Setiap Manusia Butuh Tuhan dalam Buku 'Ketika Tuhan Tak Lagi Dibutuhkan'

Hikmawan Firdaus | Sam Edy
Setiap Manusia Butuh Tuhan dalam Buku 'Ketika Tuhan Tak Lagi Dibutuhkan'
Buku 'Ketika Tuhan Tak Lagi Dibutuhkan'.[amazon.com]

Rasanya sangat mustahil ketika ada orang yang mengaku tak membutuhkan Tuhan. Ya, bagaimana mungkin ada orang yang tak butuh Tuhan, sementara dia sendiri adalah makhluk ciptaan Tuhan? 

Bukan hanya manusia saja. Bahkan bumi langit seisinya semuanya hasil ciptaan Tuhan. Jadi, sangat keterlaluan bila ada sebagian orang yang tak butuh Tuhan dan mengabaikan kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan oleh manusia.

Kepercayaan atau keimanan kita kepada Tuhan, semestinya menjadikan kita sosok pribadi yang berusaha lebih baik dari hari ke hari. Bukan malah sebaliknya, menjadi manusia yang selalu menumpuk dosa atau kemaksiatan.

Ahmad Rifai’ Rif’an menulis, bagi seseorang yang beriman, kepercayaan kepada Allah hendaknya tidak hanya membuatnya menjadi pribadi yang saleh dalam peribadatan ritual. Tetapi ia harus memiliki dampak terhadap kehidupan sosialnya.

Itulah sebabnya KH. Mustofa Bisri mengungkapkan bahwa sesungguhnya dikotomisasi antara kesalehan ritual dengan kesalehan sosial sangat tidak menguntungkan bagi kehidupan beragama di kalangan kaum muslim. Karena hakikatnya kesalehan dalam Islam hanya satu, yaitu kesalehan muttaqi (hamba yang bertakwa). Kesalehan tersebut sudah mencakup dua hal sekaligus: ritual dan sosial (hlm. xvii).

Kita harus berusaha memiliki keseimbangan dalam menjalani kehidupan ini. Seimbang yang saya maksudkan adalah seimbang antara dunia dan akhiratnya. Jangan hanya sibuk mencari dunia saja, sementara akhiratnya kita kesampingkan. Keduanya harus berjalan seimbang. Harapannya agar kita mendapatkan kebahagiaan dan keberuntungan.  

Orang yang tenggelam menekuni keduniaan cenderung menjadikan dunia sebagai poros dari segala aktivitasnya. Detik-detik waktunya hanya ia isi dengan pekerjaan yang berdampak pada perbaikan kehidupannya di dunia semata, tanpa ada visi panjang meraih kesejahteraan di alam yang baqa’ (hlm. 67).

Hal yang penting direnungi dalam menapaki hidup ini adalah berusaha tetap menjaga semangat dan keimanan kita. Berusahalah untuk tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang berbau kemakisatan. Andaikan suatu hari kita melakukan maksiat, bersegeralah untuk memohon ampunan Tuhan.

Kehidupan modern semakin menyediakan banyak ragam dosa setiap harinya. Mulai bangun tidur hingga berangkat tidur lagi kita akan disuguhi dengan banyak sekali godaan. Kita hampir tidak bisa memastikan apakah hari ini kita melakukan dosa atau tidak. Tetapi Allah Maha Pengampun. Tentu saja kepada hamba-hamba yang serius melakukan tobat. Sebesar apa pun dosa yang pernah Anda perbuat, jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, karena Allah Maha Pengampun dosa (hlm. 73-74).

Buku kumpulan opini berbagai tema karya Ahmad Rifai’ Rif’an yang diterbitkan oleh penerbit Quanta (Jakarta) ini sangat bagus dijadikan sebagai bacaan yang akan membantu kita merenungi hidup sekaligus mengajak kita agar berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari kemarin.

Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak