Film horor Indonesia berjudul Alas Roban resmi tayang di bioskop dan langsung menarik perhatian penonton. Mengangkat latar jalur Alas Roban yang selama ini dikenal sebagai salah satu ruas jalan paling angker di Jawa Tengah, film ini hadir dengan pendekatan horor yang berbeda dari kebanyakan film sejenis. Alih-alih mengandalkan jump scare beruntun, Alas Roban memilih membangun ketegangan secara perlahan melalui suasana, emosi, dan konflik batin para karakternya.
Sejak menit awal, film ini memperlihatkan nuansa sunyi dan muram yang konsisten. Jalanan sepi, hutan yang gelap, serta minimnya dialog menjadi elemen utama dalam membangun rasa tidak nyaman. Penonton diajak memasuki dunia cerita tanpa banyak penjelasan langsung, sehingga misteri berkembang secara alami. Pendekatan ini membuat Alas Roban terasa lebih dekat dengan horor psikologis dibanding horor eksploitasi visual.
Dari sisi cerita, Alas Roban berfokus pada dampak sebuah peristiwa yang terjadi setelah melewati jalur Alas Roban. Teror tidak hadir dalam bentuk serangan frontal, melainkan gangguan yang perlahan menggerogoti kehidupan tokoh utama.
Film ini menempatkan trauma, rasa bersalah, dan ketakutan sebagai sumber horor utama, sehingga ancaman terasa personal dan emosional. Hal ini menjadi salah satu faktor yang membuat film ini banyak diperbincangkan dan viral di kalangan penonton bioskop.
Akting para pemeran utama dinilai mampu menopang cerita dengan baik. Ekspresi ketakutan ditampilkan secara tertahan dan realistis, tanpa terkesan berlebihan. Interaksi antarkarakter juga memberi bobot dramatis yang cukup kuat, sehingga penonton tidak hanya mengikuti teror yang terjadi, tetapi juga memahami tekanan emosional yang dialami tokoh-tokohnya. Pendekatan akting yang minim teatrikal ini memperkuat kesan bahwa horor dalam film berasal dari situasi, bukan sekadar efek.
Dari segi visual, Alas Roban tidak menampilkan sinematografi yang glamor, tetapi konsisten dalam menjaga suasana kelam. Pencahayaan minim dan palet warna dingin mendominasi hampir seluruh adegan, menciptakan kesan suram yang terus berlanjut hingga akhir film. Lokasi alam dimanfaatkan secara maksimal untuk mendukung atmosfer, membuat latar cerita terasa nyata dan tidak dibuat-buat.
Meski demikian, ritme cerita yang lambat berpotensi menjadi catatan tersendiri. Beberapa bagian terasa berlarut-larut, terutama bagi penonton yang mengharapkan horor cepat dan intens. Namun, bagi penikmat horor atmosferik, tempo lambat ini justru menjadi kekuatan karena memberi ruang bagi ketegangan untuk tumbuh secara perlahan.
Secara keseluruhan, Alas Roban hadir sebagai film horor yang menawarkan pengalaman berbeda. Film ini tidak mengejar ketakutan instan, melainkan membangun rasa gelisah yang bertahan lama. Dengan mengandalkan suasana, konflik emosional, dan cerita yang dekat dengan kepercayaan masyarakat, Alas Roban menjadi salah satu film horor yang layak diperbincangkan di awal tahun ini.
Menurut saya, kekuatan utama Alas Roban terletak pada cara bercerita yang menahan diri. Film ini sadar bahwa ketakutan tidak selalu harus ditampilkan secara eksplisit. Banyak adegan dibiarkan berjalan dalam sunyi, dengan kamera yang diam terlalu lama, atau suara alam yang justru terasa mengancam. Inilah yang membuat film ini menjadi viral bukan karena teriakan massal di bioskop, tetapi karena rasa tidak nyaman yang dibawa pulang penontonnya.
Secara tematik, Alas Roban tidak hanya bicara tentang hantu atau tempat angker. Menurut saya, film ini berbicara tentang konsekuensi tentang apa yang terjadi ketika manusia melewati batas, baik batas alam, moral, maupun batin. Jalur Alas Roban digambarkan bukan sebagai lokasi jahat, tetapi sebagai ruang yang “menyimpan” sesuatu. Ketika ruang itu diganggu, ia menuntut keseimbangan kembali.
Dari sisi karakter, film ini memilih pendekatan emosional ketimbang heroik. Tokoh utamanya tidak digambarkan sebagai sosok yang kuat atau tahu segalanya. Ia sering ragu, takut, bahkan salah mengambil keputusan. Justru di situlah film ini terasa manusiawi. Saya merasa horornya menjadi lebih efektif karena ancaman yang datang terasa nyata dan personal, bukan sekadar gangguan supranatural tanpa makna.
Pacing film ini memang lambat, dan menurut saya itu adalah pilihan sadar. Film ini seperti ingin memaksa penonton untuk bersabar, untuk ikut merasakan ketegangan yang menumpuk sedikit demi sedikit. Ini bisa menjadi kelemahan bagi penonton yang mengharapkan horor cepat dan intens, tetapi bagi saya pribadi, pendekatan ini justru memperkuat atmosfer. Ketika teror akhirnya muncul, dampaknya terasa lebih dalam.
Dari segi visual, Alas Roban tidak memanjakan mata dengan efek berlebihan. Warnanya cenderung kusam, gelap, dan dingin. Jalan, hutan, dan malam ditampilkan apa adanya, seolah ingin menegaskan bahwa ketakutan tidak perlu dihias. Kesederhanaan visual ini membuat cerita terasa lebih dekat dan realistis, seolah kejadian serupa bisa saja dialami siapa pun.