Ulasan Novel Romansa Opium, Kejahatan, Kekuasaan, dan Cinta di Era Kolonial

Sekar Anindyah Lamase | Erlita Novitania
Ulasan Novel Romansa Opium, Kejahatan, Kekuasaan, dan Cinta di Era Kolonial
Novel Romansa Opium (Dok. Pribadi/Erlita Novitania)

Novel Romansa Opium karya Gigrey membawa pembaca menyelami kisah romansa yang tidak biasa. Cerita ini bukan tentang cinta yang manis dan penuh harapan, melainkan tentang hubungan yang tumbuh di tengah ambisi, kekuasaan, dan realitas gelap masa kolonial.

Berlatar Hindia Belanda pada akhir abad ke-19, novel ini menyuguhkan suasana yang pekat, penuh tekanan sosial, dan sarat konflik batin.

Sejak awal, pembaca langsung diajak masuk ke dunia yang hierarkis dan tidak ramah. Masa kolonial digambarkan bukan hanya sebagai latar waktu, tetapi sebagai sistem yang membentuk cara berpikir, menentukan nasib, dan menekan individu untuk tunduk pada aturan tak tertulis. Dalam dunia seperti ini, kekuasaan menjadi alat bertahan hidup, sementara moral sering kali dikesampingkan.

Salah satu kekuatan utama Romansa Opium terletak pada penggambaran tokoh utamanya sebagai perempuan yang sadar akan posisinya. Ia tidak lahir dengan kemewahan tanpa beban.

Identitasnya justru menjadi sumber konflik sejak kecil. Darah pribumi yang mengalir di tubuhnya membuat ia berada di ruang abu-abu: tidak sepenuhnya diterima oleh dunia Eropa, namun juga terpisah dari akar lokalnya.

Kondisi ini menumbuhkan ambisi yang kuat, bahkan keras, karena ia paham dunia hanya menghargai mereka yang berkuasa.

Tekanan sebagai calon penerus bisnis keluarga menjadi beban tersendiri. Bisnis yang digeluti tidak sekadar soal perdagangan legal seperti perkebunan atau komoditas, tetapi juga melibatkan sisi gelap yang merusak banyak kehidupan.

Opium menjadi simbol penting dalam cerita ini—bukan hanya sebagai barang dagangan, tetapi sebagai representasi dosa, ketergantungan, dan kekuasaan yang dibangun di atas penderitaan orang lain.

Gigrey menuliskan konflik ini dengan cukup berani. Pembaca diajak melihat bagaimana keputusan besar tidak pernah lahir dari ruang kosong. Setiap langkah memiliki konsekuensi, dan setiap ambisi menuntut pengorbanan.

Tokoh utama digambarkan sepenuhnya sadar akan harga yang harus dibayar. Ia tahu bahwa jalan yang dipilih akan membuatnya kehilangan banyak hal, termasuk kemungkinan hidup yang lebih tenang dan bersih.

Di tengah dunia yang keras tersebut, hadir sosok laki-laki yang membawa kontras emosional. Ia bukan tipe penyelamat dengan sikap heroik berlebihan, melainkan figur yang lebih manusiawi, tenang, dan berpegang pada nilai kemanusiaan.

Kehadirannya tidak serta-merta mengubah jalan hidup tokoh utama, tetapi menjadi pemantik konflik batin yang paling menyakitkan. Dari sinilah romansa dalam novel ini berkembang secara perlahan, sunyi, dan terasa realistis.

Romansa dalam Romansa Opium tidak dibangun dari dialog manis atau adegan dramatis berlebihan. Justru kekuatannya terletak pada ketegangan yang tertahan.

Perasaan tumbuh di antara rasa bersalah, perbedaan prinsip, dan ketakutan akan masa depan. Hubungan mereka terasa rapuh, karena sejak awal pembaca tahu bahwa cinta saja tidak cukup untuk melawan sistem yang sudah mengakar kuat.

Selain romansa, novel ini juga menyoroti isu identitas dan diskriminasi rasial. Cara masyarakat memandang warna kulit, asal-usul darah, dan status sosial digambarkan secara tajam tanpa terasa menggurui.

Hal ini membuat cerita terasa relevan, meskipun berlatar ratusan tahun lalu. Pembaca diajak memahami bagaimana sistem sosial yang timpang dapat membentuk karakter seseorang menjadi keras, defensif, bahkan kejam.

Dari segi penulisan, gaya bahasa Gigrey cenderung tenang namun menusuk. Alurnya mengalir perlahan, memberi ruang bagi pembaca untuk mencerna konflik batin para tokohnya.

Cerita ini memang terasa berat dan tidak selalu nyaman, tetapi justru di situlah kekuatannya. Novel ini tidak berusaha menyenangkan pembaca, melainkan mengajak mereka menghadapi kenyataan pahit tentang pilihan hidup dan konsekuensinya.

Romansa Opium cocok untuk pembaca yang menyukai historical fiction dengan nuansa gelap, tokoh perempuan yang kuat namun tidak sempurna, serta cerita cinta yang realistis dan penuh dilema moral. Ini bukan bacaan ringan untuk sekadar hiburan, melainkan cerita yang meninggalkan rasa sesak dan pemikiran panjang setelah halaman terakhir ditutup.

Menurut saya, Romansa Opium adalah salah satu karya Gigrey yang paling berani dan emosional. Novel ini berhasil memadukan sejarah, romansa, dan konflik batin dengan sangat solid. Meski terasa berat, justru di situlah letak kejujurannya. Ulasan saya, novel ini layak dibaca oleh mereka yang ingin merasakan cerita cinta yang tidak ideal, namun sangat manusiawi.

CEK BERITA DAN ARTIKEL LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak