Tiga Ancaman Potensial Indonesia di Masa Depan dalam Hitam 2045

Lintang Siltya Utami | Daffa Binapraja
Tiga Ancaman Potensial Indonesia di Masa Depan dalam Hitam 2045
Novel Hitam 2045 karya Henry Manampiring (Dok. Pribadi/Daffa Binapraja)

Sebagai sebuah novel fiksi-ilmiah distopia pertama Henry Manampiring—setelah sebelumnya menulis buku-buku filsafat seperti Filosofi Teras—yang ditulis pada 2022, Hitam 2045 sebenarnya telah memperingatkan para pembaca mengenai beragam ancama potensial yang bisa saja dihadapi Indonesia masa depan.

Hitam 2045 mengisahkan perjalanan Agni dan teman-temannya dilatih pemerintah untuk jadi pengurus negara melalui program khusus. Indonesia tempat mereka tinggal telah menjadi negara terkuat kedua Asia setelah Tiongkok, menguasai seluruh daerah Papua, Timor Timur, dan bahkan sebagian besar Kalimantan. Sederhananya, Indonesia tahun 2045 adalah negara yang maju.

Namun, di balik kemajuan tersebut, ada tiga hal mencolok yang secara tak langsung tengah diperingatkan oleh Om Piring—sapaan Henry Manampiring—kepada para pembaca.

Tanpa bermaksud membocorkan isi novel, pembaca dapat menemukan tiga hal ini begitu membaca seluruh kisah Agni dan teman-temannya.

HAM, Ultranasionalisme, dan Pembungkaman Suara

Lambang KOMNAS HAM RI, konsep HAM menjadi asing di Indonesia versi Hitam 2045 (Dok. Pribadi / Daffa Binapraja)
Lambang KOMNAS HAM RI, konsep HAM menjadi asing di Indonesia versi Hitam 2045 (Dok. Pribadi / Daffa Binapraja)

Di awal cerita, Agni menjelaskan bahwa pada awal Indonesia dipimpin oleh Presiden Aryo Adhitya menggunakan apa yang disebut Demokrasi Kebijaksanaan, banyak pihak memprotes mengenai pelanggaran HAM oleh pemerintah seperti mengeksekusi koruptor sekaligus keluarganya atas nama ‘mematikan korupsi dalam negeri’—walau keluarganya tidak ada sangkut pautnya dengan korupsi. Agni bahkan sampai berpikir bahwa kata “HAM” hanyalah Bahasa Inggris dari daging babi asap saking asingnya konsep ‘Hak Asasi Manusia’ di bawah pemerintahan Presiden Aryo.

Agni juga menyebutkan bahwa dalam pemerintahannya, Presiden Aryo juga memerintahkan TNI—yang nantinya dinamai TRI atau Tentara Republik Indonesia—untuk mengambil alih daerah-daerah negara tetangga.

Coba saja baca kutipan halaman 15 berikut:

“Terakhir, saudara-saudara kita di Sabah dan Sarawak. Sebuah hal yang absurd bahwa Kalimantan harus dibagi dengan negara lain, dan ini dibiarkan berpulu-puluh tahun! Sampai akhirnya Kalimantan pun hampir selesai dipersatukan di bawah Republik Indonesia. Saat hal ini terjadi banyak protes internasional yang sebenarnya tidak perlu. Segala keributan dari Malaysia dan Inggris membuat saat ini kita berhenti di perbatasan Brunei. Mungkin hanya soal waktu saja. Masjid-masjid kubah emas itu lebih layak menjadi bagian Republik.”

Konteksnya sederhana: Indonesia di bawah kepemimpinan Presiden Aryo menguasai daerah Malaysia dengan kekuatan militer. Gegara itu, banyak negara luar yang protes. Karena diprotes saja, Indonesia tidak lanjut menguasai Brunei.

Tidak hanya itu, Presiden Aryo sempat memblokir beberapa ‘budaya asing’ seperti K-pop dan lainnya. Apa yang lebih mengejutkan dari itu semua adalah adanya adegan seorang penyanyi bernama Tasya Sonita bunuh diri. Pasalnya, penyanyi ini di satu sisi sudah pernah bernyanyi untuk Presiden Aryo dan di sisi lain sudah berkali-kali ditegur pemerintah…hanya karena menyanyikan lagu sendu yang—menurut pemerintahan Presiden Aryo—bertentangan dengan moral bangsa dan membuat orang Indonesia jadi lembek.

