Kalau hari ini kamu tanya, “Makanan terenak yang pernah kamu makan itu apa?” Aku mungkin nggak akan jawab rendang, wagyu, atau bahkan salmon mentai. Aku akan jawab, nasi putih hangat, tempe goreng, ikan asin, dan sambal yang disajikan di atas satu nampan besar, dimakan rame-rame bareng teman-teman pesantren. Sederhana? Iya. Tapi justru di sanalah rasa itu jadi tak tergantikan.
Sebagai santri, hidupku dulu jauh dari kata “privasi.” Bukan cuma kamar tidur yang berbagi, tapi bahkan makan pun dilakukan bersama. Di pesantrenku, budaya makan senampan itu hal yang biasa. Satu nampan buat berempat atau berlima. Nggak ada sendok. Makan pakai tangan, duduk melingkar di atas tikar. Semua mulai dengan doa, dan berakhir dengan... biasanya rebutan sambal terakhir, haha.
Tapi jangan salah sangka. Ini bukan sekadar soal hemat tempat atau tradisi yang sekilas tampak “kuno.” Di balik senampan itu, ada banyak hal yang diajarkan tanpa perlu ceramah panjang. Tentang kebersamaan. Tentang bagaimana rasanya makan sambil menunggu giliran ambil lauk karena takut kebagian paling akhir. Tentang bagaimana kita belajar untuk saling berbagi, bahkan ketika tempe cuma tinggal sepotong.
Kami masak sendiri. Setiap santri punya tugas masing-masing, mulai dari ngiris bawang, nyuci beras, hingga nguleg sambal. Semua dilakukan bareng. Tapi di situlah kami belajar tanggung jawab dan kerja keras.
Lucunya, justru makanan yang “nggak seberapa” itu jadi yang paling aku rindukan setelah keluar dari pesantren. Rasanya beda. Bahkan ketika aku coba masak menu yang sama di rumah—nasi, tempe, sambal, ikan asin—rasanya nggak pernah benar-benar bisa sama. Mungkin karena yang bikin enak itu bukan bumbunya, tapi suasana dan orang-orangnya.
Sayangnya sekarang, banyak pesantren mulai berubah. Ada yang fasilitasnya lebih lengkap dari kos mahasiswa, seperti air panas, AC, bahkan katering dengan menu berganti tiap hari. Bukan berarti itu buruk, kenyamanan itu memang penting.
Tapi entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang mulai terkikis. Budaya gotong royong, kemandirian, dan rasa syukur lewat hal-hal kecil seperti makan senampan... pelan-pelan jadi asing.
Di saat orang-orang sibuk dengan “milikku” dan “hakku,” kami dulu tumbuh dengan paham bahwa “kita” itu lebih penting. Bahwa rasa kenyang itu lebih nikmat kalau dirasakan bareng-bareng. Bahkan, ketika makanannya sangat sederhana, seperti potongan tempe goreng yang dibagi lima.
Aku pernah baca hasil riset dari sebuah jurnal psikologi sosial yang bilang kalau makan bersama bisa memperkuat rasa empati dan solidaritas. Nggak heran sih. Karena saat makan bareng, kamu nggak cuma berbagi makanan, tapi juga cerita.
Di antara suapan dan tawa, seringkali muncul obrolan-obrolan yang bikin kita lebih dekat. Kadang soal hafalan Al-Qur’an yang belum lancar, kadang curhat tentang ustadz yang killer, dan kadang ya... soal siapa yang diem-diem naksir santri dari asrama sebelah.
Makanan, dalam bentuknya yang paling sederhana sekalipun, bisa jadi simbol kasih. Bukan hanya kasih ibu yang ngantar bekal ke sekolah, tapi juga kasih teman yang rela bagi setengah bagian tempe karena tahu kamu belum makan. Atau kasih seorang kakak kelas yang diam-diam sisain sambal buat adik kelasnya yang telat datang. Semua hal kecil itu nggak pernah diumumkan, tapi terasa dan membekas.
Mungkin itu sebabnya makanan selalu punya hubungan kuat dengan kenangan. Ada rasa di lidah, tapi juga ada rasa di hati. Dan ketika aku ingat masa-masa makan senampan itu, aku sadar bahwa yang paling kurindukan bukan cuma menunya, tapi pelajaran yang datang bersamanya.
Aku juga menyadari bahwa kasih itu nggak selalu datang dalam bentuk kata-kata manis. Kadang, ia datang diam-diam, dalam senyap... lewat senampan nasi dan sedikit sambal.
Baca Juga
-
Perry Warjiyo Mundur: Jangan Sampai Bos Baru BI Mudah Disetir Politisi!
-
Rumah Bocor Malah Usir Pemiliknya: Sengkarut Narasi 'Pindah Negara'
-
Anggaran Perpusnas Dipangkas Separuh, Perut Dikenyangkan Otak Dibiarkan
-
Heboh Sensus Ekonomi 2026: Ditanya soal Gaji, Warga Parno Naik Pajak?
-
Dari Pahlawan Teknologi Jadi Terdakwa: Akhir Getir Perjalanan Nadiem
Artikel Terkait
-
Semangkuk Soto Ayam: Bahasa Cinta Ibu yang Selalu Menyambutku
-
Dari Dapur Bibi ke Dapur Ibu: Seporsi Nasi 3T dan Rindu yang Tak Selesai
-
Seporsi Nasi Goreng Kampung: Sarapan yang Mengobati Homesick dari Dapur ibu
-
Sop Iga Sapi Warisan Mama, Pelajaran Kasih dalam Semangkuk Kuah Hangat
-
Ayam Serundeng dan Kakek: Rasa Tak Mati di Kuali Merah Putih
Kolom
-
Desil 10 dan Fakta yang Berbeda: Ketika Data Pemerintah Dipertanyakan Warga
-
Hierarki dalam Selera Buku: Mengapa Bacaan Ringan Kerap Dipandang Rendah?
-
Menimbang Operasional Koperasi: Cukup dengan Modal vs Model Bisnis Matang
-
Dari Tiang Bambu hingga Merah Putih, Kisah Kecil di Balik Momen Kemerdekaan
-
Dua Pria di Satu Atap: Mengurai Jarak dan Gengsi Antara Anak dan Ayah
Terkini
-
5 Sunscreen Korea SPF 50 untuk Base Makeup Harian, Bebas Efek Abu-Abu!
-
Ulasan Drama Key To The Phoenix Heart: Penuh Intrik dan Konflik Kekuasaan
-
Masjid Agung An-Nur Pare, Bangunan Modern yang Kental dengan Arsitektur Jawa
-
Pulang dan Kisah Eksil yang Tak Pernah Benar-Benar Selesai
-
Review Coin Locker Babies: Dari Pengabaian Masa Kecil hingga Teror Kehancuran