facebook

3 Alasan Mengapa Meditasi Rutin Sulit Dilakukan

Novan Harya Salaka
3 Alasan Mengapa Meditasi Rutin Sulit Dilakukan
Ilustrasi meditasi.[Unsplash/Omid Armin]

Bila latihan bermeditasi adalah salah satu daftar goal kamu di 2022, kemungkinan kamu memang pernah melakukannya. Atau kemungkinan lain adalah kamu pernah membaca banyak sekali artikel tentang manfaat bermeditasi terhadap kesehatan mental dan fisik.

Mindfulness dan meditasi adalah konsep yang telah dibicarakan dan dipelajari di dunia Barat sejak beberapa dekade ke belakang. Manfaat beragam bermeditasi telah ditunjukkan dalam banyak riset, seperti membantu melawan penyakit, depresi, kecemasan, meningkatkan fokus, efisiensi, dan sebagainya. Hingga titik ini, sebagian dari kita pasti telah menyadari bahwa bermeditasi benar-benar memiliki suatu manfaat.

Sayangnya, data statistik yang menunjukkan jumlah kegiatan meditasi rutin jarang ditemukan. Padahal, banyak studi telah menemukan bahwa terjadi peningkatan jumlah orang yang melakukan meditasi.

Teka-tekinya, setelah mengetahui kebaikannya, dukungan saintifik, dan bahkan merasakan sendiri manfaatnya, mengapa kita masih belum melakukan meditasi secara rutin? Mengapa begitu sulit bermeditasi dan bagaimana kita dapat mengatasi hambatannya?

Leah Katz, seorang praktisi psikolog di Oregon membicarakan masalah ini dalam Psychology Today. Ia melakukan riset kecil-kecilan di Instagram pribadinya, menanyakan pada followers-nya apakah mereka melakukan meditasi secara rutin dan apa yang menjadi penghambatnya? Hasilnya, sebanyak 37% menyatakan bahwa mereka melakukan meditasi secara teratur. Selebihnya merespons dengan menyampaikan hambatan yang mereka rasakan.

Kecemasan, tak sabar, tidak punya waktu, ketiduran, hal-hal yang harus dikerjakan, dan sebagainya adalah jawaban yang muncul berulang-ulang. Lalu, mengapa melakukan meditasi terasa begitu sulit dan bagaimana kita mengatasi hambatan-hambatan ini?

1. Meditasi itu Sulit

Duduk sendirian tanpa distraksi bukanlah hal yang mudah dilakukan, terutama bagi mereka yang memiliki luka fisik dan mental. Meditasi membutuhkan keberanian. Duduk bermeditasi membutuhkan kesediaan seseorang untuk hadir bersama dengan luka batin yang dapat muncul.

Apa yang bisa dilakukan? Persiapan secara mental dapat membantu. Terus ingatkan diri bahwa meditasi tidak harus dilakukan dengan duduk secara formal dalam waktu yang lama. 

2. Meditasi menyita waktu

Bagi yang pernah bermeditasi, pasti pernah terbesit dalam pikiran hal apa saja yang seharusnya dapat atau sudah dilakukan selama bermeditasi. Banyak hal yang bisa dilakukan dengan waktu yang kita punya dan beberapa di antaranya, mungkin terlihat lebih menarik dan penting daripada bermeditasi.

Hidup dalam dunia yang semakin sibuk dan cepat membuat kita merasa bahwa menyempatkan diri untuk duduk dan tidak melakukan apapun, adalah suatu hambatan melakukan meditasi. Apa yang bisa dilakukan? Menurut Leah, cari tahu manfaat bermeditasi. Membaca atau mendengarkan podcast tentang meditasi secara rutin dan teratur membuat keinginannya bermeditasi meningkat.

3. Banyak misinformasi

Banyak anggapan dan mitos palsu tentang meditasi yang menurut Leah salah, seperti orang dengan ADHD tidak bisa meditasi, tidak sanggup duduk terlalu lama, bukan tipe orang yang bermeditasi, dan sebagainya.

Menurut Leah, semua orang bisa bermeditasi. Dalam kurun waktu tertentu, seseorang tidak harus duduk untuk meditasi. Berlatih meditasi dapat dilakukan secara formal maupun informal, keduanya sama-sama valid. Latihan dapat dilakukan sembari berjalan-jalan atau melakukan kegiatan ringan lain.

Fokus pada hal mana yang paling dapat membantumu untuk berkembang. Tanya pada diri sendiri, mengapa meditasi secara konsisten sulit dilakukan? Apa yang bisa dilakukan tentang itu?

Sumber:

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/here-we-are/202201/why-is-it-so-hard-meditate 

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak