Sobat Yoursay tahu nggak? Ada film yang sekadar jadi hiburan, ada yang sukses menggugah emosi, dan ada juga yang menancapkan dirinya begitu kuat hingga sulit untuk dilupakan.
Nah, ‘Forrest Gump’ termasuk dalam kategori terakhir, film yang nggak hanya sukses secara finansial, tapi juga menyabet berbagai penghargaan prestisius, termasuk enam piala Oscar, mengalahkan dua kandidat besar: ‘Pulp Fiction’ dan ‘The Shawshank Redemption’.
Disutradarai Robert Zemeckis dan dibintangi Tom Hanks sebagai Forrest Gump. Nah, ‘Forrest Gump’ merupakan adaptasi dari novel karya Winston Groom lho.
Selain Tom Hanks, film ini juga dibintangi Gary Sinise sebagai Letnan Dan Taylor, Mykelti Williamson sebagai Bubba, dan Sally Field sebagai ibunya Forrest. Produksi film ini ditangani Paramount Pictures dan jadi salah satu film paling berpengaruh dalam sejarah perfilman Hollywood.
Namun, di balik pencapaiannya yang luar biasa, Apa benar Film Forrest Gump benar-benar mahakarya, atau justru terlalu berlebihan dinobatkan sebagai film terbaik pada masanya? Kepoin yuk!
Sekilas tentang Film Forest Gump
Film ini mengisahkan perjalanan hidup Forrest Gump (Tom Hanks), pria dengan IQ 75 yang memiliki cara berpikir ‘unik bin polos’. Forrest memang nggak cerdas, tapi ketulusan dan ketekunannya membawanya melewati berbagai peristiwa besar dalam sejarah Amerika. Dari perang Vietnam, bertemu dengan ikon-ikon dunia seperti Elvis Presley dan John Lennon, hingga menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Sambil duduk di bangku taman menunggu bus, Forrest menceritakan kisah hidupnya kepada orang-orang yang silih berganti duduk di sebelahnya. Namun, ada satu hal yang selalu menjadi pusat hidupnya: Jenny Curran (Robin Wright), cinta sejatinya sejak kecil. Meski jalan hidup mereka berbeda, Forrest nggak pernah berhenti mencintai dan berharap bisa selalu bersamanya.
Sebegitu menyentuhnya kisah Forrest dan Jenny. Lalu, bagaimana dengan kesan selepas nonton film ini? Kalau kamu masih butuh banyak detailnya, simak terus sampai akhir ya!
Impresi Selepas Nonton Film Forrest Gump
Jujur saja, saat pertama kali menonton Forrest Gump, aku ikut terbawa dalam keajaiban cerita dan kehangatan karakternya. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, apakah film ini benar-benar sehebat itu? Ataukah hanya sekadar memainkan emosi penonton dengan cara yang terlalu sentimental?
Salah satu alasan ‘Forrest Gump’ overrated, menurutku karena film ini terlalu ‘aman’ dibanding pesaingnya di Oscar tahun itu. ‘Pulp Fiction’ tuh sebenarnya gebrakan sinematik dengan dialog tajam dan struktur cerita non-linear yang revolusioner, sementara ‘The Shawshank Redemption’ menawarkan kisah persahabatan dan harapan yang begitu dalam. Sebaliknya, Film Forrest Gump terasa lebih seperti dongeng yang membius penonton dengan nostalgia dan drama yang begitu rapi dikemas.
Film ini juga penuh dengan kebetulan yang hampir mustahil terjadi dalam kehidupan nyata. Forrest tiba-tiba menjadi inspirasi banyak orang, tanpa benar-benar menyadari apa yang dia lakukan. Keberhasilannya dalam berbagai bidang, misalnya saat jadi bintang sepak bola, pahlawan perang, pebisnis sukses, hingga pelari fenomenal, terasa terlalu mulus dan seperti disengaja untuk memancing simpati.
Apakah itu buruk? nggak juga. Namun, jika dibandingkan dengan film-film lain yang lebih realistis dan menggali psikologi karakter dengan lebih dalam, Film Forrest Gump memang terasa lebih seperti fantasi ketimbang drama kehidupan yang membumi.
Dan aku nggak akan menyangkal kalau Forrest Gump adalah film yang sangat emosional. Namun, di beberapa bagian, aku merasa film ini terlalu berusaha untuk memanipulasi perasaan penonton.
Dari awal hingga akhir, kita disuguhkan serangkaian adegan yang seolah-olah dirancang untuk membuat kita menangis. Begini, Forrest tuh pria baik yang terus-menerus mengalami kesedihan dan kehilangan—ibu yang meninggal, Jenny yang terus menjauh, sahabatnya Bubba yang gugur di Vietnam, hingga akhirnya Jenny kembali hanya untuk meninggal setelah mereka menikah. Semua itu disusun dengan oke agar kita nggak punya pilihan selain bersimpati kepadanya.
Hal ini bukan berarti filmnya buruk. Justru sebaliknya, teknik storytelling Film Forrest Gump sangat efektif. Sayangnya bagiku, pendekatan ini terasa terlalu berlebihan, seperti film ini nggak ngasih kesempatan buat penonton untuk berpikir sendiri, melainkan memaksa penonton buat merasakan emosi yang sudah “diatur” sejak awal.
Namun, di sisi lain, ada alasan mengapa film ini begitu dicintai. Kesederhanaan Forrest yang kontras dengan dunia yang kompleks menjadi cermin bagi banyak orang. Di tengah segala kesulitan, dia tetap memiliki hati yang tulus dan nggak pernah berhenti berusaha. Mungkin itulah yang membuat film ini begitu mengena bagi banyak orang.
Pada akhirnya, film ini adalah tentang bagaimana kita melihat kehidupan. Ada yang menganggapnya terlalu berlebihan, ada pula yang merasa kisahnya menyentuh dan inspiratif. nggak ada jawaban yang benar atau salah, karena film, seperti halnya hidup, adalah sesuatu yang kita maknai sesuai dengan pengalaman kita masing-masing.
Skor: 4/5