Hobi
Piala Dunia 2026: Messi Makin Menggila, Mengapa CR7 Masih Belum Temukan Performa Terbaiknya?
Megabintang sepak bola dunia asal Argentina, Lionel Messi semakin menggila di gelaran Piala Dunia 2026. Setelah pada pertarungan pembuka melawan Aljazair lalu pemain berjuluk La Pulga itu sukses menciptakan trigol ke gawang sang lawan, kali ini giliran gawang Austria yang menjadi sasaran berondongan golnya.
Pada pertandingan kedua di Dallas Stadium, Amerika Serikat, eks Barcelona itu berhasil menunjukkan tajinya dengan memborong dua gol kemenangan Tim Tango. Laman FIFA merilis, dwigol yang membuat Messi menciptakan sejarah di turnamen sepak bola paling akbar sejagat raya itu tercipta pada menit ke-38 dan 90+5.
Pencapaian Messi—yang sudah menciptakan total lima gol hanya dari dua pertandingan-- tentu sedikit banyak membuat nama Cristiano Ronaldo terkena imbas.
Sebagai satu-satunya pemain yang memiliki kasta seruang dengan Messi dalam rentangan lebih dari sedekade belakangan ini, kegemilangan permainan yang ditunjukkan oleh Messi ini tentu membuat megabintang Portugal itu terseret namanya untuk diperbandingkan.
Sebuah fenomena yang sejatinya tak mengherankan, mengingat Ronaldo Portugal sendiri merupakan satu-satunya pemain yang konsisten menghidupkan sportivitas persaingan dengan Messi di persepakbolaan dunia.
Sehingga, ketika sinar permainan Messi begitu terang di guliran Piala Dunia 2026 ini, dirinya akan terus disebut dan diperbandingkan, bahkan dalam setiap laganya.
Lantas, yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa ketika Messi sukses bermain gemilang, Ronaldo yang sejatinya memiliki level setara dengannya justru belum mampu menemukan performa terbaiknya? Ada apakah gerangan?
Argentina Bermain untuk Messi, Ronaldo Harus Berjuang Sendiri untuk Portugal
Dalam pandangan saya, mengapa sampai saat ini Lionel Messi dan Ronaldo menunjukkan performa yang berbeda di Piala Dunia 2026, karena keduanya menghadapi situasi yang sangat berbeda --bahkan berbeda 180 derajat-- di tim masing-masing.
Jika kita mau fair, gemilangnya performa Messi di lapangan, tak lepas dari dukungan penuh para pemain Argentina lainnya. Sepuluh pemain lain yang bertarung bersamanya, memiliki sebuah komitmen dan kepercayaan penuh kepada Messi.
Bahkan, saya melihat kerja keras yang dilakukan oleh para pemain Argentina dalam merebut bola di lapangan, semuanya didedikasikan untuk eks PSG itu.
Bola-bola yang didapatkan oleh para pemain lain, didistribusikan kepada Messi untuk diolah, digulirkan, bahkan dieksekusi untuk menciptakan peluang gol. Yah, dapat dikatakan permainan Argentina ini berpusat pada Messi alias Messi-sentris.
Atau dengan kata lain, guliran bola yang didapatkan oleh para pemain Argentina ini, sebisa mungkin muaranya berada di kaki Lionel Messi. Dengan demikian, maka skipper Timnas Argentina itu memiliki banyak opsi untuk mengolah si kulit bundar, tanpa perlu melakukan banyak pergerakan.
"Kamu cari tempat aja, Mess. Biar kami yang bekerja, nanti kamu tinggal nunggu bola dari kami," mungkin kalau dibahasakan secara sederhana, begitulah ucap sepuluh rekan-rekan Messi di lapangan.
Hal ini juga bukan sebuah hal tanpa dasar. Pasalnya, baik di laga melawan Aljazair maupun Austria, aliran bola menuju Messi juga terbilang cukup banyak, apalagi jika dibandingkan dengan Ronaldo.
