang lebih kompetitif.