Hobi
Piala Dunia 2026 dan Poin Perdana Qatar yang Sejatinya Tak Begitu Membantu Mereka di Kontestasi
Salah satu wakil Benua Asia, Qatar pada akhirnya berhasil meraup poin perdana di putaran final Piala Dunia. Setelah menunggu hingga laluan empat pertandingan, tim berjuluk The Maroon tersebut berhasil mendulang satu poin setelah menahan imbang Swiss di pertandingan pembuka Grup B (14/6/2026).
Pada pertarungan perdana yang dijalaninya di turnamen kali ini, Qatar berhasil memaksakan hasil imbang di menit-menit akhir pertandingan. Tim dari Negeri Petrodollar itu tertinggal semenjak menit ke-17 melalui eksekusi penalti Embolo, dan baru berhasil menyamakan kedudukan di menit ke-90+4.
Satu poin ini tentu saja menjadi sangat berharga bagi Qatar karena memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi. Namun sayangnya, poin perdana yang dipetik oleh Qatar itu kemungkinan besar tak akan banyak membantu mereka untuk melaju jauh di kontestasi.
Alasannya? Tentu karena peta persaingan Piala Dunia edisi 2026 kali ini yang tak seperti edisi-edisi sebelumnya. Dalam pandangan saya, pertandingan-pertandingan yang dimainkan di fase penyisihan grup guliran kali ini, seperti tak ubahnya pertarungan yang dimainkan di fase kualifikasi kemarin.
Dengan kontestan putaran final Piala Dunia 2026 yang mencapai 48 tim, tentu saja kita tak bisa menuntut terlalu tinggi terkait dengan kualitas pertandingan yang disajikan di fase-fase awal turnamen ini. Karena kita tahu, kumpulan 48 tim yang saat ini berlaga di putaran final kejuaraan tidak semuanya berlevel tinggi dalam kasta persepakbolaan dunia.
Sama seperti yang terjadi dalam pertarungan antara Qatar melawan Swiss kali ini. Di dunia sepak bola, Qatar maupun Swiss sejatinya bukanlah negara tier utama dalam piramida kualitas permainan si kulit bundar.
Jika kita tempatkan tim-tim sekelas Jerman, Argentina, Portugal, Brasil, Inggris dan negara-negara kuat lainnya sebagai tim kelas satu di dunia sepak bola, mungkin tak salah jika kita meletakkan Swiss maupun Qatar di tier ketiga atau bahkan mungkin keempat dalam skema tersebut.
Sehingga, ketika pada akhirnya Qatar berhasil mengamankan satu poin dari pertarungannya melawan Swiss, maka hal itu dapat saya katakan bukan sebuah penggambaran kualitas tinggi yang mereka miliki.
Iya, kesuksesan Qatar meraih satu poin di laga ini bukan karena level mereka sudah mendunia, namun lebih karena memang kualitas lawan yang dihadapi bukanlah salah satu tim dari kumpulan terbaik di persepakbolaan dunia.
Satu Poin yang Tak Menjamin Qatar Bakal Melaju Jauh
Sekali lagi saya tegaskan, satu poin yang diraih oleh Qatar pada pertandingan melawan Swiss ini bukanlah sebuah jaminan bahwa mereka akan sukses di Piala Dunia kali ini. Alih-alih menjadi Tim Kuda Hitam, untuk sekadar melaju lebih jauh pun saya masih menyangsikan hal itu bisa mereka lakukan.
Pasalnya, secara kualitas permainan sendiri Qatar memang belum sematang tim-tim lain yang sudah memiliki tradisi sepak bola yang kuat. Kekuatan yang dimiliki Timnas Qatar sendiri terbilang masih sangat rapuh dan mungkin selevel dengan Timnas Indonesia saat ini. Sedikit bukti, meskipun Qatar sukses menahan imbang Swiss di laga perdananya, namun statistik yang mengiringi mereka sangatlah miris.
Seperti yang dirilis oleh laman resmi FIFA, Qatar sendiri hanya mampu menguasai 31 persen penguasaan bola. Bukan hanya itu saja, mereka juga kalah telak dari sisi penyerangan, di mana salah satu indikatornya adalah, gawang The Maroon dibombardir hingga sebanyak 26 kali oleh Swiss.
Bahkan, kita juga tak salah jika menyatakan bahwa hasil imbang yang diraih oleh Qatar kali ini adalah karena mereka dinaungi oleh sebuah keberuntungan besar. Mereka sangat beruntung, karena di pertandingan ini lini serang Swiss sedang dalam mode yang bapuk dan tak bertaji.
Coba bayangkan, jika saja peluang-peluang dari Swiss pada laga tersebut berhasil dikonversi menjadi gol, sudah tentu Qatar akan kembali menelan kekalahan seperti tiga pertandingan mereka di Piala Dunia sebelumnya, bukan? Bahkan mungkin mereka akan menelan kekalahan dengan skor yang cukup telak.
Patut untuk diingat, keberuntungan yang kali ini berpihak kepada Qatar, belum tentu akan kembali mereka dapatkan di pertarungan kedua dan ketiga fase penyisihan grup ini. Pasalnya, Kanada maupun Bosnia dan Herzegovina yang akan mereka hadapi di dua laga berikutnya, kualitasnya tak kalah mengerikan dibandingkan dengan Swiss.
Timnas Kanada yang kini menduduki peringkat ke-30 FIFA, semenjak tahun 2020 lalu terus berbenah, bertransformasi dan menjadi salah satu kekuatan anyar di persepakbolaan Amerika Utara dan Tengah. Belum lagi status mereka sebagai tuan rumah, akan membuat daya juang eks anak asuh John Herdman tersebut bakal semakin berlipat saat menyongsong setiap laganya.
Pun demikian halnya dengan Bosnia dan Herzegovina. Meskipun dalam konstelasi Grup B mereka berpredikat sebagai tim dengan peringkat FIFA terendah (64 dunia), namun patut untuk digarisbawahi dalam perjalanannya menuju putaran final Piala Dunia kali ini, kegigihan permainan yang mereka usung berhasil menyingkirkan tim sekelas Wales bahkan Italia yang selama ini dikenal sebagai kekuatan utama dalam persepakbolaan Eropa maupun dunia.
Jadi, untuk sekadar mendapatkan satu poin dari dua laga selanjutnya, Qatar tak bisa bergantung kepada keberuntungan semata. Mereka memang beruntung bisa mengamankan satu poin dari laga melawan Swiss, namun belum tentu bisa melakukannya di dua pertarungan sisa.
Dan bila hal itu terjadi, poin yang mereka dapatkan di laga pertama melawan Swiss ini tak akan memiliki arti apa-apa, bahkan mungkin akan menjadi satu-satu poin yang akan mereka bahwa pulang dari gelaran.