Sejak kecil, aku tahu bahwa rumah tua di ujung desa itu memiliki satu ruangan yang tidak pernah dianggap ada. Kamar nomor tujuh berada di lorong paling belakang, terpisah dari kamar-kamar lain, dengan pintu kayu tebal yang selalu terkunci rapat.
Tidak ada yang berani mendekatinya terlalu lama. Bahkan bayangannya saja sering membuat langkah orang-orang melambat tanpa sadar.
Rumah itu dikelilingi pohon-pohon tua yang batangnya sudah dipenuhi lumut. Pada malam hari, suara dedaunan yang saling bergesekan kerap terdengar seperti bisikan panjang yang tidak pernah selesai.
Aku tinggal di sana bersama nenekku sejak orang tuaku meninggal. Sejak aku mulai mengingat masa kecilku, kamar nomor tujuh sudah menjadi bagian dari rumah yang tidak boleh dibicarakan.
Setiap malam, tepat ketika suasana rumah benar-benar sunyi, suara aneh kerap terdengar dari balik pintu kamar itu. Awalnya hanya seperti tarikan napas panjang, berat, dan pelan. Seiring waktu, suara itu berubah menjadi sesuatu yang lebih jelas, seperti langkah kaki yang berjalan mondar-mandir di ruang sempit.
Anehnya, setiap kali aku mendekat, suara itu langsung berhenti, seolah sadar sedang diawasi.
Larangan nenek untuk tidak mendekati kamar itu selalu terasa mutlak. Ia tidak pernah menjelaskan alasannya, hanya menegaskan bahwa kamar tersebut kosong dan tidak perlu diketahui isinya. Namun, justru karena itulah rasa ingin tahuku tumbuh semakin besar.
Aku sering terbangun di tengah malam dengan perasaan diawasi, dan pandanganku selalu tertuju pada lorong gelap tempat kamar nomor tujuh berada.
Ketika aku beranjak dewasa, kondisi nenek semakin melemah. Ia sering duduk termenung, menatap lorong belakang rumah dengan wajah yang sulit aku pahami. Pada suatu pagi, aku melihatnya menangis tanpa suara.
Pandangannya tertuju tepat ke arah pintu kamar nomor tujuh. Saat itu, untuk pertama kalinya, ia mengakui bahwa kamar tersebut tidak pernah benar-benar kosong.
Ia menceritakan masa lalu yang selama ini disimpannya rapat. Bertahun-tahun sebelum aku lahir, nenek memiliki seorang anak laki-laki yang hidupnya berakhir di kamar nomor tujuh. Sejak kejadian itu, pintu kamar tersebut selalu terkunci dengan sendirinya, seolah menolak untuk dibuka kembali. Nenek percaya bahwa yang terperangkap bukan hanya kenangan, melainkan sesuatu yang tidak pernah menemukan jalan keluar.
Malam setelah pengakuan itu, nenek meninggal dunia. Rumah yang selama ini terasa sunyi berubah menjadi tempat yang menekan. Tanpa kehadiran nenek, suara dari kamar nomor tujuh terdengar semakin jelas.
Tidak lagi hanya napas dan langkah kaki, tetapi juga gesekan kasar seperti benda keras yang digoreskan ke dinding.
Aku mulai merasa bahwa kamar itu menyadari keberadaanku sepenuhnya. Setiap aku melintas di lorong, udara terasa lebih dingin. Lampu sering berkedip tanpa sebab.
Tidur menjadi hal yang sulit karena rasa cemas yang terus menghantui. Hingga suatu malam, aku mendengar suara tangisan tertahan dari balik pintu kamar nomor tujuh. Tangisan itu berlangsung lama, penuh kelelahan, dan membuat dadaku terasa sesak.
Rasa takut perlahan berubah menjadi dorongan untuk mengetahui kebenaran. Aku menemukan sebuah kunci tua di laci lemari nenek. Bentuknya besar dan berat, tidak seperti kunci pintu lain di rumah itu.
Malam itu, dengan tangan gemetar, aku berdiri di depan pintu kamar nomor tujuh. Suara dari dalam tiba-tiba berhenti, menciptakan keheningan yang jauh lebih menakutkan.
Saat pintu terbuka, tidak ada perabot apa pun di dalam kamar. Ruangan itu kosong, sempit, dan gelap. Bau apek memenuhi udara. Di tengah ruangan, tergantung seutas tali tambang yang masih berayun pelan, seolah baru saja disentuh. Dinding kamar dipenuhi bekas goresan kuku, tidak beraturan, menandakan kepanikan yang pernah terjadi di sana.
Aku melangkah masuk tanpa sadar. Begitu kakiku menyentuh lantai kamar, pintu di belakangku menutup dengan sendirinya.
Udara di dalam terasa berat, membuat napas sulit ditarik. Dalam cahaya redup, aku melihat tulisan-tulisan kasar di dinding, diulang berkali-kali, seolah ditorehkan oleh tangan yang sudah kehilangan harapan. Tulisan itu menyiratkan bahwa ruangan tersebut tidak pernah benar-benar kosong.
Lampu tiba-tiba padam. Dalam kegelapan total, aku merasakan kehadiran lain di ruangan itu. Napas hangat menyentuh leherku, disertai perasaan bahwa aku sedang diperhatikan dari jarak yang sangat dekat.
Bayangan hitam perlahan muncul dari sudut kamar, memanjang dan membentuk sosok manusia dengan leher tertekuk dan wajah yang tidak utuh. Yang paling mengerikan adalah kenyataan bahwa wajah sosok itu sangat mirip denganku. Seolah kamar itu tidak hanya menyimpan masa lalu, tetapi juga sedang menciptakan penghuninya yang baru.
Keesokan paginya, rumah itu kembali sunyi. Tidak ada yang melihatku keluar dari kamar nomor tujuh. Pintu kamar itu terkunci rapat seperti sebelumnya. Penduduk desa hanya menyadari satu perubahan kecil yang tidak pernah berani mereka bicarakan.
Setiap malam, dari balik pintu kamar kosong yang selalu terkunci itu, kini terdengar dua napas yang bergantian, menandakan bahwa kamar tersebut akhirnya tidak lagi sendiri.