Publik tengah dihebohkan dengan video ceramah Oki Setiana Dewi. Dalam video yang berdurasi sekitar 4 menit 4 detik itu, Oki Setiana Dewi dianggap menormalkan KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga) yang dilakukan suami pada istri.
Ceritanya, ada seorang istri yang dipukul oleh suaminya, namun tidak mengadu kepada orang tua sehingga akhirnya sang suami luluh dan menganggap istrinya menutupi aib suami.
Sontak beragam sorotan mengarah terhadap ustazah kondang tersebut. Komnas Perempuan tak lupa berkomentar jika sebagai penceramah, mestinya Oki Setiana Dewi memberi pencerahan terhadap jamaahnya bahwa menceritakan KDRT pada orang tua bukan membuka aib pada suami. Gus Nadir juga tak kalah mengomentari. Ia juga menyebut jika KDRT harus lapor polisi dan ini bukanlah aib suami yang perlu ditutupi karena istri itu bukan sasak tinju.
Dari video yang tengah viral ini, sebetulnya kita bisa meniliknya dari dua sudut pandang berbeda. Pertama, sebetulnya Oki Setiana Dewi tengah ingin menyampaikan pesan kepada jamaahnya bahwa seorang istri mestinya menutupi aib keluarga, termasuk aib suami. Hanya saja, ia memilih kasus yang salah dalam menjelaskan pesan ceramahnya itu.
Kedua, soal KDRT. Saya kira, apapun agamanya, perilaku kekerasan dalam rumah tangga tidaklah dibenarkan dalam agama. Bahkan dalam agama Islam, Nabi Muhammad tidak pernah menganjurkan atau memberi contoh memukul istri dengan dalih agama. Jadi, KDRT bukanlah aib. Ia bentuk kekerasan dan penganiayaan yang mesti dilaporkan pada polisi.
Ketiga, sorotan masyarakat. Wajar jika ceramahnya mengundang kehebohan. Sebab bila tidak dicerna mendalam, maka Oki Setiana Dewi seakan-akan membenarkan KDRT dalam rumah tangga. Bahkan ia seakan menganjurkan si istri untuk diam dan menanggung sendiri manakala digampar sang suami.
Tentu saja masyarakat memberondongnya dengan banyak komentar. Hal ini terjadi lantaran videonya mengandung kontroversi. Namun, menanggapinya secara membabi buta tentu bukan perkara baik. Barangkali ini kesalahan Oki Setiana Dewi dalam memilih contoh kasus sehingga tampak kurang bisa membedakan antara KDRT dan aib rumah tangga.
Hanya saja, kita jangan sampai lupa bahwa ceramah Oki Setiana Dewi tidak melulu itu saja. Ibarat sebuah nila yang merusak susu sebelanga, maka alangkah baiknya kita lekas-lekas membuang setitik nila tersebut agar sisa susu masih bisa kita nikmati.
Pun begitupula dengan ceramah Oki. Cukup kita mengambil hikmah dari kesalahan kali ini, tetapi jangan sampai menilainya buruk secara keseluruhan.
Wallahu ‘alam bisshowab.