Presiden Aryo sendiri nantinya juga menjadi bagian dari salah satu ancaman yang dibahas oleh Om Piring: Presiden AI.

Presiden Akal Imitasi (AI)

Ilustrasi kecerdasan buatan. [Freepik]
Ilustrasi kecerdasan buatan. [Freepik]

Di akhir cerita, salah satu teman Agni menyadari bahwa Presiden Aryo yang hidup di zaman mereka adalah presiden akal imitasi (AI). Bukan hanya itu, presiden akal imitasi yang berhadapan dengan teman Agni ini adalah Artificial General Intelligence (AGI) alias ‘bukan sembarang akal imitasi’.

Dikutip dari Kumparan, perbedaan AI dengan AGI terletak pada fungsi yang mereka jalankan. Sementara AI hanya dapat melaksanakan tugas spesifik seperti mencarikan film yang disarankan dalam situs-situs streaming atau menjawab pertanyaan pengguna dengan batas tertentu, AGI dapat beradaptasi, fleksibel, dan bisa berpikir hampir mirip seperti manusia.

Dalam novelnya, ‘Presiden AI’ ini mungkin belum bisa memahami cara membuat ekspresi wajah yang mirip manusia seperti tertawa. Namun, ia telah berhasil membuat dan bahkan melakukan beragam pertimbangan dingin untuk menjalankan negara setelah Presiden Aryo yang asli meninggal.

Satu contoh pertimbangan dingin yang dilakukan oleh ‘Presiden AI’ ini adalah membunuh sekelompok orang atas nama persatuan bangsa dan negara, menggunakan konsep "musuh bersama".

Pembunuhan Sekelompok Orang dan Konsep "Musuh Bersama"

Ilustrasi eksekusi mati (Pixabay / Peggy Lachmann-Anke dan Marco Lachmann-Anke)
Ilustrasi eksekusi mati (Pixabay / Peggy Lachmann-Anke dan Marco Lachmann-Anke)

Seiring dengan berjalannya cerita, Agni menyadari bahwa banyak rahasia yang disembunyikan pemerintah, terutama mengenai keluarganya dan kelompok teroris yang ia dan temannya hadapi, Saif Al-Iman (Pedang Iman).

Awalnya, Agni diberitahu pemerintah bahwa Saif Al-Iman adalah sebuah kelompok teroris yang ingin membangun negara Islam di Indonesia dan bertanggung jawab atas beragam aksi teror dalam negeri. Namun, seiring dengan penyelidikannya mengenai keluarganya dan kelompok ini, Agni menyadari bahwa Saif Al-Iman mungkin ‘bukan hanya kelompok teroris’. Kelompok ini mungkin adalah salah satu rahasia terselubung negara.

Benar saja, Agni menemukan bahwa orang-orang yang ditunjuk sebagai bagian dari kelompok ‘Saif Al-Iman’ rupanya bukan teroris melainkan rakyat sipil yang ingin disingkirkan pemerintah. (Sebenarnya, ada lebih banyak lagi rahasia mengenai kelompok ini jika Anda membaca novelnya.)

Sederhananya, pemerintah meyakini bahwa agar Indonesia bersatu, harus ada satu musuh bersama dalam bentuk ‘kelompok teroris negara Islam’. Masalahnya, konsep ‘musuh bersama’ ini menghasilkan korban dalam bentuk ‘orang-orang yang tak mengerti apa-apa dan tidak terlibat dalam gerakan teroris’.

Apakah saking sulitnya Indonesia bersatu, pemerintah Indonesia pada Hitam 2045 memutuskan untuk menggunakan konsep ini walaupun hasil akhirnya adalah ‘rakyat jadi korban’?

Terlepas dari masalah HAM, presiden AI, dan konsep “musuh bersama”, Om Piring menyatakan bahwa negara harus berbenah. Salah satu caranya adalah dengan persatuan antarwarga negara.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak