Memanusiakan guru demi kemajuan bangsa. Indonesia harusnya belajar dari Vietnam. Ya, negara berjuluk Tanah Naga Biru tersebut berhasil menjadi negara ke-dua di Asia Tenggara dengan tingkat pendidikan terbaik.
Melansir kanal YouTube @Sepulang Sekolah, pendidikan di Vietnam bahkan berhasil mengungguli beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat. Nggak cuma itu, kendati Vietnam bukan negara kaya seperti Amerika dan Eropa, pendidikan mereka terbilang bisa sangat maju.
Alih-alih terus mengganti kurikulum pendidikannya, Vietnam memilih untuk memperhatikan kesejahteraan guru agar bisa lebih baik dalam mengajar. Hal ini diwujudkan dengan para guru yang dibebaskan dalam menggunakan metode mengajar asalkan para murid bisa paham dengan materi yang diajarkan.
Lalu sebagai indikator, negara ini menyiapkan apresiasi khusus bagi para guru yang berhasil mengajar dengan baik, yang dilihat dari hasil tes para muridnya. Sehingga hal ini bisa meningkatkan motivasi bagi para guru untuk terus menampilkan performa maksimal dalam bekerja.
Kemudian alih-alih menerapkan sistem zonasi, negara ini berusaha memberikan pengajar terbaik bagi seluruh siswa di seluruh daerah. Sehingga tidak ada perbedaan kualitas pengajar dan fasilitas antara di desa dan di kota.
Untuk mewujudkan hal ini, para guru diberi pelatihan khusus secara gratis untuk meningkatkan SDM. Kemudian bagi guru yang bersedia mengajar di daerah terpencil, mereka akan mendapat gaji yang lebih banyak. Setiap daerah juga diwajibkan menggunakan menggunakan anggaran mereka untuk pendidikan.
Beberapa uraian di atas menunjukkan kalau solusi yang diterapkan Indonesia untuk bidang pendidikan masih belum tepat. Hal ini bisa dilihat dari kualitas pendidikan kita yang belum menunjukkan peningkatan signifikan.
Kericuhan akibat sistem zonasi masih terjadi di berbagai daerah, banyak murid dan orang tua yang mengeluh karena tugas sekolah yang tidak masuk akal, dan kesejahteraan guru yang masih bikin mengelus dada.
Rendahnya kesejahteraan guru, terlebih di daerah, membuat banyak guru yang kurang motivasi untuk memberikan pengajaran terbaik. Belum lagi bila ditambah SDM yang kurang memadai, sehingga murid-murid semakin kurang mendapatkan pengajaran yang seharusnya.
Rendahnya apresiasi juga membuat guru seperti 'ditumbalkan' agar mau pergi ke daerah. Tempat tidak nyaman, belum lagi nggak ada duitnya. Miris sekali.
Masalah gaji yang sepadan dengan beban kerja memang masih menjadi masalah di negeri ini terlebih bagi guru, terutama bagi honorer dan menjadi pengajar di pelosok. Orang yang seharusnya dimuliakan karena berjasa penting bagi negara justru terus dikesampingkan selama bertahun-tahun.
Padahal, anak-anak di pinggiran kota dan di pelosok juga butuh pendidikan. Guru-gurunya pun butuh makan dan hidup. Namun semua ini belum difasilitasi oleh pemerintah.
Sehingga kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara si kaya dan si miskin dalam hal pendidikan. Si kaya mendapat pendidikan terbaik, sementara si miskin sebaliknya. Pemerataan pendidikan juga masih menjadi PR besar bagi pemerintah.
Belum lagi masalah pendidikan yang mahal membuat gap kesenjangan ini semakin menganga. Tak heran bila banyak yang kurang sadar akan pentingnya pendidikan dan membuat semakin banyak masyarakat yang enggan untuk sekolah dan kuliah.
Hal ini tentu berbeda dengan Vietnam. Di mana tidak hanya sekolah dan guru yang memadai, tapi para orang tua juga sadar dan mendukung agar anaknya berpendidikan tinggi.
Sekali lagi ini masih menjadi PR besar bagi era Prabowo setelah di era Jokowi sebelumnya begitu banyak perubahan di sistem pendidikan kita, tapi masih menimbulkan banyak protes dan kurang berdampak positif yang signifikan.
Baca Juga
-
Tak Hanya Sesama Teman, Saat Guru dan Dosen Juga Jadi Pelaku Bully
-
Kisah Relawan Kebersihan di Pesisir Pantai Lombok
-
Viral Tumbler KAI: Bahaya Curhat di Medsos Bagi Karier Diri dan Orang Lain
-
Ricuh Suporter Bola hingga War Kpopers, Saat Hobi Tak Lagi Terasa Nyaman
-
Budaya Titip Absen: PR Besar Guru Bagi Pendidikan Bangsa
Artikel Terkait
-
Apa Itu Cognitive Science? Keahlihan Prof Stella Christie yang Digadang Masuk Kabinet Prabowo
-
Menyambut Prabowo, Melepas Jokowi: Menggugat Janji Keadilan yang Terabaikan
-
Ketimbang Grace Natalie, Koalisi Perempuan Lebih Setuju Veronica Tan jadi Menteri PPPA, Apa Alasannya?
-
Dear Prabowo, Lindungi Konsumen yang Nonton Konser dari Promotor Nakal
-
Jejak Hitam Raffi Ahmad yang Kini Masuk Bursa Wamen Kabinet Prabowo, Pernah Diciduk BNN
Kolom
-
Kriminalisasi Rasa Tersinggung: Mengadili Komedi 'Mens Rea' Pandji Pragiwaksono
-
Internalized Misogyny: Ketika Perempuan Justru Melestarikan Ketimpangan
-
Menguliti Narasi 'Kuliah Itu Scam': Apa Gelar Masih Menjadi Senjata Utama?
-
Belajar Bahasa Asing Itu Bukan Cuma soal Grammar, tapi soal Rasa
-
Kawasan Tanpa Rokok, Tapi Mengapa Asap Masih Bebas Berkeliaran?
Terkini
-
4 Sunscreen Lokal Kandungan Calendula, Rahasia Kulit Sehat Bebas Iritasi
-
Buku Tuhan, Maafkan Masa Laluku: Teguran Keras untuk Kita yang Lalai
-
Wardatina Mawa Tolak Damai, Kasus Dugaan Zina Inara Rusli Masuk Penyidikan
-
Fenomena Trust Issue Gen Z: Mengapa Mereka Tak Lagi Percaya Institusi Formal?
-
7 Mitos Salah Perawatan Sepatu yang Bikin Cepat Rusak, Kamu Masih Percaya?