Coba sekarang kita bedah, di laga melawan Aljazair, Argentina total melepaskan 740 umpan sukses. Dari berbagai sumber statistik yang saya rangkum, dalam durasi bermainnya yang selama 78 menit, Messi tercatat melakukan 57 sentuhan. Jumlah tersebut setara dengan 7,7 persen dari distribusi bola keseluruhan Timnas Argentina.
Sementara di laga melawan Austria, Messi mencatatkan sentuhan yang lebih tinggi lagi, yakni sejumlah 71 kali. Jika dibandingkan dengan 509 umpan sukses, itu artinya Messi mendapatkan hampir 14 persen dari distribusi bola dari rekan-rekan setimnya.
Hal ini tentunya terbilang sangat jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh Ronaldo di Timnas Portugal. Meskipun berstatus sebagai pemain senior dan menyandang label kapten kesebelasan, namun kepercayaan pemain kepadanya tak sebesar pemain Argentina kepada Messi.
Hal ini juga terlihat dari fakta di lapangan, di mana terlihat jelas bahwa distribusi bola dari rekan-rekan setim kepadanya terbilang sangat minim.
Jika teman-teman menyaksikan pertandingan antara Timnas Portugal melawan Kongo (18/6/2026) lalu, tentu kita akan menemukan titik jawab mengapa Ronaldo tak bisa menunjukkan performa terbaiknya.
Pada pertandingan itu, Portugal memang mencatatkan 804 operan yang mana 740 di antaranya berhasil diterima dengan sukses. Namun operan-operan itu lebih sering dilakukan di sektor belakang, tengah dan sayap. Sementara Ronaldo yang bermain di sektor penyerangan, sangat minim mendapatkan guliran bola.
Itulah mengapa, dalam beberapa kesempatan kita melihat Ronaldo sampai gregetan kepada rekan-rekan setimnya, bahkan mengambil jalur Bruno Fernandes untuk menciptakan peluang.
Pada pertandingan pertama lalu, Ronaldo memang terkesan sebagai pemain yang "dikucilkan" oleh rekan-rekan setimnya. Ketika dirinya berusaha sekuat tenaga untuk membawa Portugal terbang tinggi, di sisi lain segala usahanya itu justru seperti dikhianati oleh rekan-rekannya sendiri, di lapangan yang sama.
Bahkan, jika kita bandingkan dengan penghitungan distribusi bola dan sentuhan yang dilakukannya sepanjang permainan, kita akan sepakat bahwa Ronaldo ini tak mendapatkan sokongan penuh dari rekan-rekannya saat itu.
Bagaimana tidak, dari 740 operan sukses yang dicatatkan oleh para pemain Os Navigadores di laga melawan Kongo lalu, Ronaldo hanya kebagian 25 sentuhan saja dari hasil distribusi itu.
Dan jika dihitung-hitung, besarannya hanya di kisaran 3,3 persen saja dari keseluruhan operan berhasil timnya. Jumlah itu tentunya sudah menunjukkan secara nyata bahwa keberadaan Ronaldo memang tak sepenuhnya dikehendaki oleh para pemain Portugal lainnya.
Coba bayangkan, pemain sekaliber Ronaldo yang harusnya diberikan banyak umpan untuk bisa mengkreasikan peluang hanya diberikan 3,3 persen aliran bola, sementara lebih dari 96 persen distribusi bola lainnya, mengarah ke pemain lain.
Jika hal ini terus terjadi, jangankan untuk menyamai Messi, untuk sekadar mencetak gol saja akan menjadi PR yang sangat berat bagi Ronaldo di ajang Piala Dunia 2026 ini.
Jadi, untuk saat ini tak patut bagi kita untuk membanding-bandingkan Lionel Messi dengan Cristiano Ronaldo. Karena pada prinsipnya, dua GOAT sepak bola dunia itu saat ini sedang berada dalam situasi tim yang saling bertolak belakang.