Seperti yang kita ketahui bersama, Gerakan Pramuka menjadi satu-satunya Gerakan kepanduan yang diakui dan disahkan oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Melalui Keputusan Presiden nomor 238 tahun 1961, Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno memutuskan untuk melebur berbagai Gerakan kepanduan yang tumbuh di Indonesia kala itu, menjadi sebuah Gerakan kepanduan resmi dalam sebuah wadah atau organisasi yang bernama Pramuka.
Tahun 2010, Presiden Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, melakukan program revitalisasi Gerakan Pramuka dengan mengeluarkan Undang-undang nomor 12 tahun 2010.
Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka ini mengatur aspek pendidikan kepramukaan, kelembagaan, tugas dan wewenang Pemerintah dan pemerintah daerah, hak dan kewajiban para pemangku kepentingan, serta aspek keuangan gerakan Pramuka.
Sebagai Gerakan kepanduan resmi di Indonesia, Gerakan Pramuka sejatinya bisa menjadi alternatif utama bagi kita untuk menumbuhkan jiwa dan kecerdasan “Sesosif” pada anak di masa pandemi ini yang dipastikan tak berkembang maksimal karena berbagai keterbatasan.
Perlu digarisbawahi, dengan Metode Kepramukaan yang salah satu isinya adalah menekankan untuk belajar di alam terbuka, membuat Gerakan Pramuka menjadi salah satu pionir dalam pengadaan kegiatan yang tak dibatasi ruangan seperti yang kerap kali terjadi dalam dunia pendidikan di negeri ini.
Jad,i akan sangat mungkin dengan pemanfaatan alam terbuka (dan tentunya dengan protokol Kesehatan yang ketat), kegiatan-kegiatan dalam kepramukaan ini dapat dikembangkan untuk melatih anak-anak menumbuhkan lima kecerdasan yang biasa disingkat menjadi Sesosif dalam Gerakan Pramuka ini.
Tujuan utama Gerakan Pramuka adalah menciptakan manusia Indonesia yang memiliki 3K, yakni Kebangsaan (nasionalisme), Karakter (memiliki karakter kuat) dan juga Keterampilan (memiliki skill), namun jangan lupa, dalam pencapaian tujuan 3K tersebut, para pandu-pandu muda Indonesia harus pula memiliki kecerdasan Sesosif yang merupakan akronim dari Spiritual, Emosional, Sosial, Intelektual dan juga Fisik.
Dengan lima kompetensi utama tersebut tertanam pada diri para pandu Indonesia, akan sangat mungkin masa depan Indonesia akan lebih cerah, dan berada di generasi yang tepat.
Di masa pandemi yang semuanya serba terbatas ini, menggalakkan Gerakan Pramuka sebagai selingan belajar siswa anak-anak yang monoton dan terbatas, tentu menjadi salah satu pilihan yang patut untuk dipertimbangkan, mengingat kurang efektifnya pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa.
Namun, tentu saja dengan satu catatan penting, harus disertai dengan protokol Kesehatan yang tepat untuk setiap kegiatan kepramukaan yang dijalani.
Coba bayangkan, bagaimana jadinya masa depan negeri ini ketika generasi mudanya memiliki jiwa Spiritual, Emosional, Sosial, Intelektual dan Fisik yang mumpuni? Tentu ke depannya akan membawa kembali kejayaan negeri ini. Dan hal tersebut, hanya bisa ditumbuhkan dengan Gerakan Pramuka. Mari bergabung di Gerakan Pramuka!
Baca Juga
-
'Oleh-Oleh' Presiden Prabowo dari Luar Negeri: Antara Visi Visioner dan Mimpi Buruk Guru di Sekolah
-
Surga Jalur WNI Itu Memang Nyata, Kali Ini Lewat Sapi-Sapi Kurban Presiden
-
Pasar Padukuhan Eyang Putri, Sentra Kuliner yang Seolah Melawan Arus Modernitas Kabupaten Tuban
-
Penolakan LCC Ulang oleh SMAN 1 Pontianak dan Versi Lite Pemberontakan Kaum Pintar
-
Gulir Panas LCC 4 Pilar MPR RI Kalbar: Memandang Wajah Indonesia dalam Satu Ruangan
Artikel Terkait
-
Tiga Tahap Ini Harus Dilalui Dalam Proses Mengasah Sikap Empati Pada Anak
-
VKTR dan UNS Tandatangani Nota Kesepahaman, Unit Usaha Bakrie Bangun Puslitbang Baterai Kendaraan Listrik
-
Edy Rahmayadi Sebut Pramuka Bukan Organisasi Main-main
-
Menag Yaqut Akan Laporkan Sendiri ke Pihak Wajib Jika Anak Buahnya Terbukti Menyelewengkan Dana BOP Pesantren
-
Profil Megawati Soekarnoputri: Biodata, Riwayat Pendidikan, Karier Politik
Kolom
-
Sains di Balik Jatuh Cinta: Kenapa Otak Kita Mendadak Jadi "Gila"?
-
Alternatif Bubble Wrap, Bisakah Honeycomb Paper Wrap Menyelamatkan Masa Depan Belanja Online?
-
Meromantisasi Sabar Tanpa Batas Adalah Cara Halus Membuat Ibu Depresi
-
Retail Therapy dan Sampah yang Tak Terlihat di Balik Kebiasaan Checkout
-
TikTok Made Me Buy It: Saat Budaya Konsumtif dan FOMO Berkolaborasi
Terkini
-
Gara-gara Bastian Steel, Kita Sadar Gombalan Bocah 2010-an Itu Sangat Genius
-
Habis 5 Jam di Cafe Catarina: Tempat Reuni yang Bikin Lupa Waktu Sekaligus Ramah Kantong!
-
Bahagia Tak Perlu Menunggu: Pelajaran dari Seni Membahagiakan Diri Sendiri
-
Review Leadership Mastery: Apakah Buku Ini Layak Jadi Kitab Wajib Para Pemimpin Masa Kini?
-
Merangkai Harapan dari Manik-Manik: Cerita Hangat dari Anak-Anak Legok Jambi