Kolom

Ketika Rumah Satwa Hilang, yang Punah Bukan Hanya Hewannya

Ketika Rumah Satwa Hilang, yang Punah Bukan Hanya Hewannya
Hewan Bekantan (Unsplash/@brewbottle)

Ketika seekor hewan kehilangan rumah, yang hilang sebenarnya bukan sekadar tempat untuk tidur atau berlindung. Habitat adalah keseluruhan sistem kehidupan yang membuat satwa mampu bertahan: tempat mencari makan, berkembang biak, membesarkan anak, mencari pasangan, menghindari predator, hingga berpindah dari satu wilayah ke wilayah lain. Karena itu, melindungi satwa tanpa melindungi habitatnya ibarat menyelamatkan penghuninya sambil membiarkan rumahnya dihancurkan.

Selama ini, perhatian terhadap satwa sering berhenti pada jumlah individu. Kita sibuk menghitung berapa ekor orangutan yang tersisa, berapa badak yang masih hidup, atau berapa harimau yang berhasil dipantau. Padahal ada pertanyaan yang tidak kalah penting: di mana mereka akan hidup?

Hewan tidak bisa bertahan hanya karena jumlahnya masih ada. Mereka membutuhkan ruang yang cukup dan lingkungan yang sesuai dengan kebutuhan biologisnya. Hutan bagi orangutan, misalnya, bukan sekadar kumpulan pepohonan. Di sanalah mereka mendapatkan makanan, bergerak dari satu tempat ke tempat lain, membangun sarang, dan membesarkan anak. Ketika hutan terfragmentasi atau berubah menjadi perkebunan, permukiman, pertambangan, maupun infrastruktur, seluruh pola kehidupan tersebut ikut terganggu.

Masalahnya menjadi lebih rumit ketika habitat terpecah menjadi potongan-potongan kecil. Seekor satwa mungkin masih memiliki hutan, tetapi belum tentu memiliki hutan yang cukup. Jalan, perkebunan, pagar, kawasan industri, dan permukiman dapat memutus jalur pergerakan satwa. Akibatnya, populasi yang sebelumnya saling terhubung bisa terisolasi.

Isolasi semacam ini bukan perkara sederhana. Ketika kelompok satwa terpisah terlalu lama, peluang bertemu individu dari kelompok lain semakin kecil. Ruang mencari makan juga menyempit. Persaingan mendapatkan sumber daya meningkat. Dalam kondisi tertentu, konflik dengan manusia pun menjadi lebih mungkin terjadi.

Di titik inilah kita perlu berhenti menggunakan istilah “satwa masuk ke permukiman” seolah-olah manusia selalu menjadi pemilik ruang, sedangkan satwa adalah pihak yang datang tanpa diundang. Bisa jadi yang terjadi justru sebaliknya: ruang hidup satwa yang terlebih dahulu dimasuki manusia. Ketika hutan ditebang dan sumber makanan berkurang, satwa akan mencari alternatif. Gajah dapat masuk ke kebun masyarakat. Monyet mendekati permukiman untuk mencari makanan. Predator turun mendekati kawasan manusia ketika mangsanya semakin sulit ditemukan. Konflik tersebut kemudian sering berakhir dengan satu kesimpulan yang terlalu mudah: satwanya dianggap mengganggu. Padahal konflik manusia-satwa sering kali merupakan gejala dari persoalan yang lebih besar, yakni rusaknya keseimbangan ruang hidup.

Karena itu, konservasi tidak boleh hanya berorientasi pada penyelamatan individu. Menyelamatkan seekor satwa memang penting, tetapi jika habitatnya terus dihancurkan, satwa yang diselamatkan hanya akan menghadapi persoalan yang sama di kemudian hari. Mereka mungkin dipindahkan, direhabilitasi, atau dilepasliarkan, tetapi ke mana mereka harus kembali jika hutan yang seharusnya menjadi rumah sudah berubah fungsi?

Kita juga perlu mengubah cara memandang pembangunan. Pembangunan tidak selalu berarti buruk bagi satwa, tetapi pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan dapat menciptakan biaya ekologis yang jauh lebih besar di masa depan. Setiap jalan yang membelah hutan, setiap kawasan yang membuka lahan, dan setiap aktivitas ekonomi di habitat satwa seharusnya mempertimbangkan konsekuensinya terhadap ekosistem. Sebab hutan bukan ruang kosong yang menunggu manusia untuk diberi fungsi. Di dalamnya sudah ada kehidupan yang berjalan jauh sebelum manusia datang dengan peta, izin, dan alat berat.

Menjaga habitat pada akhirnya bukan hanya tentang menyelamatkan hewan. Ini juga tentang menjaga fungsi ekosistem yang menopang kehidupan manusia. Hutan menjaga air, menyimpan karbon, melindungi tanah, dan menjadi tempat hidup berbagai organisme yang membentuk rantai kehidupan. Jangan heran ketika kepunahan bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan konsekuensi yang sedang berjalan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda