Kolom
Saat Jam Tidur Dilonggarkan: Nostalgia Masa Kecil Menonton Piala Dunia dengan Keluarga
Jika musik dikatakan sebagai bahasa universal, maka demikian pula dengan sepak bola. Alasannya, sepak bola juga bisa menyatukan segala perbedaan. Sebut saja perbedaan taktik di lapangan hijau serta rivalitas yang begitu "panas" antarklub dan pendukung. Berbicara mengenai sepak bola juga tidak luput dari event empat tahunan bertajuk World Cup yang juga menyimpan berbagai memori di setiap penyelenggaraannya. Memori ini menjadi sisi humanis yang bisa mengingatkan pada soal kita mendukung dan menjagokan sebuah tim, tetapi bagaimana dan dengan siapa kita menghabiskan kebersamaan saat nonton bersama?
Memori Quality Time di Ruang Tamu
Kalau boleh melihat kembali ke masa kecil, sebagian besar dari kita barangkali akan memiliki memori menonton sepak bola Piala Dunia. Sebuah masa di mana sumber hiburan dan informasi hanya bersumber dari televisi atau media cetak. Ada kalanya ruang tamu menjadi ruang perjumpaan antara kita dengan orang tua, saudara, dan tetangga yang saling menjagokan tim favorit masing-masing. Tidak pelak, hal-hal inilah yang secara emosional membangkitkan kenangan masa kecil mengenai arti quality time dan berkumpul bersama keluarga.
Kita tidak memungkiri bahwa setiap keluarga pun akan memiliki waktu bersama dengan anggota keluarganya melalui berbagai cara. Ada keluarga yang bisa saling berjumpa secara intens saat berada di ruang makan. Begitu juga kondisi kapan di mana mereka bisa berkumpul dan duduk bersama. Ada pula yang tidak bisa karena salah satu anggota keluarga bekerja di tempat jauh sehingga mengurangi intensitas pertemuan. Ada pula yang setiap hari berjumpa, tetapi pulang larut malam karena tuntutan pekerjaan. Apa pun itu, setiap keluarga tentunya ingin ada rasa kebersamaan dan rasa kehangatan untuk bisa saling berkomunikasi. Berada di sebuah ruang untuk duduk bersama pada waktu yang sama seperti menonton sepak bola tentunya adalah hal sederhana, tetapi membawa banyak makna.
Dinamika Jagoan dan Jam Tidur yang Melonggar
Kalau diingat lagi, kenangan ini sudah mulai terekam saat kita mulai duduk di bangku sekolah dasar. Mungkin kalau kita melihat anak-anak sekarang, tidur larut menjadi hal yang dihindari. Namun, bagi seorang anak kecil zaman dulu, ada kalanya saat Piala Dunia menjadi momen di mana aturan jam tidur tepat waktu sedikit melonggar. Anak-anak bersama orang tua, seperti bersama dengan ayah dan saudara lainnya berada di ruang TV, menonton dan bercengkerama bersama. Itulah saat di mana kita memahami apa saja istilah-istilah di dalam pertandingan sepak bola.
Selanjutnya, sisi lain yang menarik dari pengalaman Piala Dunia pada masa kecil adalah saat anggota keluarga di dalam rumah memiliki perbedaan tim jagoan. Ada kakak yang memilih Brasil, ayah yang mengidolakan tim Jerman, sementara ibu hanya sekadar ikut nimbrung saja atau sekadar terpana akan ketampanan salah satu pemain bintang. Pada hari setelah pertandingan terlewat, kadang obrolan-obrolan kecil itu muncul untuk membahas apa yang terjadi semalam.
Romantisisme Nostalgia di Era Gawai
Namun, waktu terus berjalan. Seiring kita bertambah dewasa, kita hidup terpisah dengan orang tua dan memiliki kehidupan masing-masing. Seperti pada tahun ini, saat semua bergerak dengan ritme yang lebih cepat. Informasi apa pun mudah tersedia hanya di dalam genggaman, termasuk event Piala Dunia ini. Kebiasaan menonton pertandingan sepak bola pun berubah. Kita bisa memegang gawai masing-masing. Tayangan ulang berseliweran di laman-laman media sosial. Di titik inilah terkadang muncul pertanyaan, apakah ternyata ada yang berubah? Ada yang berbeda? Terkadang media sosial atau periklanan juga turut "membangunkan" ingatan kenangan Piala Dunia pada masa kecil.
Pada gilirannya, momen itu tidak bisa berulang kembali, tetapi kita bisa menciptakannya kembali di kehidupan kita yang baru. Menciptakan memori dan ruang kebersamaan baru bersama anak-anak. Sebagai bahasa universal, sepak bola tampaknya sukses menjadi sebuah arena untuk menyatukan sisi emosional antargenerasi. Event Piala Dunia, event sepak bola empat tahunan yang menjadi hiburan, menjadi motivasi di tengah rutinitas yang melelahkan. Tidak hanya sekadar hiburan, melainkan sebagai jeda, ruang untuk sejenak bercengkerama, tertawa, hingga berbagi bersama orang-orang tercinta. Nah, bagaimana dengan para pembaca sekalian? Apakah ada kisah-kisah pengalaman memori menonton Piala Dunia yang berkesan dan tidak terlupakan bersama keluarga di rumah?