Yang Terlupakan dan Dilupakan, Upaya Melawan Sunyi dalam Sejarah Perempuan

Bimo Aria Fundrika | Taufiq Hidayat
Yang Terlupakan dan Dilupakan, Upaya Melawan Sunyi dalam Sejarah Perempuan
Kisah sepuluh penulis perempuan Indonesia yang sempat dihapus dari memori sejarah.

Sejarah sering kali menjadi panggung yang hanya menyisakan sorot lampu bagi laki-laki, sementara perempuan kerap kali ditempatkan di balik tirai atau bahkan "dihilangkan" dari catatan. Namun, apa jadinya jika sepuluh penulis perempuan modern hari ini memutuskan untuk menelusuri kembali jejak-jejak yang hilang itu?

Buku Yang Terlupakan dan Dilupakan (2021) adalah sebuah kerja keras kolektif yang menghidupkan kembali sepuluh figur perempuan luar biasa, figur yang selama ini eksis dan berkontribusi besar bagi sastra serta perjuangan bangsa, namun namanya seolah asing di telinga kita.

Isi Buku: Menjahit Ingatan yang Terbelah

Buku ini merupakan kumpulan esai riset yang menyajikan narasi tentang kelahiran, kematian, dan segala perjuangan di antara keduanya. Para penulis muda dalam buku ini melakukan kerja arkeologi literasi yang luar biasa; mereka melacak karya-karya yang sulit ditemukan, membandingkan adegan demi adegan, hingga membedah faktor sosial-politik yang menjepit ruang gerak para pendahulu mereka.

Melalui buku ini, kita berkenalan kembali dengan Siti Rukiah, sosok yang menulis di tengah ketegangan revolusi dan berani menyentil keterbatasan ruang gerak perempuan lewat puisinya. Ada pula Suwarsih Djojopuspito, yang melalui karya Manusia Bebas, memotret realitas sehari-hari gerakan nasionalisme sekaligus mengkritik paradoks laki-laki modern yang masih mengharapkan kepatuhan tradisional dari istrinya.

Tak berhenti di masa kolonial, buku ini juga mengangkat sosok kontemporer seperti Naomi Intan Naomi (Omi), penyair tajam yang membawa isu marginal hingga tragedi kemanusiaan global ke dalam blog-blog digitalnya sebelum wafat pada 2006. Ada Ratna Indraswari Ibrahim, pejuang di kursi roda yang menggunakan cerpennya sebagai senjata melawan sistem patriarki, serta Sugiarti Siswadi, aktivis Lekra yang melalui kumpulan cerpen Sorga di Bumi menggambarkan semangat kemerdekaan kaum terpinggirkan.

Kelebihan

Buku ini dengan cerdas mengelompokkan berbagai latar belakang perjuangan. Kita melihat Saadah Alim yang mendirikan majalah Soeara Perempuan di tanah Minangkabau untuk melawan pemikiran kuno, dan Maria Ulfah (Ietje), pengacara aristokrat yang menjadi pionir dalam memperjuangkan hak perempuan dalam pernikahan di UUD Pasal 27. Kita juga disuguhi kisah Hamidah (Fatimah Hasan Delais) yang novelnya Kehilangan Mestika menjadi simbol perlawanan terhadap batasan adat, meski sebagian karyanya harus musnah akibat konflik domestik.

Tak kalah penting, buku ini mengulas Dahlia (Tan Lam Nio), penulis Melayu-Tionghoa yang meski tulisannya sering dianggap "Melayu rendah" oleh standar kolonial, ia berhasil menciptakan karakter perempuan yang mandiri dan terdidik. Terakhir, ada sosok Charlotte Salawati, walikota pertama Makassar yang dengan berani menghadapi Westerling dan aktif menulis artikel pemberdayaan perempuan untuk memutus belenggu norma tradisional.

Analisis yang disajikan dalam buku ini sangat menggugah karena tidak hanya menyentuh aspek historis, tetapi juga sosiologis. Penulis-penulis muda ini berhasil membedah mengapa karakter dalam satu cerita bisa berbeda mencolok dengan cerita lainnya, yang sering kali dipengaruhi oleh tekanan politik Orde Baru atau dominasi patriarki pada masanya.

Pada akhirnya, Yang Terlupakan dan Dilupakan bukan sekadar ulasan sastra; ia adalah sebuah proses berpikir kritis untuk lebih cermat menerima wacana sejarah. Melalui narasi yang tidak berbelit-belit, kolektif Ruang Perempuan dan Tulisan berhasil menjembatani pembaca pada isu berat tentang marginalisasi perempuan. Buku ini menawarkan perenungan intelektual bahwa sejarah adalah milik mereka yang berani bersuara—dan melalui buku ini, kesepuluh perempuan hebat tersebut akhirnya mendapatkan kembali suara mereka. Jika menyenangkan sebarkan, jika tidak, beri tahu!.

Identitas Buku:

  • Judul: Yang Terlupakan dan Dilupakan: Membaca Kembali Sepuluh Penulis Perempuan Indonesia
  • Penulis: Giovanni Dessy Austriningrum, dkk (Kolektif Ruang Perempuan dan Tulisan)
  • Editor: Pradewi Tri Chatami
  • Pengantar: Ayu Ratih
  • Penerbit: Marjin Kiri
  • Tahun Terbit: Oktober 2021 (Cetakan I)
  • ISBN: 978-602-0788-19-7

Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

Tampilkan lebih banyak