Misoginis adalah kebencian terhadap perempuan yang diwujudkan melalui berbagai cara, seperti fitnah, kekerasan, dan diskriminasi seksual. Konon, praktik misoginis lebih banyak terjadi di negara terbelakang dan negara berkembang. Namun kenyataannya, ada negara maju yang masih mempraktikkan misoginis nyaris di segala lini kehidupan. Contohnya, Korea Selatan. Di Negara Ginseng, budaya patriarkhi demikian mencengkeram. Pada saat sama, kedudukan perempuan sangat termarginalkan, bahkan tertindas.
Realitas pahit ini terungkap jelas lewat rangkaian kehidupan Kim Ji-yeong, tokoh utama novel Kim Ji-yeong, Lahir Tahun 1982. Misalnya, di Korea Selatan, praktik aborsi bagi janin perempuan, diperbolehkan dengan alasan medis, sebab masyarakat lebih mengharapkan kehadiran bayi laki-laki. Hal ini pula yang dilakukan ibu Kim Ji-yeong sebegitu mengetahui jenis kelamin kandungannya. Dia meminta maaf kepada suami dan mertua, kemudian pergi ke dokter untuk menghapus janin yang dianggap memalukan itu (hal. 25-27).
Dalam hal pendidikan, laki-laki selalu diharapkan mengenyam sekolah setinggi-tingginya. Sementara itu, umumnya, setamat sekolah menengah, perempuan menjadi pekerja kasar guna mendapatkan tambahan biaya pendidikan saudara laki-laki mereka. Inilah yang dilakukan ibu Kim Ji-yeong dan teman-temannya. Meski terpaksa menderita sakit paru-paru, mereka tetap bekerja untuk kesuksesan anak laki-laki yang berarti adalah kebahagiaan keluarga (hal. 32-33).
Di bidang kerja yang mengedepankan intelektualitas, laki-laki selalu diutamakan, sebab lebih meyakinkan (hal. 95). Jika ada perempuan yang berhasil menembus lapangan kerja berbasis intelektualitas, promosi jabatan sukar didapatkan, walau dia berprestasi. Alasannya, perempuan yang pintar dan punya kinerja menonjol, tampak mengintimidasi (hal. 94-97).
Sementara itu, jika terjadi pelecehan seksual, seperti yang dialami Kim Ji-yeong, perempuan selalu disalahkan, sebab, “Ia harus berhati-hati, harus berpakaian pantas, harus bersikap pantas. Ia harus menghindari jalan yang berbahaya, waktu yang berbahaya, dan orang yang berbahaya. Kalau sampai ia tidak sadar dan tidak menghindar, maka ia sendiri yang salah (hal. 65-66).
Secara umum, novel Kim Ji-yeong Lahir Tahun 1982 berisi pertanyaan-pertanyaan kritis akan praktik misoginis di Korea Selatan, serta ajakan untuk merombaknya agar lebih adil dan ideal.
Di halaman 166, Kim Ji-yeong bertanya tentang ketidakadilan yang menimpanya, “Aku sudah melahirkan seorang anak dengan susah payah, aku sudah melepaskan hidupku, pekerjaanku, impianku, keseluruhan diriku demi membesarkan anakku. Tetapi aku malah dianggap seperti serangga. Lalu apa yang harus kulakukan sekarang?”
Melalui novel ini, pembaca semakin dibukakan nuraninya betapa diskriminasi gender dan praktik misoginis di Korea Selatan (atau di belahan mana pun di dunia ini), terus dilakukan atas nama tradisi. Padahal, sebagai buatan manusia, tradisi sejatinya bersifat lentur, karena dapat berubah (diubah) serta disesuaikan kebutuhan. Tinggal bagaimana manusianya sendiri, mau atau tidak menyempurnakannya?