alexametrics

5 Alasan Mengapa Saat Ini Usia Remaja Rawan Depresi

Funcrev
5 Alasan Mengapa Saat Ini Usia Remaja Rawan Depresi
Ilustrasi orang yang sedang depresi. (Unsplash/Engin Akyurt)

Banyak orang bilang bahwa usia remaja adalah masa pencarian jati diri. Beberapa orang juga mengakui bahwa di usia remaja, mereka terkadang merasa sedikit lebih terbebani baik secara pikiran maupun fisik. Keadaan lingkungan sekitar, keluarga, dan pergaulan dapat memengaruhi emosi remaja. Emosi yang masih labil dan sering kali dipengaruhi mood, dapat menjadi penyebab timbulnya depresi pada remaja.

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berujung pada hal-hal yang tidak diinginkan, seperti berbagai gangguan kesehatan hingga munculnya rasa ingin bunuh diri. Jika dideteksi sedini mungkin, banyak dari penyebab depresi pada remaja yang bisa diatasi. Namun, sayang kebanyakan dari orang mengaggap bahwa kesehatan mental tidak sama pentingnya dengan kesehatan fisik, padahal keduanya sama pentingnya. 

Berikut beberapa penyebab yang kerap menjadi alasan timbulnya depresi pada remaja yang harus segera diatasi.

1. Tekanan sosial

Saat ini tekanan sosial banyak menjadi penyebab anak remaja mengalami depresi. Apalagi hadirnya media sosial banyak memicu persaingan antar remaja. Kenyataan hidup yang tak seindah media sosial kerap membuat seorang remaja merasa bahwa hidup mereka bukan apa-apa. 

Semakin banyak waktu yang mereka habiskan di media sosial, semakin tinggi pula risiko remaja memiliki tekanan mental yang dapat berujung pada stres dan depresi. Tidak hanya itu, di media sosial juga kerap terjadi cyber bullying yang akan sangat berbahaya bagi kesehatan mental seseorang. 

Oleh karena itu, sebaiknya gunakanlah media sosial dengan lebih bijak, jika memang ada hal yang menggangu, alangkah baiknya untuk tidak diberikan perhatian.

2. Rasa percaya diri yang rendah

Fenomena insecure yang marak terjadi di usia remaja juga menjadi faktor utama penyebab depresi. Memiliki kehidupan yang tak seindah di media sosial terkadang membuat banyak remaja merasa bahwa dirinya bukanlah siapa-siapa, bahkan tak jarang yang sampai mengaggap dirinya tidaklah berguna. 

Fenomena ini wajar terjadi karena maraknya standar yang harus dipenuhi untuk dapat diakui. Agar penyebab ini tidak terjadi, sebagai seorang remaja Kamu harus bisa belajar untuk mencintai diri sendiri, dengan begitu, kepercayaan diri akan semakin meningkat dan tidak terpengaruh oleh apa yang terjadi di media sosial.

3. Masalah percintaan

Masalah percintaan memang tidak dapat dihindarkan dari kehidupan seorang remaja. Meskipun ada pepatah mengatakan, cinta remaja hanyalah cinta monyet. Namun nyatanya, banyak remaja masa kini menjadi labil dan jika patah hati, seolah dunia 'hancur' saat mengalami putus cinta.

Agar hal ini tidak terjadi pada Kamu, alangkah baiknya untuk menerapkan dalam diri, bahwa apapun yang terjadi dari sebuah hubungan percintaan tidak boleh sampai menggangu pikiran Kamu. Dengan begitu Kamu akan lebih rileks jika masalah percintaan remaja Kamu terjadi.

4. Permasalahan keluarga

Permasalahan yang timbul di dalam keluarga juga sangat rentan menimbulkan perasaan depresi pada remaja. Mereka yang sudah tidak lagi anak-anak telah lebih mengerti dan ikut merasakan jika terjadi gejolak dalam keluarga mereka.

Hal ini akan susah disembuhkan jika orang tua bersikap acuh terhadap masalah tersebut. Oleh karena itu, jika hal ini terjadi pada Kamu, alangkah baiknya untuk menceritakan keluh kesah kamu kepada orang terdekat, agar mereka dapat membantu kamu keluar dari masalah tersebut.

5. Faktor genetik dan biologis

Selain faktor dari luar, faktor dalam diri juga dapat mempengaruhi tingkat depresi pada remaja. Jika seseorang lahir dari keluarga yang orang tuanya pernah mengalami penyakit gangguan mental atau riwayat depresi, maka besar peluang hal serupa menurun kepada anak-anaknya. Selain itu anak-anak yang hidup dengan penuh tekanan dari keadaan ekonomi keluarga, perceraian orang atau peristiwa traumatis sejenis juga rentan mengalami depresi. 

Pemicu-pemicu seperti di atas dapat diatasi dengan banyak melakukan evaluasi diri atau bantuan tenaga profesional. Pastikan juga untuk selalu menempatkan diri dalam lingkungan positif yang sehat dan mendukung kesehatan mental Kamu.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak