alexametrics

Obsesi Belanja Online dan Banjir Diskon Harbolnas

Naila Bidayah S
Obsesi Belanja Online dan Banjir Diskon Harbolnas
Ilustrasi online Shop / belanja online (shutterstock)

Pernahkah kamu menyesal ketika membeli barang, ternyata tidak dibutuhkan? Lalu, kamu bertanya mengapa semua itu bisa terjadi lagi dan lagi?

Suara.com - Jujur saja, siapa yang menantikan event harbolnas bahkan rela begadang? Tentu banyak yang tergiur dengan hari belanja online nasional atau akrab disebut harbolnas. Acara ini merupakan garapan enam e-commerce ternama, berjalan delapan tahun silam, dan kerap berhasil “menyulap” masyarakat menjadi siap siaga berburu berbagai diskon hingga hilang kendali saat berbelanja.

Budaya Belanja Online

Di era modern ini kehadiran situs belanja online memberikan banyak kemudahan bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya bahkan hanya dengan genggaman tangan. Namun, berbagai kemudahan tersebut sangat mendukung masyarakat berperilaku konsumtif. Perilaku konsumtif adalah kecenderungan seseorang membeli sesuatu secara berlebihan, tidak rasional, dan sekadar mendapatkan barang yang menjadi simbol keistimewaan menurut mereka (Setiaji, 1995).

Kebiasaan Konsumtif

Tak jarang berbagai promosi menarik serta "rayuan" membuat kita "gelap mata" sehingga menjadi berlebihan. Lalu, dari mana godaan konsumtif hadir? Betty dan Kahle (Sutisna, 2001), menyatakan bahwa godaan konsumtif datang karena:

  • Pengaruh keluarga, pilihan berbagai produk kepercayaan mengenai nilai modis atau tidaknya dipengaruhi keluarga.
  • Pengaruh kelompok teman sebaya, misalnya ketika teman kita telah membeli produk tersebut terlebih dahulu.
  • Pengalaman, ketika pengalaman di masa lalu kurang menyenangkan kita tentu tidak ingin membeli atau menggunakannya lagi, bukan? Begitu pun sebaliknya.
  • Kepribadian, misalnya pamer, gengsi, ikut-ikutan, dan lain-lain.

Selain itu yang tidak kalah berpengaruh adalah hadirnya iklan dan pikiran jangka pendek yang dapat memengaruhi kita untuk mengonsumsi barang atau jasa hanya berdasarkan keinginan bukan kebutuhan (Widiastuti, 2003).

Kontrol Diri

Jadi, harus gimana? Mengendalikan diri? Ya, benar sekali! Jawabannya mengendalikan diri. Rodin (dikutip dari Widiana dkk, 2004) menyatakan pengendalian diri adalah perasaan bahwa seseorang dapat mengambil tindakan dan memutuskan sesuatu secara efektif untuk menghasilkan sesuatu yang diinginkan dan menghindari yang tidak diinginkan (akibat).

Menurut Baumeister (dikutip dari Naomi & Mayasari, 2008), ada beberapa yang bisa diupayakan untuk mengendalikan diri kita dari perilaku konsumtif, yaitu membuat perencanaan sebelum melakukan perencanaan sebelum melakukan pembelian sehingga sesuatu yang dibeli sesuai dengan kebutuhan dan terkontrol dengan baik. Kemudian, kemampuan menilai dan mengevaluasi hasil pembelian secara objektif yang dapat dilakukan dengan menulis catatan. Terakhir, kemampuan untuk menahan diri melakukan pembelian di luar perencanaan yang ditentukan.

"... Maka kuncinya kita mesti disiplin ya, kalaupun nggak bisa nahan belanja online di rumah sementara bujet pas-pasan, saran saya hindari saja, copot aplikasinya," kata Andy Nugroho, perencana keuangan (dikutip dari detikcom). Tentu saja, untuk melalui semua ini perlu proses belajar dengan waktu yang tidak instan, selamat berproses!

Komentar