Fenomena generasi muda yang terjebak utang sejak usia belia kian menguat dalam beberapa tahun terakhir. Paylater, pinjaman online, dan berbagai fasilitas kredit digital hadir dengan wajah ramah, bahasa promosi yang ringan, serta proses yang nyaris tanpa friksi. Dalam hitungan menit, seseorang dapat memiliki akses dana atau barang yang sebelumnya sulit dijangkau. Namun, kemudahan itu kerap datang lebih cepat daripada kematangan finansial dan literasi ekonomi penggunanya.
Bagi banyak anak muda, paylater bukan lagi alat bantu darurat, melainkan bagian dari gaya hidup. Membeli gawai terbaru, tiket konser, hingga kebutuhan harian sering kali dilakukan dengan skema tunda bayar.
Masalahnya, penundaan pembayaran ini jarang disertai perhitungan rasional tentang kemampuan melunasi. Utang tidak lagi dipahami sebagai beban jangka panjang, melainkan sekadar angka cicilan bulanan yang terlihat kecil di layar ponsel.
Di sisi lain, pinjaman online menjanjikan solusi instan atas masalah keuangan jangka pendek. Tanpa agunan dan tanpa tatap muka, dana cair seketika. Namun, bunga tinggi, biaya layanan, dan denda keterlambatan kerap tersembunyi di balik syarat dan ketentuan yang jarang dibaca. Ketika jatuh tempo tiba, utang bertambah, tekanan meningkat, dan lingkaran masalah mulai terbentuk.
Budaya Konsumsi dan Ilusi Kemampuan Membayar
Akar persoalan ini tidak berdiri sendiri. Ia berkelindan dengan budaya konsumsi yang tumbuh subur di ruang digital. Media sosial menampilkan standar hidup yang serba cepat dan serba ada. Anak muda didorong untuk selalu mengikuti tren, tampil relevan, dan tidak tertinggal. Dalam konteks ini, paylater dan pinjol menjadi alat untuk mengejar pengakuan sosial, bukan sekadar pemenuhan kebutuhan.
Ilusi kemampuan membayar muncul ketika cicilan terasa ringan dan penghasilan rutin belum terganggu. Padahal, banyak pekerja muda berada dalam kondisi kerja yang rentan. Kontrak jangka pendek, pendapatan tidak tetap, dan minimnya jaminan sosial membuat stabilitas finansial mudah goyah. Ketika terjadi pemutusan kerja atau kebutuhan mendadak, kewajiban cicilan tetap berjalan tanpa kompromi.
Masalah diperparah oleh rendahnya literasi keuangan. Banyak generasi muda belum memahami konsep bunga majemuk, rasio utang terhadap pendapatan, maupun risiko gagal bayar. Utang dipersepsi sebagai hal lumrah, bahkan normal. Selama aplikasi masih bisa digunakan dan limit belum habis, risiko seolah jauh dari jangkauan. Padahal, satu keterlambatan dapat membuka pintu pada akumulasi beban yang sulit dihentikan.
Jalan Keluar dari Lingkaran Utang Dini
Mengatasi jebakan utang sejak usia muda membutuhkan pendekatan yang lebih luas daripada sekadar imbauan individu. Edukasi literasi keuangan harus menjadi bagian dari kurikulum dan ruang publik, tidak hanya diserahkan pada inisiatif pribadi. Anak muda perlu dibekali kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, serta memahami konsekuensi jangka panjang dari keputusan finansial.
Di sisi regulasi, pengawasan terhadap produk keuangan digital perlu diperketat. Transparansi bunga, biaya, dan risiko harus disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Model promosi yang menormalisasi utang sebagai solusi gaya hidup patut dievaluasi. Negara memiliki peran penting untuk memastikan bahwa inovasi finansial tidak berubah menjadi alat eksploitasi kerentanan generasi muda.
Bagi individu, langkah kecil dapat menjadi titik awal. Menyusun anggaran sederhana, membatasi penggunaan paylater untuk kebutuhan mendesak, dan berani berkata cukup terhadap tekanan konsumsi adalah bentuk perlindungan diri. Utang seharusnya menjadi alat yang digunakan dengan sadar, bukan jebakan yang mengunci masa depan sejak dini.
Terjebak utang di usia muda bukan sekadar persoalan angka di aplikasi keuangan. Hal ini menyangkut kesehatan mental, relasi sosial, dan kesempatan hidup jangka panjang.
Jika dibiarkan, generasi yang seharusnya membangun masa depan justru memulai langkahnya dengan beban yang berat. Membebaskan anak muda dari lingkaran utang dini berarti menjaga harapan mereka untuk hidup yang lebih berdaulat secara ekonomi.