Ulasan
Sehari di Bukit Gundaling: Momen Perpisahan Bersama Teman Sebelum ke Batam
Kalau berbicara tentang tempat ternyaman di kota, mungkin bagi sebagian orang jawabannya adalah kafe, taman, atau tempat wisata populer. Namun bagiku, kenyamanan bukan hanya soal tempatnya, melainkan tentang momen dan orang-orang yang ada di dalamnya. Dan salah satu tempat yang menyimpan rasa itu bagiku adalah Bukit Gundaling.
Perjalanan ini bermula saat aku mengabarkan bahwa aku akan berangkat ke Batam pada Februari. Awalnya, aku mengira aku dan kedua kawanku hanya akan makan kue dan mengobrol santai di momen tahun baru karena saat itu masih akhir Januari. Namun, seperti biasa, rencana sederhana itu berubah, mereka tetap mengajakku pergi.
Karena rumahku berada di Namorambe, perjalanan menuju Berastagi terasa cukup dekat. Setelah melewati Namorambe dan Sayum, bisa langsung masuk ke jalan besar Berastagi.
Akhirnya, tujuan kami adalah Bukit Gundaling yang masih terletak di jalan besar Berastagi. Terakhir kali aku ke sana saat masih SMA, jadi sudah cukup lama juga.
Aku tidak diizinkan membawa motor sendiri ataupun dibonceng temanku, meskipun mereka cukup mahir berkendara. Mungkin karena kami semua perempuan. Akhirnya, bapakku meminta abangku yang kebetulan masih di Medan saat itu untuk menemaniku. Kami pun berangkat dengan dua motor: dua temanku berboncengan, sementara aku bersama abangku.
Perjalanan menuju Berastagi cukup menantang. Jalan besarnya ramai, sering dilalui angkutan antar kampung dan truk-truk besar. Untuk bisa sampai lebih cepat, pengendara biasanya harus berani menyalip kendaraan lain. Jujur saja, kemampuan seperti ini memang terasa terasah jika sudah terbiasa berkendara di Medan. Jika dibandingkan dengan Batam, pengendara di sana cenderung lebih santai.
Selain itu, jalannya juga memiliki banyak tikungan tajam. Wajar jika bapakku tidak mengizinkanku pergi sendiri. Untungnya, abangku bersedia menemani, meskipun awalnya ia sempat tidak mau.
Titik perhentian pertama kami adalah Gundaling Farm. Tempat ini merupakan peternakan sapi yang mengolah susu menjadi berbagai produk seperti yogurt dan gelato yang dijual langsung di lokasi. Harganya berkisar antara Rp 27.000 hingga Rp 47.000. Biaya parkir motor sekitar Rp 5.000, sedangkan mobil Rp 10.000.
Awalnya kami mengira bisa berfoto langsung dengan sapi, tetapi ternyata ada pembatas, sehingga kami hanya bisa berfoto dari luar. Setelah itu, kami tidak berlama-lama dan melanjutkan perjalanan. Kami awalnya bingung mau kemana lagi, namun kami memutuskan untuk bermain skuter.
Di sepanjang area di Bukit Gundaling, terdapat banyak penyewaan skuter. Banyak abang-abang yang menawarkan jasa tersebut, dan akhirnya kami tertarik untuk mencoba. Tarifnya sekitar 30 ribu, dan kami bisa bermain cukup lama.
Menariknya, abang yang menyewakan skuter sangat ramah. Selain mengajari cara menggunakannya, kami juga difoto dan direkam tanpa biaya tambahan. Hasilnya pun cukup bagus.
Meski begitu, aku sendiri tidak terlalu mahir mengendarai skuter karena baru pertama kali mencoba. Berbeda dengan kedua temanku yang langsung lancar. Akibatnya, aku beberapa kali tertinggal di belakang. Namun tetap saja, pengalaman itu terasa menyenangkan, apalagi abang yang mengajari sangat sabar.
Sementara itu, abangku hanya duduk santai sambil bermain ponsel. Namun, aku tetap sangat berterima kasih karena ia sudah bersedia menemaniku dari awal hingga akhir perjalanan.
Menjelang pukul enam sore, kami mendapatkan momen matahari terbenam yang sangat indah. Kami sempat berfoto dari arah belakang dengan latar langit yang berubah warna. Pemandangannya benar-benar cantik jika dilihat secara langsung.
Karena hari mulai gelap dan kami belum makan, kami memutuskan untuk berhenti di salah satu warung kopi di sepanjang jalan Berastagi. Tempat-tempat seperti ini memang sering menjadi lokasi istirahat bagi para pelancong. Malam itu, abangku yang mentraktir kami.
Dalam perjalanan pulang, hujan tiba-tiba turun saat waktu sudah menunjukkan sekitar pukul delapan malam. Kami sempat meneduh sebentar. Aku dan abangku memiliki jas hujan di jok motor kami, tetapi kedua temanku tidak. Akhirnya, abangku membelikan jas hujan untuk mereka. Mengingat mereka masih harus melanjutkan perjalanan ke Medan kota, sementara kami sudah dekat rumah.
Sejak berangkat, abangku memang membiarkan kedua temanku untuk berada di depan, sementara kami di belakang. Hingga akhirnya, di satu persimpangan, kami harus berpisah. Aku dan abangku belok ke kanan menuju Namorambe, sedangkan mereka terus lurus.
Perjalanan itu mungkin hanya berlangsung sebentar, tetapi meninggalkan kesan yang begitu dalam. Aku juga sangat berterima kasih kepada teman-temanku yang sudah meluangkan waktu untuk datang. Hari itu kami banyak berbincang, mulai dari pekerjaan, kekhawatiran, hingga hal-hal sederhana lainnya. Di balik semua itu, kami tetap saling mendoakan yang terbaik satu sama lain.
Bahkan setelah aku tiba di Batam, salah satu dari mereka sempat mengatakan bahwa ia merasa sedih karena kini kami berada di kota yang berbeda.
Momen itu mengingatkanku bahwa sekali berteman, akan tetap menjadi teman. Bukit Gundaling mungkin hanya salah satu tempat wisata di Berastagi bagi banyak orang. Namun bagiku, tempat ini menjadi salah satu tempat ternyaman bukan semata karena pemandangannya, melainkan karena ia menyimpan kenangan perpisahan yang tulus bersama orang-orang terdekat.