Di zaman sekarang, jempol kita jauh lebih atletis daripada kaki. Sambil rebahan dan bau Matahari, kita bisa keliling dunia lewat layar 6 inci. Masalahnya, yang kita kelilingi bukan dunia nyata, melainkan etalase TikTok yang isinya kalau nggak orang terlalu cantik, ya orang terlalu kaya. TikTok bukan lagi sekadar aplikasi buat joget-joget nggak jelas, itu sudah naik kasta jadi "kitab suci" tidak resmi buat remaja soal cara hidup yang benar.
Masalahnya, standar hidup yang diproduksi TikTok itu mirip katalog barang mewah di mal kelas atas: kelihatan bagus, tapi harganya nggak masuk akal buat dompet realitas kita.
Coba, deh, kamu scroll FYP sebentar saja. Kamu bakal ketemu manusia-manusia yang pori-porinya seolah sudah pensiun dini. Wajahnya mulus kayak perosotan TK, badannya proporsional tanpa dosa, dan kamarnya se-estetik kafe di Senopati. Belum lagi konten daily routine yang katanya produktif, tapi sebenarnya melelahkan. Bangun jam 5 pagi, minum kopi mahal yang estetik, olahraga, lalu kerja pakai MacBook sambil menghirup aroma lilin terapi.
Bagi kita yang bangun tidur masih harus rebutan kamar mandi sama adik, atau yang wajahnya masih penuh jerawat karena stres tugas sekolah, konten begini adalah racun yang dibungkus cokelat. Kita gampang banget membatin, "Kok hidup orang enak banget ya, sedangkan hidup gue begini-begini amat?"
Algoritma TikTok itu kayak teman yang perhatian tapi manipulatif. Dia tahu apa yang kamu suka, tapi dia terus-terusan menyodorkan standar yang bikin kamu merasa kerdil. Cantik harus begini, keren harus begitu. Kalau nggak estetik, nggak usah diposting. Lama-lama, yang awalnya cuma tontonan iseng berubah jadi tolok ukur kebahagiaan. Kita merasa "kurang niat" jadi manusia kalau nggak punya barang-barang yang lagi viral.
Dampaknya nggak main-main. Penelitian sudah sering teriak soal ini: semakin sering kita terpapar konten "manusia sempurna", semakin hancur cara kita melihat diri sendiri. Kita kalah sebelum bertanding. Percaya diri kita terkikis pelan-pelan, digantikan oleh obsesi untuk mengubah penampilan atau minimal, rasa minder yang akut. TikTok memang nggak pernah bilang secara langsung, "Kamu jelek dan miskin," tapi kontennya sukses membuat kita menyimpulkan itu sendirian di pojokan kamar.
Belum lagi urusan asmara. Di TikTok, pacaran itu isinya cuma kejutan bunga, makan malam romantis, dan video transisi yang rapi. Seolah-olah cinta itu nggak sah kalau nggak bisa dijadikan konten. Padahal di dunia nyata, hubungan itu isinya ya salah paham karena salah baca nada chat, atau bingung mau makan di mana sampai berantem. Ketika standar hubungan ala TikTok dijadikan patokan, hubungan yang normal malah terasa hambar dan membosankan.
Level stresnya makin ngeri kalau kita sudah bicara soal kesuksesan. Influencer usia 20 tahun sudah punya mobil sport dan rumah mewah. Kita yang di usia sama masih bingung cara pakai rumus VLOOKUP di Excel jadi merasa gagal total sebagai manusia. Penelitian mencatat bahwa penggunaan TikTok 1-3 jam sehari sangat berkaitan dengan meningkatnya kecemasan pada Gen Z. Ya gimana nggak cemas, kalau setiap hari kita dipaksa ikut lomba lari yang kita sendiri nggak tahu garis finisnya di mana.
Tapi ya, menyalahkan aplikasi sepenuhnya juga nggak adil. TikTok cuma panggung, kitalah penontonnya. Masalah utamanya adalah ketika kita menelan semua tontonan itu mentah-mentah tanpa filter. Kita lupa kalau yang lewat di FYP itu hanyalah potongan terbaik dari hidup orang lain yang sudah diedit sedemikian rupa. Itu bukan realitas, itu produksi.
Di sinilah kita butuh yang namanya "bodo amat" yang terdidik. Kita harus sadar bahwa hidup nyata nggak harus selalu estetik untuk dianggap bermakna. Kebahagiaan itu bukan soal masuk FYP atau punya banyak likes, tapi soal bagaimana kita bisa bernapas lega dan merasa cukup saat layar HP sudah mati. Karena pada akhirnya, hidup itu dijalani, bukan cuma ditonton.