Nara Lahmusi dan Gita FU Spill Rahasia Membuat Cerpen Makin Menarik di Yoursay Writing Class

Lintang Siltya Utami
Nara Lahmusi dan Gita FU Spill Rahasia Membuat Cerpen Makin Menarik di Yoursay Writing Class
Yoursay Writing Class. [Instagram/yoursay_id]

Yoursay bekerja sama dengan Bentang Pustaka menghadirkan penulis novel dan cerpenis Nara Lahmusi di Yoursay Writing Class pada Jumat (23/1/2026). Tak sendirian, kelas menulis ini juga diramaikan oleh salah satu member Yoursay, Gita FU. Keduanya membeberkan rahasia menulis cerita pendek (cerpen) agar semakin menarik di mata pembaca.

Nara Lahmusi sendiri membuka kelas ini dengan gaya penyampaian yang santai. Ia menyebut dirinya sendiri sebagai seorang koki dan menganalogikan cerpen sebagai masakannya. Untuk membuat masakan yang lezat, maka dibutuhkan pula bahan-bahan yang berkualitas.

Mengingat cerita yang ditulis pendek, Nara menegaskan bahwa penulis harus berfokus pada satu tokoh dan satu masalah. Hal dasar itulah yang membedakan cerpen dengan novel.

"Kalau novel kan masalahnya banyak, bisa menumpuk. Tapi kalau cerpen, cukup satu masalah saja. Kenapa? Karena kita juga harus memikirkan penyelesaiannya. Kalau cerpen punya banyak masalah, akan seberapa panjang cerpen tersebut?" ucapnya saat membuka sesi pertama Yoursay Writing Class.

Menurut Nara, ada tiga hal yang setidaknya harus diperhatikan oleh para penulis untuk membuat cerpen, yaitu ide, struktur, dan kompas bahasa. Ia menjabarkan bahwa ide-ide bisa bermunculan dari mana saja, baik itu keresahan dari diri sendiri ataupun lingkungan sekitar. Para penulis hanya perlu bertanya pada diri sendiri untuk menemukan ide tersebut.

Sementara perihal struktur, Nara berpendapat bahwa struktur tiga babak adalah struktur yang paling cocok untuk membuat cerpen karena sederhana. Struktur itu sendiri diumpamakan seperti seekor hewan yang terdiri dari tiga bagian: kepala, badan, dan ekor.

Pada bagian kepala, penulis harus menempatkan pembukaan cerpen yang terdiri dari pengenalan tokoh dan masalah yang dihadapinya. Ia menjelaskan bahwa pembukaan cerpen tidak boleh bertele-tele dan usahakan untuk menggunakan kalimat yang tak biasa. Pasalnya, bagian ini sangat penting karena kalimat pertama adalah pertaruhan apakah cerpen yang ditulis akan lanjut dibaca atau tidak.

Selanjutnya, bagian kepala berisi ketegangan cerpen. Dalam hal ini, penulis bisa memasukkan usaha apa saja yang dilakukan tokoh di dalam cerpen untuk mencapai tujuan atau menyelesaikan masalah yang menjeratnya.

Bagian terakhir adalah ekor, di mana ending dari cerita tersebut. Akhir cerpen berisi jawaban atas ketegangan-ketegangan hingga klimaks cerita. Kerangka inilah yang akan mengusung roh cerita.

Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan penulis cerpen adalah aspek bahasa, di mana penulis harus memiliki data objektif seperti 5W1H, data subjektif yang mencakup penokohan, dan rasa bahasa. Dalam kompas bahasa ini, penulis harus tahu kapan menggunakan bahasa yang puitis, lugas, atau intelek untuk membangun sebuah karakter.

Yoursay Writing Class. [Dok Pribadi / Nara Lahmusi]
Salah satu sesi di Yoursay Writing Class bersama Nara Lahmusi dan Gita FU. [Dok Pribadi / Nara Lahmusi]

Di sisi lain, Gita FU sebagai member Yoursay yang kerap mengirimkan karya cerpennya pun membagikan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan. Baginya, judul adalah sesuatu yang krusial bagi penulis cerpen. Bukan tanpa sebab, judul merupakan hal pertama yang akan dilirik oleh pembaca. Jika judul cerpen menarik dan unik, maka kemungkinan untuk dibaca akan semakin besar.

Saat menulis cerpen, Gita FU juga memperhatikan aspek logika cerita dan dialog. Artinya, apa pun yang penulis uraikan dalam sebuah cerita, itu harus memiliki alasan yang logis.

Tak hanya itu, meskipun masing-masing penulis cerpen tentu memiliki subjektivitas yang berbeda, namun sebaiknya hindari untuk menjadi penceramah dalam cerpen. Gita FU menjelaskan bahwa pesan moral dalam cerita bisa disampaikan melalui dialog yang dibangun antar tokoh, sehingga tidak membosankan.

Perihal teknis bahasa, Gita FU juga menyebutkan untuk tidak terpaku pada penggunaan kalimat yang kaku. Penulis cerpen dapat mengombinasikan kalimat panjang dan pendek secara bersamaan, serta menyisipkan kalimat-kalimat naratif yang menjelaskan perubahan suasana latar atau emosi tokoh.

Ia juga menekankan untuk memperhatikan tanda baca dalam dialog dan narasi. Pasalnya, meskipun hal ini terdengar sederhana, tetapi masih banyak penulis yang lupa dan abai.

"Sebagai penulis, terutama yang ingin mempublikasikan karya ke khalayak, maka mau tidak mau kita harus berteman dengan aturan EYD. Wajib hukumnya bagi kita untuk mengetahui cara bagaimana menempatkan tanda baca dengan tepat," jelas Gita FU dalam sesi kedua Yoursay Writing Class.

Sebagai tambahan, ia menyarankan agar penulis bisa menyimpan karyanya terlebih dahulu sebelum dipublikasikan atau meminta orang lain untuk membaca cerpen tersebut guna mendapatkan masukan dari pihak ketiga.

Untuk memperkaya wawasan, penulis juga bisa memperbanyak membaca cerpen yang telah terbit sebelumnya untuk mengamati bagaimana pemilik cerpen membangun alur, konflik, hingga kosakata.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak