facebook

Ulasan Buku 'Lelucon Para Koruptor,' Ketika Penjara Tak Membuat Jera

Sam Edy Yuswanto
Ulasan Buku 'Lelucon Para Koruptor,' Ketika Penjara Tak Membuat Jera
Buku "Lelucon Para Koruptor" (DocPribadi/ Sam Edy)

Korupsi termasuk tindak kejahatan yang mestinya harus dijauhi oleh siapa pun. Sayangnya, sebagian petinggi atau pejabat negeri ini, masih kerap tersandung kasus korupsi hingga menyebabkan mereka tertangkap dan akhirnya masuk penjara

Tingkah para pejabat yang terseret kasus korupsi memang sangat menyebalkan. Mereka telah merugikan banyak pihak, khususnya rakyat yang masih banyak yang hidup dalam rantai kemiskinan. 

Ada kisah menarik yang menyindir tingkah menyebalkan para koruptor dalam buku berjudul Lelucon Para Koruptor karya Agus Noor. Buku terbitan Diva Press ini berisi kumpulan cerpen yang layak disimak oleh para pembaca. 

Salah satu cerpen yang menarik disimak (sekaligus terpilih menjadi judul buku ini) adalah Lelucon Para Koruptor. Berkisah tentang kelakuan para koruptor di dalam penjara. Mereka, meski di dalam penjara, tapi masih bisa bersenang-senang karena mendapat fasilitas atau pelayanan yang sangat jauh berbeda dengan tahanan pada umumnya. 

Adalah Otok, pria yang menyandang predikat koruptor yang baru masuk penjara. Penjara yang berbeda dengan penjara pada umumnya. Penjara yang difasilitiasi kemewahan. Namun, Otok tak mengira bahwa di dalam penjara dia akan bertemu dengan rekan-rekan sesama koruptor, yang juga mendapat fasilitas istimewa. Setiap malam Rabu, mereka akan mengadakan pertemuan, saling mengobrol dan masing-masing harus membuat lelucon yang bikin rekan-rekan lainnya tertawa.  

“Setiap kali datang ke pertemuan, siapkan saja satu lelucon paling lucu yang kau punya, yang bisa menentukan martabatmu,” begitu pesan salah satu rekan sesama koruptor kepada Otok. Berikut ini sebagian kecil kutipan dalam cerpen tersebut:

Akhirnya, Otok tahu. Pertemuan itu terkadang diadakan di ‘apartemen yang memiliki ruangan lebih luas’—biasanya karena penghuni apartemen itu yang meminta, sebab ingin sekalian merayakan ulang tahun atau mengadakan ‘syukuran kecil’ untuk hal-hal apa pun yang mereka anggap pantas dirayakan. 

Maka, pertemuan itu menjadi semacam arisan bergilir. Namun, pertemuan lebih sering diadakan di aula serbaguna yang letaknya di tengah lapas. Pernah juga di tempat terbuka, di lapangan yang biasanya dipakai olahraga pagi. Suasananya menjadi seperti pesta kebun, sembari menikmati minuman dan bermacam makanan. Wedang jahe, teh poci gula batu, kopi tubruk, atau bahkan berbotol-botol wine. Gorengan, kacang rebus, martabak, mi, juga pizza. Dan, pernah juga kambing guling. Semua bisa pesan makanan kesukaannya. Tentu saja dengan biaya ekstra.

Sembari santai menikmati makanan dan minuman, setiap yang hadir bergiliran menyampaikan satu lelucon. Ia menikmati suasananya yang riuh rendah.

Kisah tentang para koruptor yang hidup di dalam penjara dengan pelayanan istimewa tentu sangat disayangkan. Harusnya penjara membuat mereka jera. Tapi, bagaimana mereka bisa jera bila tempat tahanan mereka begitu istimewa dan nyaman?

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak