Satu dekade terakhir ini wilayah Indonesia sering dilanda bencana alam terutama yang disebabkan oleh faktor iklim. Seperti bencana banjir, longsor, kebakaran hutan dan lain sebagainya. Berikut ini beberapa bencana alam tersebut seperti banjir di Wasior Papua Barat 2010 yang memakan korban 288 orang.
Banjir Jakarta 2013 memakan korban 38 orang. Banjir bandang Manado 2014 memakan korban 26 orang. Kebakaran hutan dan lahan 2015 yang berdampak sedikitnya 16 Propinsi diselimuti kabut asap. Berbagai penelitian mencoba mengungkap apa penyebab bencana alam yang semakin sering terjadi.
Perubahan iklim dan pemanasan global sering disebut sebagai pemicu terjadinya iklim ekstrem yang berakibat munculnya berbagai bencana tersebut.
Di sisi lain perkembangan sektor pariwisata selama satu dekade terakhir semakin bagus. Sebagai penyumbang devisa negara, peringkat sektor pariwisata terus meningkat. Data yang dikeluarkan oleh Kemenpar (2018), devisa dari sektor pariwisata tahun 2011 dan 2012 menempati urutan kelima setelah migas, batu bara, minyak kelapa sawit dan karet olahan.
Devisa tahun 2011 sebesar 8,554 miliar dolar Amerika dan tahun 2012 sebesar 9,12 miliar dolar Amerika (meningkat 6,6 persen). Tahun 2013-2015 sektor pariwisata menempati urutan keempat dengan masing-masing nilai devisa 10,054 miliar dolar Amerika (2013), 11,166 miliar dolar Amerika (2014) dan 12,225 miliar dolar Amerika (2015), di mana terjadi peningkatan devisa sebesar 11,1 persen dan 9,5 persen.
Perolehan devisa negara dari sektor pariwisata sejak tahun 2016 sudah mengalahkan pemasukan dari migas dan di bawah pemasukan minyak kelapa sawit. Devisa pada tahun 2016 sebesar 13,568 miliar dolar Amerika (meningkat 11 persen) berada di posisi kedua setelah minyak kelapa sawit 15,965 miliar dolar Amerika. Bukan tidak mungkin tahun 2020 pariwisata bisa menduduki peringkat pertama.
Industri pariwisata sangat sensitif terhadap iklim dikarenakan hal ini berkaitan dengan keputusan kemana wisatawan akan memilih tujuan wisatanya. Faktor yang mempengaruhi keputusan untuk menentukan daerah yang akan dikunjungi selain faktor geografis, topografi, lanskap, vegetasi dan fauna adalah faktor iklim.
Berarti kondisi iklim merupakan hal yang penting untuk kegiatan pariwisata. Kenyamanan berwisata dikaitkan dengan kondisi iklim adalah faktor yang saling mempengaruhi wisatawan dalam menentukan destinasi wisata. Iklim yang kurang baik seperti hujan lebat atau angin kencang akan sangat mempengaruhi wisatawan untuk mengunjungi suatu kawasan wisata.
Begitu juga sebaliknya, iklim yang baik akan memberikan nilai tambah wisatawan untuk berkunjung. Aktifitas wisata outdoor akan terganggu dengan kondisi iklim yang kurang baik. Sehingga pengalaman dan persepsi wisatawan terhadap kondisi iklim perlu dijadikan referensi dalam pemeringkatan kenyamanan berwisata.
Informasi iklim akan sangat membantu kita dalam mengambil keputusan. Prakiraan iklim yang dikeluarkan oleh Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofiska (BMKG) bisa kita jadikan sebagai pedoman dalam memutuskan kemana akan berwisata.
Begitu juga dengan pengelola kawasan wisata, informasi iklim juga bisa membantu untuk meningkatkan pemasukan finansial dan mutu layanan wisata. Oleh karena itu menjadi penting bagaimana memberikan informasi kenyamanan wisata berdasarkan parameter iklim seperti curah hujan, suhu, angin, kelembaban udara dan cahaya matahari.
Kita akan sangat sulit menentukan nyaman atau tidaknya suatu kawasan wisata hanya didasarkan dari satu parameter seperti suhu saja. Sehingga dibutuhkan setidaknya lima parameter untuk menentukan nyaman atau tidaknya suatu kawasan wisata.
Paradigma yang mesti dipakai oleh pengelola kawasan wisata terutama wisata alam adalah tempat wisata/rekreasi dikontrol oleh iklim yang dilihat sebagai sumber daya rekreasi dan lokasi yang dapat diklasifikan sebagai spektrum yang menguntungkan atau tidak menguntungkan. Dengan demikian iklim adalah sumber daya yang mesti diekploitasi setelah sumber daya alam.
Dengan cara ini iklim dapat diperlakukan sebagai aset ekonomi untuk pariwisata. Aset ini dapat diukur dan merupakan sumber daya yang mampu dinilai. Tapi ada banyak masalah, salah satunya adalah pemilihan kriteria klimatologi.
Misalnya, apa sebenarnya kriteria untuk kondisi ideal, cocok, diterima, atau tidak dapat diterima? Kapan waktu terbaik untuk mengunjungi tempat wisata atau rekreasi? Jenis pakaian apa yang harus digunakan untuk mengunjungi tempat wisata?
Bahaya apa yang diakibatkan untuk dunia wisatra jika terjadi iklim atau iklim ekstrem? Dan masih banyak lagi pertanyaan lainnya. Hanya setelah kriteria iklim yang sesuai diidentifikasi dengan jelas dapat menjawab semua pertanyaan tersebut.
Saat ini banyak indeks yang digunakan dalam menentukan kenyamanan iklim untuk berwisata, salah satunya adalah TCI (Tourism Climate Index). TCI ini memakai lima parameter iklim yakni suhu udara, kelembaban udara, curah hujan, sinar matahari dan kecepatan angin.
Penghitungan kenyamanan didasarkan pada bobot masing-masing parameter. Suhu dan kelembaban mempunyai bobot 50 persen, curah hujan mempunyai bobot 20 persen, sinar matahari mempunyai bobot 20 persen dan kecepatan angin mempunyai bobot 10 persen.
Semua parameter dijumlahkan dengan kriteria jika skor indeks di atas 60 persen dianggap nyaman. Skor indeks antara 40-59 persen adalah ambang toleransi. Dan skor indeks dibawah 40 persen kondisi tidak nyaman.
Dengan semakin meningkatnya potensi bencana alam seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan lain sebaginya maka informasi iklim terkait kenyamanan wisata menjadi sangat penting.
Diharapkan informasi tersebut dapat dipahami dan diakses dengan mudah oleh masyarakat. Sehingga masyarakat dapat dengan mudah merencanakan kegiatan berwisata yang nyaman.
Penulis: Dr. Nofi Yendri Sudiar/Doktor pada prodi Klimatologi Terapan IPB dan Dosen Fisika Universitas Negeri Padang