Kolom
Ketika Wapres Gibran Bicara AI: Apa yang Sebenarnya Dibutuhkan Rakyat?
Kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) merupakan tema yang kerap muncul dalam pidato dan berbagai konten pejabat di negara kita. Salah satu pejabat yang getol menyerukan ialah Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka. Pidato mengenai AI tersebut kerap muncul melalui kanal Youtube resmi wapres, media sosial hingga beberapa kesempatan dalam perjalanan dinas dan kegiatan negara.
Pidato yang disampaikan Gibran kurang lebih ingin seolah ingin memromosikan sebagai masa depan Indonesia. Sejalan itu, maka generasi muda serta masyarakat lainnya agar segera beradaptasi dan tak tertinggal dalam perkembangan global. Rasanya, penyampaian tersebut tidaklah bisa dipungkiri. Sebagai ibu rumah tangga pun dalam keseharian saya juga tidak menyangkal bahwa AI menjadi bagian dari kehidupan saya. Seperti mencari ide konten, membuat gambar bahkan hal-hal domestik seperti mencari resep masakan.
Kini masyarakat juga memanfaatkan terutama untuk mendukung di hal-hal seperti marketing dalam usaha rumahan, UMKM, atau pembuatan konten di kalangan masyarakat. Sebut saja, membuat materi grafis atau copywriting. Tapi bukan tanpa kendala, penggunaan AI di keseharian tak lepas dari beragam tantangan lainnya. Misalnya, mendapati konten AI yang tidak sesuai, tidak sesuai etika, dan lain sebagainya.
Jika sudah begini, lagi-lagi teknologi seperti bilah pisau. Apakah ketajaman dan fungsinya melukai atau sebaliknya berguna jika digunakan sesuai. Pro kontra terus datang silih berganti. Misalnya lembaga atau instansi yang menggunakan AI dalam proses kerja-kerja seperti kebutuhan konten laman akun media sosial. Hal itu dianggap menggeser peran-peran atau pekerjaan tertentu seperti social media atau desain grafis. Padahal, penggunaan tersebut saya kira juga tetap memerlukan ilmu yang perlu dikuasai si pegawai meskipun "memakai" AI.
Namun lagi-lagi, sebagai ibu rumah tangga, sekaligus warga negara, saya sering bertanya dalam hati: apakah AI ini mampu menyelesaikan masalah, lantas masalah siapa? Bukan karena skeptis terhadap teknologi. Sebaliknya, saya sendiri juga aktif menggunakan teknologi setiap hari dalam hal kegiatan rumah tangga maupun pekerjaan.
Sementara saat pejabat getol menyampaikan dan seolah mengkampanyekan teknologi, seperti AI, lantas yang muncul di pemikiran ini adalah, apa dan bagaimana relevansinya terhadap khalayak masyarakat Indonesia.
Lantaran di kondisi seperti misalnya ketika mereka masih menghadapi problema harga kebutuhan pokok yang kian naik, lapangan kerja minim dan tak pasti hingga infrastruktur yang belum merata. Lagi-lagi tak pelak kita bisa mempertanyakan, apakah pembicaraan mengenai AI bisa terasa dekat dari kehidupan sehari-hari. Atau, sebaliknya?
Dengan demikian, kita bisa mendapati terjadi sebuah paradoks. Di saat pejabat serta elite politik sibuk membahas masa depan di era teknologi dan digital, di saat sama pula masih ada warga yang bergulat dengan persoalan dasar. Kita semakin sering mendengar istilah AI, big data hingga transformasi digital, lantas rupanya masih banyak masyarakat yang bertanya apa dan bagaimana manfaat konkretnya bagi kehidupan mereka.
Jika kita mau melihat dari sisi yang lebih bijaksana, semua hal berkaitan teknologi tentulah penting, namun teknologi merupakan alat, bukan tujuan. Bercermin dari gelombang peristiwa demonstrasi, kemudian masalah yang tengah membayangi masyarakat Indonesia saat ini, rasanya kita tidak membutuhkan pemimpin sekadar "bersimbol" modern dan "melek" teknologi. Tentu di kondisi saat ini, masyarakat membutuhkan solusi yang dapat membuat kehidupan mereka lebih baik.
Sebut saja, keberadaan AI akan terasa maknanya jika dapat membantu petani dalam meningkatkan hasil panen. Misalnya lagi, AI akan menjadi sangat relevan jika mampu membantu guru dalam menyiapkan materi pembelajaran. Selain itu, ada AI yang terasa sangat membantu UMKM jika bisa memperluas pemasaran.
Sebaliknya, kita harus mengkhawatirkan jika AI hanya sekedar jargon dan politik simbol yang terus diulang oleh pejabat. Jargon yang bahkan manfaatnya belum tentu dirasakan langsung oleh masyarakat. Tidak bisa dipungkiri, politik menjadi hal tak lepas dari bumbu-bumbu simbol. Akan tetapi, pada gilirannya masyarakat hidup tak memerlukan makna atau menerima simbol. Masyarakat membutuhkan hal aksi dan penyelesaian masalah dari problema sehari-hari yang dihadapi.
Dengan demikian pertanyaan yang kita bisa ajukan dan lebih mendesak bukan lagi apakah para pejabat atau pemimpin kita fasih membahas AI atau belum. Apakah teknologi yang dibahas tersebut sudah nyata menjawab kebutuhan warga hari ini? Apabila jawabannya belum, maka pekerjaan rumah kita bukan sekedar mengkampanyekan simbol dan jargon. Namun memastikan bahwa perkembangan teknologi berjalan selaras dengan penyelesaian dan menjawab kebutuhan dan problema di keseharian.