Saat memiliki waktu luang, kita akan mengisi waktu tersebut dengan berbagai hal. Entah itu untuk beristirahat, bercocok tanam, menonton drama Korea, atau mungkin membaca novel. Bagi seorang pecinta novel, setiap waktu kosong yang ada bagaikan anugrah yang diberikan kepadanya untuk bisa menamatkan novel bacaannya.
Jangankan untuk waktu yang cukup lama, bahkan untuk jam istirahat yang hanya berselang 15 menit saja tetap bisa mereka gunakan untuk membaca.
Sebagai orang-orang yang tidak sefrekuensi dengan mereka, tentu kita akan berpikir, “Untuk apa baca novel sampai tebal-tebal kayak gitu? Emangnya apa yang bisa didapat dari novel? Kan cuma karangan semata.”
Seringkali kita berpikir bahwa membaca novel hanya menghabiskan waktu dan tidak ada gunanya. Tapi, rupanya, kita salah. Sebab ada begitu banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari novel.
Berikut 3 pelajaran sederhana yang bisa kita dapat dari novel.
1. Berhenti mendambakan kehidupan yang sempurna
Siapa di sini yang suka berandai-andai memiliki kehidupan yang sempurna? Mempunyai wajah cantik, otak yang cerdas, keluarga harmonis, sahabat setia, dan pasangan yang sangat mencintai kita.
Sebenarnya, wajar jika kita mendambakan kesempurnaan seperti itu, tapi satu hal yang perlu kita tahu bahwa tidak ada kehidupan yang sempurna di muka bumi ini, bahkan di dalam novel sekalipun.
Ketika kita membaca novel, tentunya kita sering berkhayal untuk menjadi sosok A yang hidupnya begitu sempurna, tapi makin ke belakang kita tidak lagi berimpian seperti itu, karena kita telah mengetahui adanya kisah kelam yang harus dirasakan oleh tokoh A.
Sama seperti halnya hidup, kita juga sering iri dengan orang lain yang hidupnya lebih sempurna dibanding kita. Padahal, kelihatannya saja sempurna, kenyataannya belum tentu. Jadi, berhenti mendambakan kesempurnaan di dunia yang fana ini.
2. Kita hanya bisa menerka, sisanya ada di tangan Sang Pencipta
Kebiasaan yang tidak bisa kita hilangkan saat membaca novel adalah menerka-nerka apa yang akan terjadi kedepannya pada sang tokoh. Tapi, sekali lagi, kita hanya bisa menerka tanpa mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya secara pasti. Yang tahu hanyalah sang pencipta alias penulis novel.
Seperti halnya hidup, kita hanya bisa menerka apa yang akan terjadi esok hari atau barangkali berharap kedepannya akan menjadi seperti ini, tapi yang berkehendak mengatur kelanjutan hidup hanyalah Sang Pencipta.
3. Hidup menawarkan dua pilihan ending
Setiap novel setidaknya memiliki satu ending, entah itu ending yang bahagia (happy ending) atau justru kebalikannya (sad ending).
Hal tersebut mengajarkan kita bahwasanya di dalam hidup, kita akan dihadapkan dengan salah satu dari ending itu. Tapi, apa pun itu, semesta selalu punya alasan kenapa kita ditakdirkan dengan ending yang diberikan.
Itu adalah pelajaran-pelajaran sederhana yang bisa kita dapat dari novel. Jadi, berhenti menganggap kegiatan membaca novel sebagai kegiatan membuang waktu dan tidak ada gunanya.