Ulasan
Membaca Patiwangi: Merenungi Suara Perempuan Bali Lewat Goresan Puisi Oka Rusmini
Cover bagi saya adalah salah satu pintu pertama yang tertarik pada sebuah buku. Oleh karena itu, ketika mengetahui Patiwangi karya Oka Rusmini hadir dengan wajah baru, saya sengaja menjelajahi lorong panjang perpustakaan untuk mencarinya. Kata Patiwangi sebenarnya bukan hal yang asing bagi saya karena pernah saya temui ketika membaca Tarian Bumi.
Sinopsis
Patiwangi merupakan kumpulan 113 puisi yang terbagi menjadi tiga bagian: Potret, Upacara, dan Puisi-puisinya ditulis dalam rentang waktu yang cukup panjang, sehingga buku ini seperti mencatat perjalanan pemikiran Oka Rusmini tentang perempuan dan Kebudayaan Bali. Ada satu benang merah yang terus muncul, yaitu hubungan perempuan dengan tubuhnya sendiri serta berbagai tuntutan yang datang dari luar dirinya.
Rahim, kehamilan, menjadi ibu, perkawinan, adat, laki-laki, keluarga, bahkan tanah dan alam berkali-kali hadir sebagai bagian dari percakapan. Namun Oka tidak menampilkan perempuan hanya sebagai sosok yang lembut dan menerima keadaan. Justru sebaliknya, suara perempuan dalam puisi-puisinya sering kali gelisah, marah, menolak, bahkan ingin merebut kembali kendali atas dirinya sendiri.
Hal yang paling kuat bagi saya adalah keberanian Oka membicarakan rahim dan tubuh perempuan tanpa romantisasi . Selama ini kehamilan dan menjadi ibu sering ditempatkan sebagai sesuatu yang selalu indah dan mulia, seolah-olah perempuan harus menerima semuanya dengan ikhlas. Dalam Patiwangi, pandangan semacam itu justru digugat.
Tubuh perempuan digambarkan sebagai tempat berlangsungnya pengalaman yang tidak selalu manis: ada kehamilan, tuntutan melahirkan, rasa sakit, kewajiban menjadi ibu, hingga tekanan untuk menghasilkan keturunan tertentu. Rahim bahkan tidak hanya menjadi milik perempuan karena keluarga, masyarakat, bahkan negara dapat merasa mempunyai kepentingan terhadapnya. Dari akhir puisi-puisi Oka terasa seperti suara seseorang yang sedang berusaha berkata bahwa tubuh perempuan bukan ruang publik yang boleh diatur seenaknya.
Menariknya perlawanan dalam buku ini tidak selalu disampaikan melalui cerita yang gamblang. Oka menggunakan simbol, metafora, tubuh, alam, tanah, darah, dan rahim untuk membangun suasana yang terkadang terasa ganjil tetapi menyimpan kemarahan. Dalam beberapa puisi, perempuan berusaha melepaskan diri dari posisi sebagai objek dan menegaskan bahwa dirinya memiliki kemauan. Keinginan untuk menentukan apa yang boleh menyentuh tubuhnya, apa yang ingin dilakukan, bahkan siapa dirinya, menjadi bentuk perjuangan yang terus berulang.
Oleh karena itu, saya melihat Patiwangi bukan sekadar kumpulan puisi tentang perempuan Bali, melainkan percakapan tentang otoritas diri . Perempuan yang selama ini didefinisikan melalui peran sebagai anak, istri, atau ibu perlahan berusaha mengatakan: saya juga mempunyai hak untuk menentukan siapa diri saya.
Judul Patiwangi sendiri semakin terasa penting setelah memahami latar budaya yang melingkupinya. Dalam bahan yang saya baca, Patiwangi dijelaskan sebagai ritual yang berkaitan dengan perempuan bangsawan yang menikah dengan laki-laki dari kasta lebih rendah, dengan tujuan perubahan atau penyamaan status. Ada sejarah panjang mengenai bagaimana tubuh dan kedudukan perempuan dapat bersentuhan dengan aturan wangsa, keluarga, serta adat.
Kekuatan lain buku ini terletak pada keberanian Oka Rusmini mempertahankan latar Bali sebagai bagian penting dari puisinya. Adat, alam, tubuh, keluarga, dan persoalan perempuan tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi saling berkelindan. Saya juga menyukai bagaimana puisinya tidak berusaha membuat pengalaman perempuan selalu terlihat cantik. Ada kepahitan yang sengaja dibiarkan terasa, sebab justru dari sanalah kritiknya berhasil.
Oka seperti ingin menunjukkan bahwa menjadi perempuan bukan hanya tentang menerima kodrat, melahirkan, merawat anak, atau menjaga keluarga, tetapi juga tentang memiliki suara atas kehidupan sendiri. Gagasan tersebut sejalan dengan ciri karya Oka yang sering menghadirkan perempuan sebagai sosok yang kuat, gelisah, mandiri, bahkan berani memberontak terhadap keadaan yang membelenggunya.
Meski begitu, Patiwangi bukanlah buku yang mudah saya nikmati dengan sekali duduk. Karena saya sendiri tidak terlalu terbiasa menikmati puisi, kali ini saya lebih banyak membaca dengan cara scanning dan skimming, terutama untuk menangkap tema besar dan bagian-bagian yang paling menarik perhatian saya. Jumlah puisinya yang cukup banyak, ditambah simbol dan diksi yang terasa sangat personal, membuat saya tidak selalu berhenti untuk mengurai makna setiap puisi secara mendalam. Ada pula beberapa bagian yang menurut saya terasa berulang, baik dari segi tema maupun penggunaan kata-kata tertentu.
Namun, dari pembacaan tersebut saya tetap menangkap bahwa kepahitan di Patiwangi bukan sekadar keluhan. Oka Rusmini sedang menganalisis siapa yang berhak mengatur tubuh perempuan, siapa yang menentukan peran seorang ibu, dan sampai sejauh mana adat boleh memasuki kehidupan seseorang. Pada akhirnya, Patiwangi bagi saya bukan tentang perempuan yang mati karena kehilangan “keharumannya”, tetapi tentang perempuan yang berusaha lahir kembali sebagai manusia yang memiliki suara atas tubuh dan hidupnya sendiri.
Bonus Perbandingan Cover

Menurut saya, pembaruan cover Patiwangi ini bukan sekadar membuat buku terlihat lebih cantik, tetapi juga menjadi cara untuk memperkenalkan kembali karya lama kepada generasi muda . Banyak novel dan karya sastra lama sebenarnya memiliki cerita serta gagasan yang luar biasa, namun sayangnya kurang dilirik karena tampilannya sudah terasa ketinggalan zaman. Patiwangi menjadi salah satu contoh bahwa karya lama bisa mendapatkan wajah baru tanpa kehilangan identitasnya.
Saya berharap pembaruan seperti ini tidak berhenti di Patiwangi saja. Semoga semakin banyak novel-novel lama yang memiliki isi kuat mendapatkan desain sampul yang lebih segar, menarik, dan relevan dengan selera pembaca masa kini , sehingga karya-karya bagus dari masa lalu tidak berhenti di rak buku, tetapi kembali menemukan pembacanya dari generasi yang baru.