Terselip di antara film drama dan romansa lainnya, "Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu" muncul sebagai kejutan dengan gaya penyajiannya yang berbeda.
Diadaptasi dari novel karya Pidi Baiq dan disutradarai oleh Kuntz Agus, film ini membawa kita pada perjalanan emosional Sadali, Arnaza, dan Mera.
Dengan Ajil Ditto, Adinia Wirasti, dan Hanggini sebagai pemeran utama, film ini menawarkan cerita yang menarik dan penuh konflik.
Sinopsis Film Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu
Sadali, seorang pelukis muda idealis, berencana pergi ke Yogyakarta untuk mengejar mimpinya. Namun, sebelum berangkat, ia diperkenalkan dengan Arnaza, gadis yang telah setuju menikah dengannya.
Janji untuk kembali pada Arnaza tetap terpatri saat ia mulai kehidupan baru di Yogyakarta.
Di sana, ia bertemu Mera, pemilik rumah yang ia tinggali, yang ternyata adalah wanita impiannya.
Dilema pun muncul ketika Sadali menyadari Mera memiliki seorang putri dan sedang dalam proses perceraian. Pilihan sulit antara cinta, impian, dan janji pun harus dihadapinya.
Ulasan Film Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu
Film ini menyuguhkan visual yang memukau dengan komposisi adegan yang rapi dan estetika yang mengesankan.
Gaya penyutradaraan Kuntz Agus sangat terasah, dengan setiap adegan dipikirkan dengan matang dari segi pencahayaan dan warna.
Salah satu adegan yang menonjol adalah ketika Sadali dan Mera duduk di depan mobil pada waktu subuh, diterangi lampu depan mobil, yang benar-benar memanjakan mata penonton.
Akting Adinia Wirasti sebagai Mera patut mendapatkan pujian.
Memerankan ibu muda yang sedang dalam proses perceraian, Wirasti tampil anggun dan natural, menjauh dari klise femme fatale.
Karakter Mera berhasil ditampilkan dengan martabat dan kesederhanaan, membuat penonton paham mengapa Sadali begitu terpesona padanya.
Tema cinta segitiga mungkin sudah terdengar umum, namun film ini lebih fokus pada hubungan antara Sadali dan Mera.
Meskipun screentime Arnaza lebih sedikit, kehadirannya tetap terasa dan mempengaruhi keputusan Sadali.
Hanggini, meskipun hanya muncul sebentar, berhasil menunjukkan karakter Arnaza dengan sempurna sebagai gadis polos yang penuh impian.
Sayangnya, Ajil Ditto sebagai Sadali terasa kurang seimbang dibandingkan dengan lawan mainnya.
Aktingnya sebagai pelukis idealis dengan tendensi playboy terdengar kurang natural, terutama ketika berhadapan dengan Wirasti yang tampil sangat natural.
Bagi penggemar seni, film ini memiliki banyak frasa quotable dan dialog yang mendalam.
Meskipun karakter Sadali membutuhkan karisma yang kuat, Ditto hanya mampu menampilkan sebagian potensinya.
Namun, pengemasan estetik dan penyutradaraan yang rapi membuat film ini tetap menarik, meski ceritanya mengikuti tren pasar.
Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu berhasil memberikan penyelesaian yang memuaskan dan membuka potensi untuk cerita selanjutnya.
Drama yang dihadirkan penuh dengan dilema dan kontroversi, membuatnya menjadi tontonan yang menarik dan menggugah emosi penonton.
Cek berita dan artikel lainnya di GOOGLE NEWS