Bimo Aria Fundrika | Tika Maya Sari
ilustrasi cerpen Lelaki yang Duduk di Tepian Dipan (Unsplash/@felirbe)
Tika Maya Sari

Dia mengawasiku, menungguiku, bahkan duduk di tepian dipan baik ketika aku terjaga, atau terlelap.

Fasadnya nihil, tetapi eksistensinya hadir.

Kisah ini adalah pengalaman pribadiku beberapa tahun ke belakang. Titik baliknya dimulai ketika Bapak membeli dipan kayu, dari seorang penjual keliling pada tahun 2006.

Di kampungku, masih lazim ditemui penjual dipan kayu keliling, kerei atau tirai kayu yang bisa digulung, hingga lincak atau kursi kayu panjang.

Jadilah, Bapak membeli dua dipan kayu yang konon terbuat dari kayu jati berpelitur apik, dengan negosiasi harga alot. Padahal aslinya, dipan itu nggak betul-betul murni kayu jati, melainkan ada tambahan jenis kayu lainnya.

“Wes, siap! Dipan baru!” sambut Bapak. “Yang ini taruh di kamarmu ya.”

Aku manut saja. Kuamati dipan kayu berpelitur gelap itu tanpa curiga. Pun saat tidur di kasur di atasnya, baik siang ataupun malam. Biasa.

Nggak ada apa-apa. Hingga keanehan mulai muncul di tahun berikutnya, atau beberapa bulan setelah pembelian dipan tersebut.

“Buk, kalau duduk di amben (dipan) sini kok kayak ada orang lain yang duduk juga ya?” tanyaku suatu hari pada Ibu, ketika kami melipat pakaian kering.

Ibu menoleh. “Masa sih?”

“Iya. Bahkan sampai ada bunyi kretek-nya.”

Tadinya, kami abai dan berpikir mungkin karena kualitas kayu yang oplosan. Jadi barangkali bagian dalamnya diserang rayap sehingga kondisi kayu yang rapuh. Atau mungkin hanya sekadar imajinasi kami yang doyan menonton film horor.

Namun, fenomena itu nyata.

Sejak aku berterus terang pada ibu, ‘dia’ seakan mencoba menghadirkan eksistensinya.

Setiap kali aku duduk entah melipat baju, berbaring, atau sekadar belajar sambil rebahan, selalu ada bunyi kretek yang menandakan bahwa ada orang yang duduk disana. Dipan bahkan ikutan berderak, dan ada jejak lengkung di kasur. Semula, fenomena itu terjadi menjelang maghrib atau malam hari. Namun, lama-kelamaan hal itu menjadi lumrah di siang hari.

“Ah, cucian banyak sekali!” komentar Ibu suatu siang, saat kami melipati pakaian yang kering.

“Kalau kata Bapak, jangan beli banyak baju, Buk,” kataku.

Ibu nyengir. “Begitulah manusia. Dikasih mendung dan hujan mengeluh cucian nggak kering. Dikasih panas masih mengeluh cucian banyak sekali.”

Aku tertawa. Dan kami lanjut melipati baju. Hingga eksistensi ‘dia’ hadir. Ada suara kretek dari dipan yang menandakan ada seseorang yang duduk, dipan ikut bergerak, dan tepian kasur melengkung. Betul-betul seperti ada orang lain selain kami yang ikut duduk disini.

“Dulu awal-awal beli dipan, kayaknya nggak ada begituan,” kata Ibu lagi. “Masa demit siang-siang sudah nongol?”

Aku tertawa. “Iya betul. ‘Dia’ makin sering muncul.”

Mungkin saking seringnya ‘dia’ hadir, kami nggak takut lagi. Walau di awal-awal cukup merinding, lama-lama jadi biasa. Terserah. Asal jangan ganggu sudah nggak masalah.

Tadinya kupikir begitu, sampai satu kejadian betulan bikin aku ngeri.

Di suatu hari saat bocah ini sakit demam. Siang hari selepas menelan obat pahit, aku tiduran di kamar. Bapak dan Ibu sepertinya sedang menyapu halaman belakang, dan adikku entah sibuk apa dengan sepeda dan miniatur truk kecilnya.

Aku terjaga. Berbalut selimut berlapis. Dan dengan sengaja menyembunyikan kepala di dalam selimut. Mirip trenggiling. Lalu, kurasakan kehadiran ‘dia’ yang duduk di tepian dipan. Kretek… begitu dipan bersuara, dan sedikit bergerak. Menandakan ‘dia’ telah duduk.

Entah dorongan dari mana, otak menyuruhku untuk mengintip ‘dia’. Jadilah, aku mengintip dari salah satu selimut tipis, dan yah… aku melihatnya.

Sesosok lelaki berperawakan tinggi tegap ada di sana. Rambutnya berpotongan rapi, rahangnya kokoh, dengan kulit sawo matang pucat. Dan kamu tahu apa yang paling salah?

Dia menatapku yang berbalut bagai kepompong, dengan ekspresi datar.

Damn!

Kusembulkan kepalaku dari dalam selimut, dan tidak ada siapapun di dalam kamar ini. Bapak dan Ibu masih terdengar menyapu halaman belakang, dan adik masih dengan miniatur truk yang diberi muatan pasir atau apalah itu. Aku betulan sendiri.

Kembali kututup wajahku dengan selimut, dan ‘dia’ masih disana. Duduk diam sambil memandangi kepompong demam disini.

Dia mengawasiku, menungguku, bahkan duduk di tepian dipan sepanjang waktu. Fasadnya nihil, tetapi eksistensinya hadir. 

Aku takut. Kupejamkan mataku rapat-rapat. Berharap 'dia' pergi atau menghilang. Hingga kurasakan langkah tergopoh-gopoh Ibu dan masuk ke dalam kamar.

“Oh, demamnya sudah turun,” gumam Ibu. Kurasakan tangannya menyentuh dahiku. “Kamu nggak mau makan dulu toh?”

“Buk, tadi aku lihat ‘dia’” tembakku langsung. “Entah apa yang hobi duduk disini itu, wujudnya laki-laki tinggi. Kalau manusia, mungkin dia cakep.”

“Heh, anak kecil ngomong apa sih? Ngelantur.”

Haha. Apa mungkin itu efek demam? Tapi mustahil. Bahkan setelahnya, aku masih sering merasakan ‘dia’ duduk di tepian dipan kayu. Hingga dipan itu patah dan hancur diserang rayap. Dan Bapak terpaksa membeli dipan baru karena fasadnya hancur total.

Sejak saat itu, aku nggak pernah lagi merasakan ada orang lain yang duduk di tepian dipan. Pun sepasang mata yang menatapku datar di sebalik selimut. Eksistensinya seakan hilang. Lenyap bersama puing-puing dipan lama yang dijadikan kayu bakar oleh Ibu.

Namun, sampai sekarang aku masih mengingat sosoknya. Dan ekspresi datarnya hari itu.

Betul-betul....ah entahlah...