Pulihnya Bencana Sumatra Ketika Kita Bersinergi se-Indonesia

Lintang Siltya Utami | Muthiah Alhasany
Pulihnya Bencana Sumatra Ketika Kita Bersinergi se-Indonesia
Beberapa ruas jalan yang menjadi akses utama di Aceh telah diperbaiki oleh Ditjen Marga. (sumber: ditjen binamarga)

Bencana banjir bandang di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh telah lebih dari satu bulan berlalu. Alhamdulillah sudah tampak berbagai kemajuan dalam penanganan dampak banjir tersebut. Warga di tiga provinsi sudah mulai bernapas, mulai menjalankan berbagai aktivitas.

Indonesia memang negeri yang rentan terhadap bencana alam karena berada di dalam lingkaran cincin api. Bukan hanya banjir dan gempa yang menjadi ancaman, tetapi juga tsunami yang telah beberapa kali menerjang. Bencana yang hebat dan dahsyat berkali-kali melanda negeri, kita selalu bangkit lagi. Allah memberikan kita kekuatan lahir dan batin.

Begitu pula dengan banjir bandang yang mengakibatkan jatuhnya korban jiwa lebih dari seribu orang, sementara ratusan ribu lainnya kehilangan tempat tinggal. Kita berdukacita untuk saudara-saudara yang terdampak, tapi tentu saja tidak bisa berpangku tangan. Dengan segala daya, kita bantu mereka.

Seluruh warga negara Indonesia bersatu padu untuk membantu. Kita bergandengan tangan tanpa memandang status dan golongan. Masing-masing menyumbangkan sesuai dengan kemampuan. Ada yang berkorban dengan harta dan ada yang berkorban dengan tenaga serta keahlian. Inilah wujud kerjasama dan gotong royong yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Semua ingin menghentikan tangis di Sumatra.

Memulihkan infrastruktur

Bencana telah menghancurkan infrastruktur di tiga provinsi tersebut. Padahal infrastruktur ini adalah nadi perekonomian, yang menghubungkan satu desa dengan desa lainnya, satu wilayah dengan wilayah lainnya. Banyak jalan dan jembatan yang tidak bisa lagi diakses sehingga masyarakat kesulitan untuk mencari bantuan.

Menyadari hal itu, maka bantuan logistik diupayakan melalui udara. Beberapa lembaga dan tokoh publik bekerja sama berusaha menjangkau tempat terpencil. Pesawat kargo hanya bisa landing di bandara dan membutuhkan space yang lebih luas. Karena itu pemerintah mengerahkan 50 helikopter untuk menyalurkan bantuan logistik ke desa-desa terpencil.

Di sisi lain, lumpur dan jutaan kubik kayu memenuhi jalan setinggi satu meter lebih. Ini menguras energi untuk membersihkannya. Bayangkan berapa kilometer jalan yang harus dibersihkan, dan hal itu harus dilakukan dengan cepat mengingat banyak penduduk yang terjebak di desa-desa. Jika terlambat, maka nyawa rakyat menjadi taruhannya.

Jalur mobilitas warga dan distribusi bantuan dapat berjalan lancar setelah bencana sempat melumpuhkan 80 ruas jalan nasional dan 33 jembatan di tiga provinsi. Pemulihan cepat ini menjadi harapan baru bagi warga terdampak.

Misalnya, pembersihan ruas Jalan Nasional KM 157+025-KM 171+235 yang dilakukan Ditjen Bina Marga. Ini untuk mengatasi sedimen, lumpur, dan sisa bencana yang menghambat lalu lintas, guna memulihkan fungsi jalan sebagai penghubung strategis antarwilayah di Aceh.

Untuk mempercepat pemulihan, alat berat segera diturunkan ke lapangan. Ditargetkan paling lambat Januari 2026, akses Gayo Lues-Aceh Tengah hingga Gayo Lues-Aceh Tenggara dapat dilalui kendaraan roda empat. Kementerian PU juga meminta daerah segera menyiapkan perencanaan agar penanganan bisa langsung dikerjakan saat anggaran tersedia.

Apresiasi yang tinggi kita berikan pada rakyat yang ada di wilayah bencana. Meskipun mereka menderita, tetapi masih bersemangat dalam membantu aparat untuk memperbaiki sarana dan prasarana daerah. Mereka pun sangat menginginkan agar daerah mereka menjadi pulih dari bencana alam yang melanda.

Di samping infrastruktur, maka sasaran selanjutnya adalah memperbaiki fasilitas umum yang rusak. Masjid-masjid, puskesmas, rumah sakit dan sekolah menjadi prioritas demi kepentingan masyarakat. Jangan sampai hal mereka sebagai rakyat diabaikan.

Mesin tersebut mampu mengolah air kotor menjadi air layak konsumsi dan diharapkan memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi di lokasi terdampak. Mesin ini menggunakan teknologi filtrasi berbasis FRP, reverse osmosis, dan penyinaran ultraviolet.

Jalan nasional batas Pidie Jaya dan kota Bireuen sepanjang 14, 21 km telah berhasil dibersihkan. Bahkan penanganan oprit jembatan Meureudu sudah dituntaskan. Langkah selanjutnya adalah menormalisasikan fungsi sungai dengan memperkuat tebing sungai Krueng Tiro.

Jembatan Kreung Tingkeum yang menghubungkan jalur di Aceh Timur sudah fungsional bisa dilewati masyarakat pada Sabtu (27/12/2025).

Perbaikan Jembatan Kreung Tingkeum yang berada di Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireun, Aceh dilakukan bersama-sama berbagai instansi terkait dan masyarakat menggunakan jembatan bailey. Dengan demikian seluruh akses lalu lintas di seluruh Aceh Timur sudah terhubung. Sebelum dibuka fungsional, Kementerian PU telah melakukan uji kelayakan dengan melakukan uji beban sehingga dinyatakan aman untuk dibuka untuk umum.

Pembangunan kembali secara total memang tidak bisa dikerjakan dengan mudah seperti membalikkan telapak tangan. Butuh waktu yang lama agar seluruh wilayah dapat pulih seperti sedia kala. Kita percayakan hal itu kepada pemerintah.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak