Hobi
Piala Dunia 2026: Blunder Popovic Bikin Australia Harus Bertarung Keras Hingga Laga Pamungkas
Langkah Australia di pertarungan kedua Grup D gelaran Piala Dunia 2026 mendapatkan ganjalan yang cukup serius. Berhadapan dengan salah satu tim tuan rumah, Amerika Serikat di Seattle Stadium, wakil Benua Asia tersebut terhantam kekalahan dengan margin dua gol tanpa balas.
Laman FIFA merilis, dua gol kemenangan The Sam's Army seluruhnya tercipta di babak pertama. Setelah Cameron Burgess melakukan gol bunuh diri pada menit ke-11, Alex Freeman menggandakan gol kemenangan tim tuan rumah hanya berselang dua menit saja sebelum turun minum.
Alhasil, Australia yang sebelumnya memasuki arena pertarungan dengan kepercayaan diri tinggi pasca sukses mengempaskan Turki dua gol tanpa balas di laga pertama, harus menerima hasil berkebalikan dengan margin gol yang identik.
Blunder Popovic dan Hasil Akhir yang Tak Memihak The Socceroos
Sama halnya seperti pertarungan pertama melawan Turki, Australia sejatinya juga menurunkan formasi yang sama ketika berhadapan dengan Amerika Serikat.
Menyadari anak asuhnya memiliki kualitas yang cenderung lebih rendah ketimbang tim lawan, Tony Popovic lagi-lagi mengimplementasikan formasi 5-4-1 yang berorientasi pada permainan bertahan dan menekan lawan dengan memanfaatkan serangan balik.
Taktik ini sejatinya sangat efektif ketika mereka berhadapan dengan Turki di laga pertama lalu. Meskipun data statistik menunjukkan Australia hanya memegang penguasaan bola efektif sebesar 27 persen, namun kala itu mereka sukses membobol tim asal Anatolia itu dengan dua gol. Dan hal itulah yang coba untuk diulangi oleh Popovic di pertandingan kedua ini.
Namun, sayangnya, saya melihat ada sedikit blunder yang dilakukan oleh Tony Popovic pada pertarungan kali ini. Dalam starting line-up yang diturunkan oleh Popovic, pelatih asli Negeri Kanguru itu tak menyertakan dua pemain kunci The Socceroos yang fasih bermain di sektor sayap, Nestory Irankunda dan Connor Metcalfe sebagai sebelas pemain pertama.
Dua posisi sayap yang menjadi milik duo pencetak gol di pertandingan pertama melawan Turki itu, kali ini dipercayakan kepada Nishan Vellupillay di sisi kiri dan Mathew Leckie di sisi kanan. Sebenarnya, dalam pandangan saya rotasi pemain yang sejatinya memiliki tujuan cukup cerdik.
Saya yakin, ketika Tony Popovic memilih untuk memarkir Irankunda dan Metcalfe di babak pertama, sang pelatih berkeinginan untuk menguras energi para pemain tim tuan rumah terlebih dahulu.
Baru kemudian di babak kedua atau di waktu yang dirasa tepat, Popovic akan memasukkan dua pemain kuncinya itu untuk memberikan tekanan atau serangan balik yang lebih intens.
Asumsinya jelas, dengan memasukkan Irankunda dan Metcalfe di saat pemain Amerika Serikat sudah kepayahan, ketangguhan yang dimiliki oleh Metcalfe maupun kecepatan yang dimiliki oleh Irankunda akan membuat peluang yang dihasilkan akan jauh lebih mematikan.
Namun sayangnya, hal itu tak terjadi di laga melawan Amerika Serikat kali ini. Tim tuan rumah yang turun dengan semangat berlipat karena mendapatkan dukungan penuh dari para suporternya, langsung memberikan tekanan dan unggul dua gol langsung di babak pertama.
Pun demikian dengan Australia. Sama seperti ketika melawan Turki, mereka beberapa kali memberikan resistensi melalui serangan balik kilat, yang sayangnya selalu saja mampu diantisipasi dengan baik oleh tim lawan.
Saya melihat, jika dibandingkan dengan Turki di laga pertama lalu, Amerika Serikat ini terlihat jauh lebih siap dalam mempersiapkan kontrastrategi dari permainan yang diusung oleh Australia. Amerika memang langsung menggebrak seperti halnya yang dilakukan oleh Turki dan tampil mengurung, namun yang menjadi pembeda adalah, mereka sama sekali tak lengah di lini pertahanan.
Jadi, meskipun tim tuan rumah bermain frontal dalam hal penyerangan, namun mereka juga tetap menyisakan lebih banyak pemain di area pertahanan, baik di posisi sentral maupun sayap bertahan, agar mereka tak kecolongan seperti Turki dan mampu mengantisipasi setiap serangan balik Australia dengan baik.
Sayangnya, tumpulnya serangan dari Australia ini tak segera disadari oleh Popovic. Pada situasi deadlock seperti itu, mereka sejatinya membutuhkan pemain penyelinap dan berkecepatan tinggi seperti tipikal Irankunda untuk memanfaatkan umpan-umpan jauh dari lini pertahanan.
Harus kita akui, tak adanya Irankunda yang pintar mencari celah, benar-benar membuat serangan balik cepat andalan Australia seperti kehilangan roh.
Alih-alih bermain menusuk, tanpa adanya Irankunda yang liat dan pintar mencari celah, Australia justru lebih kerap memainkan skema bermain crossing. Tentu saja, tentu saja gaya bermain ini dengan mudah mampu diantisipasi oleh lini pertahanan lawan yang sejatinya sudah terlatih semenjak laga melawan Paraguay lalu.
Memang, pada akhirnya di awal babak kedua Popovic pada memutuskan untuk memasukkan Irankunda dan Metcalfe. Namun bagi saya, apa yang dilakukan oleh sang pelatih sudah terlambat.
Intensitas penyerangan Australia yang meningkat di interval kedua tak mampu menutupi defisit dua gol yang mereka derita. Masuknya Irankunda dan Metcalfe di awal babak kedua, sedikit banyak langsung mengubah peta pertandingan.
Serangan-serangan yang dilepaskan Australia, memang jauh terlihat lebih intens daripada sebelumnya. Namun hal itu hanya sampai di tahap menciptakan peluang saja.
Alih-alih menciptakan gol penyama kedudukan, untuk sekadar menciptakan satu gol hiburan saja mereka tak mampu untuk melakukannya.
Blunder Popovic yang tak menurunkan duo pemain kunci penentu kemenangan di laga pertama melawan Turki lalu pada akhirnya berimbas fatal. Bukan hanya perkara menang-kalah dan raihan poin, namun imbas dari blunder itu sudah mengarah kepada keberlangsungan perjalanan anak asuhnya di turnamen.
Bagaimana tidak, gegara keputusan kurang jeli yang dilakukan oleh Popovic itu, Australia pada akhirnya harus bertarung keras hingga partai pamungkas melawan Paraguay nanti untuk bisa memastikan apakah mereka lanjut untuk berperang, ataukah harus berhenti dan pulang.