Obat Overthinking: Mengapa Lagu 'Kan Terus Kutulis' dari Banda Neira Wajib Kamu Dengar

M. Reza Sulaiman | Tika Maya Sari
Obat Overthinking: Mengapa Lagu 'Kan Terus Kutulis' dari Banda Neira Wajib Kamu Dengar
Album Tumbuh dan Menjadi (Youtube.com/Banda Neira)

Pada era digital yang berkembang pesat, keberadaan media sosial ibarat nyawa dunia. Kita sering kali menemukan konten yang tidak jarang membuat kita tertekan secara mental—mulai dari konten flexing barang-barang mewah, liburan ke Eropa, hingga kehidupan figur publik yang tampak tanpa cela.

Dari sajian konten tersebut, terkadang kita jadi membandingkan diri dengan mereka. Kemudian, timbullah rasa iri dan obsesi yang membuat kita lupa untuk bersyukur atas apa yang sudah kita genggam sekarang. Mungkin itulah fenomena yang diangkat oleh Banda Neira dalam lagu 'Kan Terus Kutulis, Hingga Napas Ini Habis'.

Salah Satu Lagu ‘Kebangkitan’ Banda Neira

Melansir kanal YouTube Banda Neira, 'Kan Terus Kutulis, Hingga Napas Ini Habis' dirilis pada 19 November 2024. Lagu ini adalah salah satu singel yang tergabung dalam album Tumbuh dan Menjadi, yang menjadi tonggak kebangkitan Banda Neira pascahiatus selama delapan tahun dan hengkangnya Rara Sekar.

Lirik 'Kan Terus Kutulis, Hingga Napas Ini Habis' ditulis secara solo oleh Ananda Badudu, yang juga merangkap sebagai pencipta notasi dan akor, serta gitaris. Ia mengisi vokal bersama dengan Sasha. Tidak hanya Ananda Badudu yang berusaha all out, Indra Perkasa selaku produser juga menangani aransemen dan bas. Indra juga ikut ambil bagian pada piano bersama Gardika Gigih, serta drum bersama Putu Deny Surya.

Sedangkan barisan dawai ditangani oleh Ruang String Quartet yang terdiri atas Saptadi Kristiawan pada biola 1, Oscar Artunes pada biola 2, Wasita Adi pada viola, dan Jeremia Kimosabe pada cello.

Kan kutambah baris
Kan terus kutulis
Tak akan ku berhenti

Lagu Indie yang Mengajarkan Pentingnya Bersyukur dan Tetap Semangat

Lagu ini secara blak-blakan menunjukkan makna yang dikandungnya. Tidak seperti lagu-lagu pada album Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti yang mayoritas liriknya mengandung metafora, lagu ini disajikan dengan kata-kata puitis khas lagu indie namun tetap to the point.

Lewat lagu ini, Banda Neira seolah menjelma menjadi sahabat yang senantiasa memberikan dukungan dan semangat. Terlebih pada era digital saat dunia berada dalam genggaman dan hampir semua informasi mampu kita dapatkan.

Ada kalanya kita membandingkan pencapaian diri sendiri dengan pencapaian orang lain yang jauh berbeda. Padahal, nasib setiap insan tidaklah sama. Belum lagi adanya perbedaan garis start dan privilege yang tidak bisa disangkal. Atau yang paling ekstrem, membandingkan situasi negara kita dengan negara lain melalui apa yang tersaji di media sosial.

Meski kita tahu negeri ini dipenuhi banyak hiperbola, kontradiksi, hingga logika metafisika dan beragam hal yang ‘katanya’ dinaungi oleh Bhinneka Tunggal Ika, saya mengerti situasinya sebagai seorang rakyat. Namun, negeri kita tentu memiliki keistimewaan tersendiri, terlepas dari segala fenomena manusianya—entah pada etika tata krama penduduknya, lanskap alam setiap wilayah yang berbeda dan saling melengkapi, hingga pada kenyataan bahwa di tanah inilah kita lahir. Jika bisa ditambahkan, di negeri inilah pernah berdiri kerajaan paling ikonis, yakni Majapahit. Segala hal selalu memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri, entah makhluknya maupun negerinya.

Bolehkah kubacakan untukmu
Berlembar puisi yang kutulis ini
Semoga bagimu ia memberi arti
Dan buatmu jadi lebih baik
Jadi lebih mencintai
Segala yang terberi
Dalam hidup ini

Bersyukur dan Menjadi Diri Sendiri

Aku pun pernah merasa iri atas pencapaian orang lain atau pada suatu negeri yang terkenal di penjuru dunia. Namun, jika kita terjebak pada rasa iri, bukankah itu justru membebani pikiran?

Aku mengerti ketakutan tentang masa depan yang tidak pasti, situasi geopolitik global yang memanas, dan berita-berita nasional yang membuat tertekan. Namun, kita memiliki fisik dan jiwa yang harus diperhatikan. Rasa iri akan melahirkan overthinking. Jika dilanjutkan, hal ini bakal memicu depresi, penyakit mental, atau bahkan keinginan untuk suicide.

Ada kalanya kita harus melakukan detoks media sosial sejenak. Kemudian, berupaya mengelola emosi dan senantiasa berpikiran positif. Aku bukanlah seorang psikolog atau psikiater, tetapi resep ini kudapatkan dari Bapak dan seorang teman bernama Adrian (nama samaran): bahwa kita harus menjadi diri sendiri tanpa perlu menjelma menjadi orang lain.

Rasa-rasanya, 'Kan Terus Kutulis, Hingga Napas Ini Habis' memang sengaja dimaksudkan untuk meredam gejolak pikiran. Petikan dawai dan melodi lagu disajikan pelan, tetapi pasti meruntuhkan tembok hati. Tadinya aku biasa saja, tetapi begitu mencapai reff... aku membeku karena terbiasa menahan emosi, kemudian air mata menetes begitu saja. Berasa bertemu kawan yang sefrekuensi.

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak