Sulit dipercayai bahwa sebuah skandal besar yang menyangkut jajaran elit paling berpengaruh di dunia, yang melibatkan anak-anak di bawah umur sebagai komoditas perdagangan gelap, dapat tersimpan rapat selama puluhan tahun. Kasus ini sangat berbelit-belit dengan banyak konspirasi yang mengelilinginya, serta semakin sulit diselidiki karena tersangka utamanya tewas bunuh diri.
Pada 19 Desember 2025, Departemen Kehakiman Amerika Serikat resmi merilis ratusan ribu halaman dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein. Rilis masif kembali terjadi pada 30 Januari 2026 sebanyak 3 juta halaman. Langkah besar ini merupakan kelanjutan dari disahkannya Undang-Undang Transparansi Kasus Kekerasan Seksual oleh Kongres Amerika Serikat pada November 2025. Undang-undang ini menjadi kunci legal yang memaksa pembukaan tabir keterlibatan tokoh-tokoh berpengaruh yang selama ini terlindungi oleh status sosial mereka.
Bukan sekadar pengulangan gosip lama, rilis terbaru ini juga membawa fakta-fakta yang lebih spesifik dan mengejutkan terkait jaringan yang terlibat, bahkan melintasi batas negara dan moral.
Siapa Saja yang Terseret?
Epstein bukan sekadar miliarder biasa. Ia adalah otak di balik sindikat perdagangan seks lintas negara. Terdapat beberapa nama elit politik yang muncul dalam dokumen tersebut, tetapi tidak selalu menunjukkan adanya keterlibatan kriminal di dalamnya.
Salah satu di antaranya adalah Donald Trump yang muncul ratusan kali dalam berkas investigasi. Meski sering dikaitkan dengan pergaulan sosial Epstein pada era 90-an, Trump secara konsisten membantah terlibat dalam aktivitas ilegal apa pun.
Selain itu, ada juga Bill Clinton dan Pangeran Andrew yang foto-foto lama serta catatan perjalanannya kembali diperiksa. Pangeran Andrew sebelumnya telah menyelesaikan perkara hukumnya dengan salah satu korban, yakni Virginia Giuffre, beberapa tahun yang lalu.
Tersangkut juga nama Elon Musk dan Bill Gates yang tidak kalah mengejutkan. Dokumen tersebut mengungkap adanya upaya Epstein untuk mendekati dua raksasa teknologi ini melalui e-mail. Elon Musk beberapa kali menolak undangan tersebut dan tidak pernah berkunjung ke pulau pribadinya.
Keberanian Para Penyintas
Kasus ini berawal dari keberanian Maria Farmer dan adiknya yang melaporkan pelecehan seksual yang mereka alami pada pertengahan 1990-an. Namun, saat itu kekuasaan Epstein terlalu kuat sehingga kasusnya belum mencuat. Akhirnya, pada 2008, namanya benar-benar muncul di depan hukum Amerika Serikat.
Epstein menjalani 13 bulan penjara dalam kesepakatan hukum yang kontroversial. Hal ini memicu belasan perempuan di bawah umur lainnya untuk mulai bersuara. Pada tahun 2011, kasus ini kembali menyita perhatian publik melalui Virginia Giuffre. Ia mengungkap fakta mengerikan bahwa dirinya dipaksa berhubungan seksual di lingkungan elit Epstein.
Kerja Sama Gelap
Dalam dokumen terbaru, terungkap rincian “buku hitam” Epstein yang berisi ribuan kontak orang penting, serta log penerbangan pesawat pribadinya yang dijuluki “Lolita Express”.
Epstein tidak bekerja sendiri. Ia bersama kekasihnya, Ghislaine Maxwell, dituding menyalurkan perempuan di bawah umur untuk melayani klien-klien internasional. Tragedi puncaknya terjadi pada tahun 2019. Ketika itu, Epstein kembali didakwa oleh Jaksa Federal di New York dengan tuduhan perdagangan seksual.
Ia tewas karena bunuh diri pada tahun 2019 di ruang tahanan saat proses hukum berlangsung. Kematiannya menghentikan proses hukum pribadinya, tetapi justru membuka pintu bagi pengungkapan jaringan yang lebih luas. Sementara itu, proses hukum tetap berjalan bagi rekannya. Maxwell dinyatakan bersalah pada tahun 2021 dan saat ini tengah menjalani hukuman 20 tahun penjara.