Media sosial belakangan ini kembali gaduh. Kali ini bukan soal politik atau selebritas, melainkan sebuah hashtag yang cukup memicu adrenalin para pecinta buku: #BukuJelek. Jagat Twitter (X) dipenuhi cuitan yang membedah—bahkan cenderung menghujat—selera bacaan orang lain.
Tidak tanggung-tanggung, para konten kreator di BookTok dan Bookstagram pun ikut terkena "rujak" netizen. Mereka dituding sebagai dalang di balik populernya bacaan yang dianggap "kurang bermutu" dan dangkal.
Fenomena ini membawa kita pada satu istilah lama yang kembali relevan: Book Shaming. Secara sederhana, book shaming adalah tindakan merendahkan, mengejek, atau menghakimi seseorang berdasarkan apa yang mereka baca. Ini adalah perilaku yang menempatkan jenis bacaan tertentu dalam hierarki yang lebih tinggi, sementara bacaan lain dianggap "sampah".
Polisi Literasi dan Standar Ganda
Memang, membagikan pendapat tentang buku di media sosial adalah hak setiap orang. Mengkritik sebuah buku dari segi alur yang bolong, karakter yang tidak konsisten, atau tata bahasa yang berantakan adalah bagian dari diskursus literasi yang sehat. Kritik adalah nyawa bagi perkembangan dunia penerbitan.
Namun, yang menjadi masalah adalah ketika kritik tersebut bergeser menjadi penghakiman personal. Ketika seseorang dicap "kurang berkualitas" hanya karena mereka lebih memilih novel romansa ringan daripada sastra klasik yang berat, di sinilah letak ketidakadilannya.
Para "polisi literasi" ini seolah memiliki standar baku tentang apa yang layak disebut sebagai bacaan bermutu. Jika buku tersebut tidak membuat dahi berkerut atau tidak menggunakan diksi-diksi tingkat tinggi, maka buku itu dianggap "jelek". Padahal, kualitas sebuah karya seringkali bersifat subjektif dan situasional.
Buku, Musik, dan Relativitas Selera
Mari kita bicara jujur: bacaan adalah soal selera. Titik.
Logikanya sama dengan musik. Kamu tidak bisa menghakimi seseorang yang merasa bahwa dangdut adalah genre musik terbaik, hanya karena kamu lebih suka mendengarkan jazz atau klasik. Musik memberikan resonansi yang berbeda pada setiap telinga, begitu pula dengan buku.
Menamai orang yang menyukai fiksi populer atau teenlit sebagai pembaca yang tidak bermutu adalah bentuk kesombongan intelektual yang semu. Bukankah tujuan utama membaca, selain mencari ilmu, adalah mencari pengalaman dan ketenangan?
Bagi sebagian orang, membaca sastra berat mungkin adalah cara mereka menantang diri. Namun, bagi sebagian lainnya yang sudah lelah dengan tuntutan pekerjaan 8 jam sehari, membaca kisah cinta ringan yang klise adalah cara mereka untuk bertahan hidup dan menjaga kesehatan mental. Apakah kita berhak merampas kebahagiaan sederhana itu dengan label "tidak bermutu"?
Literasi Bukan Ajang Unjuk Gengsi
Ketakutan terbesar saya adalah fenomena #BukuJelek dan book shaming ini justru membuat orang-orang yang baru ingin memulai hobi membaca menjadi ciut. Mereka akan merasa terintimidasi dan takut dicemooh jika ketahuan membaca buku yang tidak masuk dalam daftar "keren" versi netizen. Apa salalahnya membaca romansa jika itu membuat bahagia? Apa salahnya membaca fiksi, atau buku self healing ringan jika itu mudah dimengerti dan memberi kepuasan jiwa?
Literasi seharusnya inklusif, bukan eksklusif. Kita seharusnya merayakan fakta bahwa masih ada orang yang mau meluangkan waktu untuk membaca di tengah gempuran konten video singkat yang makin candu. Daripada sibuk menghakimi selera orang lain, bukankah lebih baik kita fokus memperkaya perspektif kita sendiri?
Pada akhirnya, sebuah buku yang dianggap "jelek" oleh satu orang bisa jadi merupakan penyelamat hidup bagi orang lain. Tidak ada salahnya mengkritik konten sebuah buku, tapi berhentilah menghakimi orang di baliknya.
Dunia sudah cukup bising dengan berbagai standar kehidupan yang melelahkan. Jangan jadikan hobi membaca sebagai beban baru hanya karena kita terlalu sibuk ingin terlihat paling intelek di media sosial. Karena pada akhirnya, buku terbaik adalah buku yang selesai dibaca dan memberi makna bagi pembacanya, bukan yang hanya dipajang untuk sekadar validasi gaya hidup.