Hidangan Imlek, Pahami Perbedaan Kue Keranjang dan Kue Bulan

Lintang Siltya Utami | Wahyu Sukma
Hidangan Imlek, Pahami Perbedaan Kue Keranjang dan Kue Bulan
Ilustrasi kue bulan (mooncake) [Freepik/dashu83]

Perayaan Imlek selalu dihubungkan dengan berbagai makanan yang memiliki makna mendalam. Dua jenis hidangan yang paling terkenal adalah kue keranjang dan kue bulan yang memiliki rasa manis. Meskipun keduanya sering muncul saat perayaan Imlek, kedua kue ini sebenarnya memiliki perbedaan. Perbedaan itu terlihat dari waktu penyajian, rasa, hingga makna. Agar tak tertukar, berikut penjelasannya:

Kue Keranjang

Kue keranjang, salah satu camilan yang dihidangkan saat perayaan Imlek. (Shutterstock)
Kue keranjang, salah satu camilan yang dihidangkan saat perayaan Imlek. (Shutterstock)

Kue keranjang atau yang dikenal dengan nian gao adalah makanan yang wajib ada saat perayaan Imlek. Kue ini terbuat dari tepung ketan dan gula, sehingga menciptakan tekstur yang lengket dan kenyal.

Pada mulanya, kue keranjang digunakan sebagai sajian dalam berbagai ritual keagamaan. Seiring waktu, kue ini menjadi simbol Festival Musim Semi dan diyakini dapat membawa keberuntungan saat perayaan Imlek tiba.

Rasa manis dari kue keranjang melambangkan harapan kehidupan yang seharusnya semakin manis. Teksturnya yang lengket pun dianggap sebagai simbol kedekatan dalam keluarga.

Makna keberuntungan ini tidak hanya berhubungan dengan peningkatan rezeki, tetapi juga menyangkut karier, keturunan, dan harapan untuk menjalani tahun yang lebih baik.

Karakteristik dan tekstur kue keranjang yang padat dan kenyal seringkali membuatnya disebut sebagai dodol China. Sebutan ini muncul karena kesamaan penampilan, meskipun bahan dan cara pembuatannya berbeda.

Kue keranjang biasanya diletakkan secara bertingkat di meja persembahan. Setelah perayaan Imlek, kue ini sering dimasak kembali dengan cara digoreng atau dikukus.

Kue Bulan

Kue Bulan Halal atau Tidak (Unsplash)
Kue Bulan (Unsplash)

Di sisi lain, kue bulan atau mooncake lebih dikenal dalam Festival Pertengahan Musim Gugur. Namun, kue ini juga sering dijadikan sebagai hadiah saat perayaan Imlek.

Bentuk bulat dari kue ini melambangkan kesatuan dan kebersamaan dalam keluarga. Isian kue bulan sangat bervariasi, mulai dari pasta kacang merah, biji teratai, hingga kuning telur asin.

Tekstur kue bulan biasanya padat dengan rasa manis yang seimbang. Di bagian atasnya umumnya terdapat ukiran karakter Tionghoa atau pola khas yang menggambarkan doa.

Kue bulan memiliki sejarah panjang selama tiga ribu tahun di Tiongkok. Kue ini awalnya berfungsi sebagai persembahan pada Festival Pertengahan Musim Gugur.

Tradisi mengonsumsi kue bulan diyakini bermula pada era Dinasti Tang dan berlangsung hingga Dinasti Song Utara. Kemudian, popularitasnya meningkat pesat pada akhir Dinasti Yuan, menyebar di kalangan masyarakat umum hingga menjadi bagian dari hidangan sehari-hari orang Tionghoa.

Dalam hal tekstur, kue keranjang memiliki konsistensi yang kenyal dan lengket, sedangkan kue bulan lebih padat dan berisi. Meskipun makna filosofinya berbeda, keduanya sama-sama mengandung doa dan harapan baik.

Kedua kue ini tetap memiliki posisi penting dalam tradisi masyarakat Tionghoa. Kehadiran mereka menjadi simbol kebersamaan, doa, dan rasa syukur dalam setiap perayaan.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak