Normal atau Tidak? Memahami Pergolakan Batin dan Lelah Mental di Usia 20-an

M. Reza Sulaiman | Riswanda Aristiawan
Normal atau Tidak? Memahami Pergolakan Batin dan Lelah Mental di Usia 20-an
Ilustrasi perempuan muda (freepik.com/freepik)

Usia 20-an sering kali terasa seperti berdiri di persimpangan tanpa papan petunjuk. Di satu sisi, kita dituntut dewasa. Di sisi lain, banyak hal masih terasa asing. Hari-hari diisi dengan keputusan kecil yang rasanya besar.

Perasaan campur aduk ini sering membuat kita bertanya, “Aku normal, kan?” Jawabannya: iya, sangat normal.

1. Merasa Dewasa dalam Satu Hal, tetapi Kekanak-kanakan dalam Hal Lain

Di usia 20-an, kamu bisa memikirkan masa depan dengan serius, tetapi tetap bingung memilih menu makan siang. Kamu bisa bertanggung jawab dalam pekerjaan, tetapi panik saat harus menelepon orang asing. Rasanya seperti hidup dalam dua versi diri yang berbeda. Kadang merasa sudah jauh melangkah, kadang merasa tertinggal.

Momen ini sering membuat kita ragu pada diri sendiri, padahal sebenarnya itu adalah bagian dari proses. Kedewasaan memang tidak datang sekaligus; ia tumbuh di satu sisi sambil tertatih di sisi lain.

2. Lelah Bekerja, tetapi Bingung Saat Libur Tiba

Capek Kerja, Tapi Bingung Kalau Libur .(freepik.com/diana.grytsku)
Capek Kerja, Tapi Bingung Kalau Libur .(freepik.com/diana.grytsku)

Hari kerja terasa panjang dan melelahkan. Namun, saat libur datang, justru muncul kebingungan. Mau istirahat, tetapi kepala tetap penuh. Mau produktif, tetapi badan meminta jeda. Akhirnya, waktu libur habis tanpa rasa puas. Hal ini sering terjadi karena kita terbiasa sibuk sampai lupa cara benar-benar diam.

Usia 20-an mengajarkan bahwa lelah bukan hanya soal fisik, melainkan juga soal pikiran yang tidak pernah benar-benar berhenti.

3. Merasa Tertinggal, Padahal Jalan Hidup Berbeda

Media sosial penuh dengan kabar baik orang lain. Ada yang menikah, naik jabatan, atau terlihat mapan. Kamu ikut senang, tetapi diam-diam membandingkan diri sendiri. Muncul perasaan tertinggal meskipun sadar bahwa hidup bukan lomba. Perasaan ini sering datang tanpa logika.

Usia 20-an memang fase rawan membandingkan diri. Kita lupa bahwa setiap orang berjalan dengan waktu dan beban yang berbeda, meskipun layar ponsel terlihat seragam.

4. Punya Banyak Rencana, tetapi Sulit untuk Memulai

Ilustrasi Wanita Punya Banyak Rencana, Tapi Sulit Memulai.(freepik.com/wayhomestudio)
Ilustrasi Wanita Punya Banyak Rencana, Tapi Sulit Memulai.(freepik.com/wayhomestudio)

Ide berseliweran di kepala. Ingin pindah karier, memulai usaha, atau mengubah hidup. Namun, langkah pertama terasa sangat berat. Bukan karena malas, seringnya hal itu terjadi karena takut salah. Takut gagal, takut pula menyesal. Akhirnya, rencana hanya tinggal wacana.

Momen ini umum terjadi di usia 20-an, saat pilihan terasa banyak tetapi keberanian belum sepenuhnya matang. Kita belajar bahwa memulai memang sering kali lebih sulit daripada membayangkan hasilnya.

5. Ingin Mandiri, tetapi Kadang Rindu "Diselamatkan"

Ada dorongan kuat untuk membuktikan diri bahwa kita bisa berdiri sendiri dan mengurus hidup tanpa bantuan. Namun, pada waktu tertentu, muncul rindu akan dukungan sederhana. Ingin ada yang mendengarkan tanpa menghakimi, ingin ditenangkan tanpa ditanya solusi. Perasaan ini sering membuat bingung karena seolah bertolak belakang. Padahal, mandiri tidak berarti menutup diri. Usia 20-an mengajarkan bahwa meminta dukungan bukanlah tanda kegagalan.

Usia 20-an memang penuh dengan momen aneh. Namun, justru di situlah kita belajar tentang jatuh, bangkit, ragu, dan bertahan. Kalau kamu merasa hidupmu terasa berantakan, kemungkinan besar kamu sedang berada di fase yang sangat manusiawi. Dan itu tidak apa-apa.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak