Novel Beauty and The Best: Siapa Bilang Cewek Cantik Itu Bodoh?

Lintang Siltya Utami | Oktavia Ningrum
Novel Beauty and The Best: Siapa Bilang Cewek Cantik Itu Bodoh?
Beauty and The Best (Dok.Pribadi/Oktavia)

Novel satu ini kental sekali akan label sosial zaman dahulu tentang cewek cantik itu biasanya bodoh. Kalau sekarang, cewek pintar sudah pasti cantik dan menawan. Membaca novel ini seolah kembali ke masa lalu. Mitos-mitos yang unik hingga persaingan akademik yang sengit. 

Novel Beauty and The Best karya Luna Torashyngu menghadirkan kisah remaja yang ringan, menghibur, sekaligus menyentuh isu sosial yang dekat dengan kehidupan anak SMA. Stereotip kecantikan, tekanan prestasi, persaingan akademik, dan pencarian jati diri.

Novel ini kemudian diadaptasi ke layar lebar pada 2016 dengan jajaran pemeran muda populer: Andania Suri sebagai Ira, Chelsea Shania sebagai Kelly, Maxime Bouttier sebagai Aldo, dan Brandon Salim sebagai Reza.

Sinopsis Novel

Tokoh utama cerita ini adalah Ira, siswi SMA yang secara sosial “memiliki segalanya”. Ia cantik, populer, berprofesi sebagai model remaja, dan memiliki pacar yang keren serta kaya. Namun, di balik citra sempurna itu, Ira menyimpan kelemahan besar. Nilai akademiknya, terutama pelajaran eksakta, selalu berada di titik terendah.

Nilai ulangan yang tak pernah lebih dari angka empat menjadi “lampu kuning” bagi masa depannya, terlebih saat ia sudah berada di kelas tiga SMA dan menghadapi ujian kelulusan serta seleksi masuk perguruan tinggi.

Konflik utama muncul ketika Ira menerima tantangan dari Kelly, siswi terpintar di sekolahnya. Kelly menantang Ira dalam sebuah taruhan: siapa yang bisa lolos seleksi masuk perguruan tinggi negeri atau SPMB (kalau sekarang SNBP) ke fakultas dengan passing grade lebih tinggi. Tantangan ini jelas terasa mustahil bagi Ira. Lawannya bukan hanya pintar, tetapi dikenal sebagai simbol kecerdasan akademik di sekolah.

Namun, justru di sinilah kekuatan cerita dimulai. Ira tidak mundur. Demi membuktikan bahwa “cewek cantik tidak selalu bodoh”, ia rela meninggalkan dunia modeling dan fokus belajar.

Ia meminta bantuan Aldo, siswa jenius yang pendiam, antisosial, dan dianggap “aneh” oleh teman-temannya. Aldo menjadi guru privat Ira, sekaligus figur penting dalam transformasi karakter utamanya.

Hubungan Antar Tokoh

Relasi Ira dan Aldo tidak hanya membangun sisi romantis cerita, tetapi juga menjadi ruang pertumbuhan emosional. Ira belajar disiplin, kegigihan, dan tanggung jawab. Aldo, di sisi lain, perlahan menjadi lebih terbuka secara sosial dan emosional. Interaksi mereka tidak sekadar cinta remaja, tetapi juga proses saling mengubah satu sama lain.

Menariknya, novel ini tidak hanya berfokus pada Ira. Kelly juga digambarkan memiliki konflik batin sendiri. Ia berada di bawah tekanan keluarga yang menginginkannya masuk Fakultas Kedokteran, mengikuti jejak ayah dan saudara-saudaranya.

Di balik citra siswi sempurna dan cerdas, Kelly sebenarnya sedang berjuang melawan tuntutan hidup yang tidak sepenuhnya ia pilih. Di titik ini, pembaca melihat bahwa “si pintar” pun tidak selalu bebas dan bahagia.

Kelebihan dan Kekurangan

Secara naratif, Beauty and The Best adalah retelling modern dari dongeng Beauty and The Beast. Bedanya, “The Beast” diganti menjadi “The Best”. Bukan si buruk rupa, tetapi si pintar. Ira adalah “Beauty”, Kelly merepresentasikan “The Best”.

Perubahan ini membuat cerita terasa lebih relevan dengan konteks remaja modern: bukan soal rupa, tetapi soal prestasi dan label sosial.

Meski begitu, novel ini juga menyimpan beberapa hal yang terasa janggal secara logika, terutama terkait sistem seleksi perguruan tinggi, pilihan jurusan berdasarkan passing grade, serta konflik taruhan akademik yang terkesan absurd.

Namun, karena posisinya sebagai novel remaja populer, aspek tersebut lebih berfungsi sebagai pemicu konflik cerita, bukan sebagai realisme pendidikan.

Kekuatan utama buku ini terletak pada pesan moralnya: tidak ada yang mustahil selama ada kemauan untuk berusaha. Cerita ini menolak mitos bahwa kecantikan identik dengan kebodohan, dan kecerdasan identik dengan kesempurnaan hidup. Semua tokoh memiliki kelebihan, kelemahan, ketakutan, dan konflik masing-masing.

Sebagai bacaan remaja, Beauty and The Best tergolong ringan, menghibur, penuh dialog segar, dan mudah diikuti. Ceritanya tidak berat, tetapi tetap membawa refleksi sosial tentang stereotip, pendidikan, dan tekanan masa depan. Ia cocok dibaca sebagai hiburan, sekaligus sebagai pengingat bahwa identitas seseorang tidak bisa diukur hanya dari wajah, nilai, atau popularitas.

Pada akhirnya, Beauty and The Best bukan sekadar kisah cinta remaja, tetapi cerita tentang keberanian melawan label, membangun diri, dan memilih masa depan sendiri, dengan segala ketidaksempurnaan yang menyertainya.

Identitas Buku

  • Judul Buku: Beauty and The Best
  • Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama
  • Penulis: Luna Torashyngu
  • Tahun Terbit: 2016
  • ISBN: 9786-0203-247-7-7
  • Tebal: 308 halaman
  • Genre: Teenlit, Fiksi Remaja

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak