Ulasan

Taman Hutan Joyoboyo Kediri: Tempat Tenang saat Keramaian Terasa Melelahkan

Taman Hutan Joyoboyo Kediri: Tempat Tenang saat Keramaian Terasa Melelahkan
Bagian Dalam Hutan Joyoboyo (Dokumentasi Pribadi)

Bisa dibilang, taman ini pernah menjadi tempat favorit saya semasa sekolah dulu. Tentu saja, ada banyak sekali kenangan yang masih tersimpan hingga kini. Sebab dulu, saya bersama teman-teman sering kali menghabiskan waktu di sana, mengingat lokasinya sangat dekat dari sekolah.

Saat itu, saya yang tinggal di asrama sekolah sering pergi ke sana di akhir pekan. Beberapa kegiatan outbound organisasi siswa pun kerap diadakan di taman ini, meski sekolah sebenarnya sudah memiliki area yang cukup luas.

Taman Hutan Joyoboyo memiliki sejarah yang cukup unik. Sebelum direvitalisasi, kawasan ini merupakan hutan Kuwak dengan pepohonan besar dan rimbun. Di dalamnya terdapat bangunan penyimpanan air setinggi sekitar 25 meter yang dikenal warga sebagai “water toren”. Bangunan ini sudah ada sejak masa pendudukan Belanda dan hingga kini masih berfungsi sebagai tandon utama PDAM Kota Kediri.

Lokasinya pun cukup strategis. Taman ini berada sekitar 400 meter di sebelah utara sekolah saya dulu, MAN 2 Kota Kediri. Selain itu, letaknya juga tidak jauh dari Stadion Brawijaya serta beberapa tempat wisata lain seperti Pagora Water Park dan Tirtayasa Park. Di bagian belakang taman, terdapat SMK Pawiyatan Daha 2.

Bagi saya yang cenderung introvert, tempat seperti ini terasa “pas”. Pepohonan yang rindang, suasana yang relatif tenang, serta angin yang berhembus pelan menghadirkan ruang sederhana yang terasa nyaman. Tidak terlalu ramai, tidak terlalu bising, dan tidak menuntut banyak interaksi. Saya bisa duduk cukup lama tanpa merasa terganggu—entah untuk berbincang dengan teman atau sekadar tenggelam dalam pikiran sendiri.

Di sana tersedia bangku taman di beberapa titik, lintasan lari, jembatan layang (skybridge), area bermain anak, toilet, dan musala. Meski beberapa fasilitas seperti toilet dan musala sempat terlihat kurang terawat, pengunjung tidak perlu khawatir karena Masjid At-Taqwa MAN 2 Kota Kediri yang berada di dekat lokasi terbuka untuk umum dan cukup bersih serta nyaman digunakan.

Namun, yang paling saya ingat dari tempat ini bukan hanya fasilitas atau lokasinya, melainkan suasana yang tercipta di sana. Ada kalanya kami duduk berkelompok sambil tertawa membicarakan hal-hal sederhana. Tapi di waktu lain, saya justru lebih sering memilih diam—memperhatikan sekitar, atau sekadar menikmati waktu tanpa harus melakukan apa pun.

Pernah juga saya datang sendirian. Duduk cukup lama di salah satu bangku taman, membiarkan pikiran berjalan ke mana saja. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sekolah yang kadang melelahkan, tempat ini seperti memberi jeda—ruang kecil untuk bernapas sebelum kembali menghadapi rutinitas.

Seiring waktu, kebiasaan itu perlahan menghilang. Kesibukan, perubahan rutinitas, hingga perpisahan dengan teman-teman membuat saya jarang kembali ke sana.

Terakhir kali mengunjungi tempat tersebut, mungkin sekitar Desember tahun 2024 lalu. Saat itu, saya sedang ada kegiatan di MAN 2 Kota Kediri dan memutuskan untuk mampir sebentar untuk sekadar menepi dan bernostalgia. Dari sekolah, saya jalan kaki menuju ke taman.

Sesampainya di sana, saya berjalan menyusuri lintasan jogging, lalu menaiki tangga untuk berjalan-jalan di atas skybridge sembari menikmati suasana hutan dari ketinggian 200 meter. Jembatan layang inilah yang menjadi spot favorit saya tiap ke sana. Sesekali, saya juga berhenti untuk mengambil beberapa foto di sudut-sudut yang terasa familiar.

Tanpa terasa, waktu berlalu cepat. Mendung perlahan menutupi langit yang sebelumnya cerah. Suasana hutan berubah lebih redup karena pepohonan yang masih rimbun. Pikiran saya mulai berkelana. Teringat beberapa cerita yang pernah saya baca tentang kesan angker tempat ini.

Jujur saja, saya mulai merasa deg-degan dan sedikit gelisah. Apalagi saat itu suasana cukup sepi dan terasa berbeda—ada hawa dingin yang menerpa kulit, entah karena cuaca atau hal lainnya. Gerimis mulai turun. Memang sekilas terasa syahdu, tetapi juga sedikit … suram. Akhirnya saya memilih beranjak kembali ke sekolah sebelum hujan semakin deras—dan sebelum imajinasi saya berjalan terlalu jauh.

Meski begitu, Taman Hutan Joyoboyo tetap menjadi tempat yang menyimpan banyak kenangan bagi saya. Bukan hanya tentang kebersamaan dengan teman-teman sekolah dulu, tetapi juga tentang momen sederhana yang diam-diam terasa berarti. Bahkan, tempat ini menjadi saksi pertemuan terakhir saya dengan seorang sahabat, sebelum ia kembali menetap di daerah asal orang tuanya, di Jawa Tengah.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa tempat ini terasa begitu istimewa. Bukan karena seberapa indah atau lengkap fasilitasnya, tetapi karena setiap sudutnya menyimpan cerita yang tidak bisa tergantikan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda