4 Tips Mengatasi Burnout di Tempat Kerja, Menjadi Egois Itu Lebih Baik?

Hayuning Ratri Hapsari | Septyarosa Syahputri
4 Tips Mengatasi Burnout di Tempat Kerja, Menjadi Egois Itu Lebih Baik?
Ilustrasi burnout (Pexels/Nataliya Vaitkevich)

Apa kamu pernah merasa stres, merasa lelah, hingga frustrasi di tempat kerja? Mungkin kamu tengah mengalami burnout syndrome di tempat kerja. 

Dikutip dari situs kemenkeu.go.id, burnout adalah kondisi stres kronis di mana pekerja merasa lelah secara fisik, mental, dan emosional gara-gara pekerjaannya. Burnout ditandai dengan kelelahan fisik. Mereka yang mengalami burnout akan selalu merasa kekurangan energi dan merasa lelah sepanjang waktu.

Kalau sudah terjadi, maka satu-satunya cara adalah mengatasinya dengan tenang. Lantas, bagaimana cara mengatasi burnout di tempat kerja? Yuk, simak selengkapnya!

1. Berani menolak porsi beban kerja berlebih

Biasanya, burnout terjadi karena adanya beban kerja yang sebenarnya tak selalu sesuai debgan kontrak kerja. Misalnya, atasan selalu meminta pertolonganmu untuk mengerjakan beragam pekerjaan yang sebenarnya bukan porsi kerjamu tanpa adanya kompensasi yang sesuai. Sebagai bawahan, pastinya ada rasa mau tak mau untuk menerima. 

Namun, sebenarnya, kamu berhak untuk menolaknya jika itu tidak sesuai porsi kerja yang ada dalam kontrak. Berani menolak porsi beban kerja berlebih juga bisa menghindarkan kamu dari burnout di tempat kerja. Sesekali menerima mungkin sah saja, tapi kalau setiap hari ada saja, ya, menolak akan lebih baik.

2. Jaga jarak dari toxic people dan perbanyak energi positif

Salah satu cara mengatasi burnout di tempat kerja adalah dengan menjauhi atau minimal menjaga jarak dengan lingkungan yang toxic. Kita memang tidak pernah bisa mengatur seseorang, terlebih rekan kerja.

Namun, lingkungan yang toxic bisa menjadi sebuah ketidaknyamanan yang memicu rasa stres dan frustrasi apabila terus menerus mempengaruhi. Menjaga jarak dengan lingkungan yang tidak sehat akan menambah produktivitas kerja dan menghindari diri dari burnout syndrome di tempat kerja.

3. Berhenti menjadi people pleaser

Terkadang, kita rela jadi sosok people pleaser yakni kecenderungan yang dilakukan seseorang untuk menaruh kebahagiaan orang lain di atas kebahagiaannya.

Selalu mengiyakan permintaan atasan bahkan untuk pekerjaan yang tidak seharusnya kita kerjakan, atau selalu berusaha menyenangkan hati atasan dan rekan lainnya termasuk dalam golongan people pleaser. Hal ini membuat seseorang jadi tidak peduli akan dirinya, dan lebih mementingkan orang lain.

Jika si people pleaser ini tidak merasa mampu menyenangkan orang lain, maka hal ini bisa memicu rasa stres dan burnout di tempat kerja. Terkadang, kita harus berhenti menjadi sosok 'bak malaikat' untuk orang lain agar terhindar dari burnout di tempat kerja.

4. Ambil cuti setidaknya 3 hari untuk liburan

Istirahatkan pikiran dan ragamu sejenak. Ambil cuti setidaknya selama 3 hari untuk menenangkan diri sambil berlibur. Atau, minimal menghabiskan waktu untuk memanjakan diri sendiri. Hal ini bisa mengatasi rasa jenuh, lelah, dan menghilangkan burnout di tempat kerja.

Mengatasi burnout di tempat kerja akan menambah produktivitas dan kreativitas di tempat kerja. Jadi, bagaimana? Apa menjadi 'egois' itu lebih baik?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak