Ulasan

Di Balik Rasa Takut Jadi Dewasa: Cerita Idgitaf di Lagu 'Mungkin di Depan Buram'

Di Balik Rasa Takut Jadi Dewasa: Cerita Idgitaf di Lagu 'Mungkin di Depan Buram'
"Mungkin di Depan Buram" karya Idgitaf (YouTube/Idgitaf)

Kembalinya Idgitaf lewat lagu "Mungkin di Depan Buram" terasa dekat dengan pengalaman banyak orang yang sedang berada di fase dewasa. Lagu ini tidak hadir dengan konsep yang rumit, tetapi justru kuat karena membahas rasa ragu saat melihat masa depan yang belum jelas.

Ada momen ketika seseorang mulai mempertanyakan arah hidupnya sendiri. Jalan di depan terasa samar, sementara jawaban yang dicari belum juga ditemukan.

Situasi seperti ini cukup sering terjadi saat memasuki fase dewasa. Mulai dari pekerjaan, hubungan, keuangan, sampai tekanan untuk terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain.

Lewat lagu ini, Idgitaf merangkum perasaan tersebut dengan bahasa yang sederhana. Tidak berlebihan, tetapi tetap terasa jujur dan dekat dengan keseharian.

Lagu ini dibuka dengan lirik, "Aku berduka, atas apiku yang lama padam". Kalimat ini menggambarkan kondisi seseorang yang sempat kehilangan semangat dalam waktu cukup lama.

Ada rasa lelah yang tidak selalu mudah dijelaskan. Bukan karena hidup sepenuhnya buruk, tetapi karena energi untuk terus melangkah perlahan menurun.

Namun keadaan itu berubah ketika hadir sosok lain dalam hidupnya. Kehadiran tersebut digambarkan sebagai harapan yang muncul di waktu yang tepat.

Ada kesan bahwa seseorang dapat membuka kembali ruang yang sebelumnya tertutup. Sosok itu tidak hanya hadir, tetapi juga memberi dorongan untuk kembali melangkah.

Masuk ke bagian chorus, Idgitaf menyampaikan inti lagu lewat kalimat, "Mungkin di depan buram, mungkin di depan seram". Bagian ini cukup mudah terasa relevan bagi banyak orang.

Masa depan sering kali memang terasa tidak pasti. Terlebih ketika berbagai tuntutan hidup datang bersamaan tanpa kepastian arah yang jelas.

Ada dorongan untuk segera mengetahui hasil akhirnya, namun pada kenyataannya tidak semua hal bisa dipercepat.

Di tengah kondisi tersebut, lagu ini tetap memberikan ruang harapan. Ada rasa aman yang muncul meskipun situasi masih terasa belum jelas.

Lagu ini juga menggambarkan dua orang yang sama-sama berada dalam kondisi rapuh, lalu bertemu di situasi yang sulit. Keduanya mencoba bertahan dan saling menguatkan.

Hal ini mencerminkan dinamika hubungan yang kerap terjadi dalam kehidupan nyata. Kedekatan tidak selalu lahir dari keadaan yang baik, tetapi juga dari proses saling menjaga di masa sulit.

Di bagian akhir, lagu ini ditutup dengan kalimat, "Ku selamatkanmu, kau selamatkanku". Penutup ini menjadi inti dari pesan yang dibangun sepanjang lagu.

Hubungan yang sehat tidak selalu ditandai dengan satu pihak yang terus menyelamatkan pihak lain. Sering kali, yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk saling bertahan di tengah ketidakpastian.

Secara keseluruhan, "Mungkin di Depan Buram" bukan sekadar lagu tentang kecemasan menghadapi masa dewasa. Idgitaf mengemasnya menjadi karya yang tenang, reflektif, dan mudah dipahami.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda